|
Tjamboek Berdoeri dan Sebuah Sejarah
Ada tragedi yang selalu bersembunyi di balik sejumlah peristiwa besar di negeri ini. Enyahnya otoritarianisme rezim Soeharto, Mei 1998, ditandai sebuah ritual klasik: pembakaran toko-toko, penjarahan, dan pemerkosaan masyarakat Tionghoa. Lima puluh dua tahun sebelum itu, di antara ingar-bingar revolusi dan ancaman kembalinya Belanda ke tanah Hindia ini, terjadi ritual berdarah yang luput dari perhatian sejarah. Malang 1946 adalah sebuah ladang pembantaian, penjarahan, dan pemerkosaan masyarakat Tionghoa yang dicurigai anti-revolusi, berdiri di kubu Belanda. Tak ada yang mencatat dengan baik kecuali sebuah buku kecil berjudul Indonesia dalam Api dan Bara, yang pengarangnya menggunakan nama samaran Tjamboek Berdoeri. Kali ini TEMPO menyajikan kisah tentang si pengarang misterius, buku, dan peristiwa kelam itu sendiri.
|
|
Perburuan Sepanjang Lima Windu
Untuk menyibak identitas si Tjamboek Berdoeri, Ben Anderson dan kawan-kawan menyusuri Kota Malang, sejumlah tokoh senior, dan koran tua.
|
|
Vivere Pericoloso di Malang
"... seliwat tanggal 21 Juli, keada'an menjadi semakin heibat. Seloeroeh Kajoetangan dirampok habis-habisan…. Gedung Rex Bioscoop, di loteng siapa ada ditempatkan kantoor dari Chung Hua Chung Hui, toeroet ambrek, tjoema ketinggalan tembok-temboknja sadja jang masih berdiri…. Hotel Repoeblik, jang berada di satoe derekan, semoea moesna kena diboemi hangoes…."
|
|
Rasa Humor yang Tak Kunjung Mati
Tulisannya memikat, tajam, berpandangan luas, tapi tak pernah kehilangan selera humor. Si Tjamboek memang pribadi yang suka guyon dan usil.
|
|
Kesaksian dari Tiga Zaman Kelam
Sungguh banyak waktu, tenaga, ketekunan, keuletan, dan ketajaman analisis yang telah dikerahkan untuk menyibak teka-teki ini. Begitu banyak kegelisahan, ketegangan, kekecewaan, dan kegembiraan yang telah dilalui sekadar untuk memastikan identitas penulis yang memakai nama samaran Tjamboek Berdoeri dengan kisahnya yang unik: Indonesia dalam Api dan Bara. Itu semua memang tidak sia-sia.
|
|