Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Buku

Membela Pembela Agama Tuhan

Potret tentang gerakan Islam mutakhir di Indonesia yang ditulis oleh "orang dalam".

Membela Agama Tuhan: Potret Gerakan Islam dalam Pusaran Konflik Global
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Insist Press, Yogyakarta, Desember 2002
Tebal buku : xxxvi + 325 halaman

Buku ini menjelaskan duduk perkara gerakan Islam di Tanah Air di era pemerintah Abdurrahman Wahid. Sebagai "orang dalam", Eko Prasetyo, penulis buku ini, tidak segan-segan menjelaskan secara detail, termasuk mengapa kelompok ini berani mengambil risiko yang paling "membahayakan" bagi masyarakat, sehingga citra gerakannya pun terkesan "menakutkan".

Menurut Prasetyo, masyarakat Indonesia mesti paham bahwa politik yang berasas Islam hadir di tengah pergumulan keras dengan ideologi lain. Ada nasionalisme kultural Jawa, sosialisme Marxis yang menjelma menjadi komunisme, ada pula nasionalisme sekuler.

Kebangkitan gerakan ini, menurut Prasetyo, karena bangkitnya kesadaran keagamaan yang ditandai suburnya praktek ritual Islam dan ketaatan mencolok pada berbagai bentuk peribadatan. Ia juga mencatat, situasi krisis mengilhami keinginan menegakkan tatanan politik Islami yang berbeda tegas dengan tatanan yang ada. Maka ungkapan yang menggugah semangat sering didengungkan, seperti al-ba'ts al-islami (kebangkitan kembali Islam), al-syahwa al-islamiyyah (kebangkitan Islam), ihya al-din (kebangkitan agama), dan al-ushuliyya al-islamiyyah (fundamentalisme Islam).

Di luar itu, globalisasi sangat mempengaruhi dinamika gerakan Islam dalam mengukuhkan identitas. Konsep globalisasi banyak mengguncang keyakinan tentang Tuhan, sedangkan praktek globalisasi gagal menciptakan tatanan yang lebih adil untuk kalangan muslim.

Kombinasi faktor internal-eksternal ini masih diperkeruh oleh kondisi stabilitas politik yang terus bergolak di berbagai daerah Nusantara. Yang menarik, melalui kerusuhan itulah kemudian konsep jihad, yang selama ini menjadi lambang dan simbol utama pasukan Tuhan, mendapat penekanan. Jihad bukan semata-mata mengartikulasi kepentingan agama, melainkan juga mewakili sederet keinginan politik pragmatis.

Buku ini berusaha memperluas wacana kita tentang fundamentalisme Islam yang punya sejarah sendiri dalam setiap konteks, begitu juga dengan kelompok Laskar Jihad dan gerakan pembela agama Tuhan lain di mana pun. Selama ini penelitian terhadap gerakan Islam sering dilakukan oleh "orang luar" dan terkesan memojokkan. Buku ini ditulis oleh "orang dalam" tanpa pretensi menghakimi kalangan yang sering menyudutkan.

Kholilul Rohman Ahmad, Pustakawan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data