Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 14/XXXII/02 - 8 Juni 2003
   
Indonesiana

Pengintip yang Cerdik

MANDI di sungai itu menyegarkan. Paru-paru juga bisa sehat dibuai udara alam terbuka. Karena itu, Partini, 22 tahun, sangat suka mandi di sungai. Sehabis berjualan di pasar, warga Kelurahan Penarukan, Singaraja, Bali, ini selalu menceburkan diri di sungai tak jauh dari kampungnya. Tapi, belakangan ini, dia harus melupakan hobinya. Gara-garanya? Terancam aksi pengintipan.

Sebenarnya Partini sudah lama curiga. Setiap kali dia mandi, sebentuk wajah lelaki selalu nongol di balik semak-semak. Namun, sebagai orang baru di kampung tersebut, dia tak bisa mengetahui persis siapa lelaki itu. Partini baru sebulan datang ke Penarukan, setelah menikah dengan Dewa Putu Widnyana, 22 tahun.

Hanya, lama-lama dia pun hafal wajah sang pengintip, yang belakangan diketahui bernama Komang Wisada, 33 tahun. Ini terungkap tiga pekan silam saat Wisada menampakkan mukanya. Ketika Partini melangkah pulang, dengan kurang ajar Wisada malah menyapa. "Tadi aku melihat pahamu. Aduh, mulus sekali," katanya sambil cengar-cengir.

Bukan cuma amat malu, Partini merasa terhina. Dia lalu mengadu kepada suaminya. Sang suami pun siap menjebak si pengintip. Saat istrinya pergi mandi, dia menemaninya. Setiba mereka di sungai, Wisada kebetulan ada di sana. "Ini dia yang mengintip saya kemarin," kata Partini sambil menunjuk hidung Wisada.

Ditunjuk seperti maling, sontak Wisada kabur dan baru terkejar setelah lari sekitar satu kilometer dari tempat kejadian perkara. Langsung saja, crooot, tinju Widnyana mendarat di muka Wisada.

Namun Wisada bukanlah orang bodoh. Dia melaporkan kasus pemukulan itu ke polisi. Widnyana pun kemudian ditahan dan diancam tuduhan melakukan penganiayaan berat dengan ganjaran maksimal 5 tahun penjara. Untuk kasus pengintipan itu, Wisada malah lenggang kangkung. Menurut polisi, itu terjadi karena Partini ataupun Widnyana tidak melaporkannya.

Diancam hukuman berat itu, Widnyana cuek saja. "Biarlah saya saja yang ditahan. Yang penting, pengintip itu sudah menyatakan kapok," katanya enteng. Sang suami juga tak merasa kehilangan waktu untuk berbulan madu. Dia tidak terlalu mempedulikan hal ini karena perkawinannya dengan Partini ternyata yang ketiga kalinya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data