Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Murah, Beli?

Inilah penjualan saham terpanas pada tahun ini. Pemerintah akan melepas 10 persen (dua miliar lembar) sahamnya di Bank Mandiri dengan kemungkinan ada tambahan lima persen (satu miliar) lagi. Target pemerintah tak muluk-muluk. Saham bank terbesar di Indonesia ini dilepas hanya dengan harga 0,9-1,1 nilai bukunya atau Rp 569-695 per lembar saham. Sangat murah untuk ukuran bank yang memiliki dana pihak ketiga hampir Rp 190 triliun. Bandingkan dengan harga saham Bank Danamon (bank terbesar kelima) yang bisa mencapai 1,27 nilai buku. Transaksi penutupan (closing) Danamon dilakukan bulan lalu.

Tapi, apakah saham Mandiri akan laku? Analis BNI Securities, M. Fendi Susiyanto, mengatakan bahwa jika dilihat dari harganya, saham Mandiri jelas menarik. Investor punya peluang mendapat capital gain (keuntungan). ”Harganya sangat murah jika dibandingkan dengan saham perbankan lain di Bursa Jakarta,” kata Fendi. Pendapat yang sama diberikan Goei Siauw Hong. Menurut Hong, atmosfer Bursa Jakarta yang sedang bergairah (bullish) akan memberikan sentimen positif bagi Mandiri. Paling tidak, investor kini sedang memburu saham-saham yang dianggap bisa memberikan keuntungan besar.

Kendati demikian, Fendi memberikan dua catatan mengenai saham Bank Mandiri. Pertama, kata Fendi, soal pajak masih belum jelas. Sampai Jumat pekan lalu, soal ini masih belum jelas. Direktur Jenderal Pajak, Hadi Purnomo, mengatakan bahwa aparatnya sedang menghitung revaluasi aset Bank Mandiri. Jika kerugian yang dibawa empat bank pramerger (loss carry forward) bisa menutupi tunggakan pajaknya, Mandiri bisa mendapatkan pembebasan pajak. Namun Hadi menolak mengungkapkan berapa kerugian yang diderita Mandiri, sementara tunggakan pajaknya diperkirakan masih sekitar Rp 1,1 triliun. Hadi berjanji masalah tersebut bisa selesai pekan ini.

Faktor kedua yang bakal mempengaruhi kinerja saham Bank Mandiri adalah struktur kreditnya. Menurut Fendi, sekitar 80 persen kredit Bank Mandiri disalurkan ke korporasi. Struktur seperti itu dinilai berpotensi menimbulkan kredit seret (nonperforming loan/NPL). Sampai Maret lalu, kredit seret Mandiri masih 6,6 persen. ”Karena dua faktor itu, investor asing biasanya akan minta diskon karena saham Mandiri dianggap berisiko,” kata Fendi. Kalau ini terjadi, bukan tidak mungkin harga saham Mandiri akan lebih murah.

Karena itulah, Bank Mandiri memberikan opsi yang menarik buat nasabahnya yang bersedia membeli sahamnya. Dan Menteri Negara BUMN Laksamana sendiri tak malu-malu menjual saham Mandiri. ”Para undangan sekalian agar juga ikut membeli saham Bank Mandiri, karena akan memperoleh capital gain,” katanya kepada peserta Paparan Publik Bank Mandiri, Rabu pekan lalu.

SY


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data