Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 14/XXXII/02 - 8 Juni 2003
   
Indonesiana

Pelajaran buat Anggota Dewan

MENJADI anggota dewan perwakilan rakyat daerah tak berarti leluasa pergi ke mana saja tanpa halangan. Sejumlah anggota DPRD Jember, Jawa Timur, sudah kena batunya. Ini terjadi Selasa dua pekan silam saat mereka berkunjung ke lokasi wisata Bandealit, di ujung selatan Taman Nasional Meru Betiri, sekitar 50 kilometer dari Kota Jember. Tiba-tiba rombongan anggota dewan dihadang belasan pejabat Desa Andongrejo. Tatapan dan raut muka mereka tak bersahabat. "Ini rombongan DPRD Jember, ya? Ayo turun," seru Asmu'i, 30 tahun, salah satu pejabat desa.

Setelah turun dari mobil, mereka langsung digiring ke pendapa desa. Rombongan anggota dewan cuma manut. Bambang, 45 tahun, dari Pemuda Pancasila, yang mengawal, pun tak bisa berkutik. Kenapa pejabat desa main cegat? Rupanya mereka tersinggung karena rombongan itu datang tanpa
kulanuwun. "Jelek-jelek begini, saya ini anggota DPR juga meskipun D-nya kecil, kursinya juga tidak empuk. Kok, sampeyan enak saja lewat desa ini tanpa izin," kata Asmu'i dengan logat Madura yang kental.

Dengan berbusa-busa, anggota dewan berusaha menjelaskan bahwa mereka sudah membawa surat izin dan pemberitahuan kepada bupati. Pihak taman nasional dan dinas pariwisata pun sudah dihubungi. Tapi para pamong desa tetap bersikeras "menahan" mereka. Kepala Taman Nasional Meru Betiri, Siswoyo, berupaya menengahinya, tapi juga sia-sia. Para pejabat desa ingin agar rombongan itu mengakui kesalahan, yakni memasuki wilayah desa tanpa izin resmi. Dikepruk gertakan seperti itu, akhirnya rombongan anggota dewan memilih diam diceramahi pamong desa soal birokrasi hingga amanat rakyat.

Lama-lama rombongan anggota dewan jengkel juga. Akhirnya Ketua Komisi C DPRD Jember, Sutalik, giliran menggertak. "Kalau kebablasan, sampeyan bisa dilaporkan ke polisi, lo," katanya. Eh, gertakan ini ampuh. Akhirnya dengan malu-malu para pejabat desa itu pun mau berdamai.

Keheranan anggota dewan tak habis-habisnya. "Kok, kayak di Aceh saja, ada pencegatan rombongan DPRD," kata Nihayah Shiddiq, salah seorang anggota dewan. Tapi masyarakat juga heran, kok, wakil rakyat tak paham keadaan rakyat yang diwakilinya.

Irfan Budiman, I Made Mustika (Singaraja), Mahbub Djunaidy (Jember)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data