Kekasih dalam Gulungan Ombak Para penggila olahraga selancar rela meninggalkan kehidupan urban yang riuh
|
Meliuk-liuk di atas papan seluncur mengikuti irama ombak, gadis remaja itu seperti berdansa dalam halimun yang membungkus Pantai Kuta di suatu pagi bulan Mei. Nanda nama gadis kecil ini. Usianya baru 14 tahun. Pada saat nona seusianya masih tenggelam di dalam selimut sembari memeluk boneka, Nanda sudah menjajal gulungan ombak sepanjang Pantai Kuta selama berjam-jam. Aneh? Tidak juga, jika menilik hubungan Nanda dengan seorang lelaki dewasa yang kerap menemaninya "meriset" ombak di sepanjang pantai itu: Ketut Menda. Nanda adalah putri Ketut Menda, peselancar ternama dari Bali, yang berjaya di era 1980-an.
Dalam usia semuda itu Nanda bukan hanya khatam dalam soal meloncat-loncat di atas gelombang. Dia juga paham kapan "hari dan bulan baik" untuk berselancar. "Bulan-bulan ini (Juni-Agustus, Red.), ombak sedang bagus-bagusnya pada pagi, siang, dan sore hari," ujarnya. Tak mengherankan bila sepanjang Juni ini berbagai turnamen surfing "diputar" dari Pulau Mentawai di Sumatera, Bali, Lombok, dan Jawa. Satu yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat adalah Volcom International Surfing Tournament di Pantai Cimaja, Jawa Barat.
Selancar—bahasa kerennya surfing—adalah olahraga yang bermodalkan sekeping papan dan ombak lautan. Semakin tinggi ombak, semakin riang hati mereka. Semakin ganas, semakin deras adrenalin mengalir. Kalau terseret putaran arus yang berbau-bau maut? Dengarlah nasihat para peselancar: jangan panik, ikuti saja arah arus. Jika arusnya sudah melemah, dayunglah papan ke tepian pantai. Astaga, ini olahraga atau cari maut?
Mereka yang awam dalam urusan olahraga selancar barangkali akan geleng-geleng mendengar kisah para penggila selancar. Salah satunya Ivan, 28 tahun. Alumni sebuah universitas di Belanda ini ibaratnya sudah "terpelet" selancar sejak remaja. Pada 1996, saat masih duduk di sekolah menengah, dia tak segan kabur dari gerbang sekolah untuk menanti ombak-ombak bagus setinggi empat meter di Pantai Cimaja, Pelabuhanratu. "Saya menginap tiga hari di pantai, menunggu ombak bagus itu datang." Seusai masa studinya, ombak di Cimaja rupanya terus memanggil-manggil. Alhasil, Ivan mendirikan Cek Ombak, di Desa Resort Cimaja, Pelabuhanratu—sebuah "pangkalan" bagi para peselancar.
Lain lagi pengalaman Ade Demoz, arsitek berumur 29 tahun. Kalau lagi niat berselancar, dia bisa cabut dari pekerjaannya di tengah minggu. Para penggemar selancar mengenalnya sebagai pengusaha baju selancar "347" di Bandung. Seperti halnya sebagian besar pencinta surfing, Ade menyesuaikan irama kerja dengan hobi. "Flat Spills" alias bekerja kalau tidak ada ombak bagus adalah nama tokoh baju-baju selancarnya sekaligus menjadi filosofi kerja Ade. Ada lagi Sukarwan Putra, 26 tahun. Tadinya berdiam dan bekerja di Jakarta, Putra akhirnya pindah ke Bali agar bisa berdekatan dengan ombak-ombak kesayangannya.
Demi selancar, kian banyak anak muda yang memilih hengkang dari kota-kota besar dan kehidupan urban. Mereka lalu mengembangkan hobi dan usahanya—entah di sebuah desa di Bali, di salah satu pojok Pelabuhanratu, atau nun jauh di Mentawai sana, di Sumatera. Peselancar dan ombak, percaya atau tidak, bisa selengket amplop dan prangko. "Seperti sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan," kata Ketut Menda.
Negeri ini memang menyimpan deretan pantai impian peselancar. Salah satunya ada di Mentawai, dengan ombak yang "melegenda". Rick Cameron, peselancar asal Australia yang menemukan ombak di sana pada 1994 melontarkan julukan "smagosboar" (restoran penyedia segala macam menu). Cameron terkesan dengan "segala jenis gelombang" di sana: mulai dari setinggi setengah meter sampai sebelas meter.
Tak mengherankan bila pada 2000 dan 2001, Mentawai terpilih menjadi lokasi final Ocean Pacific Pro Surf World Contest. Keistimewaan lain bisa ditemukan di berbagai lokasi (lihat Serba-serbi Berselancar). Antara lain, di Pantai G-Land di Jawa Timur: "Gelombang lautnya bersusun tujuh sepanjang dua kilometer dengan tinggi ombak mencapai 20 kaki," kata Gatot Widiyanto, manajer pengelola salah satu cottage di lokasi itu.
Komunitas peselancar kini kian menjamur—sejak pertama kali muncul pada 1992. Di Jakarta, sebagian penggila selancar bergabung dalam komunitas selancar Cimaja. Di Bandung ada klub Pangandaran. Belum lagi di Bali, Mentawai, Nias, dan tempat surfing lainnya. Padahal ini olahraga yang mengandung bahaya—dan juga tidak murah: sebuah papan selancar baru berharga sekitar Rp 4 juta. "Surfer harus berani," kata Rizal Tanjung, peselancar profesional yang menjadi bintang iklan salah satu merek rokok.
Arya Subiakto, 39 tahun—penemu ombak di Pantai Cimaja akhir tahun 70-an—mengaku sungguh-sungguh menemukan keasyikan dalam selancar. Bersama beberapa peselancar internasional, Arya bahkan menerbitkan buku Surfing Indonesia. Menurut Arya, surfing tidak berbeda dengan olahraga ekstrem lainnya seperti motor, mobil, atau wall-climbing. Nilai ekstrem selancar, katanya, bisa dilihat dari gerakan manuver serta lokasi yang dipilih.
Jadi, apa hebatnya olahraga selancar? Apa yang membikin mereka tergila-gila, lontang-lantung di pantai dengan celana pendek, berbikini, memikul papan selancar ke mana-mana, sembari sinar matahari menghunjam setajam jarum? "Ombak bisa membikin saya menangis," kata Ade Demoz. "Daya pikatnya lebih hebat dari seks," Arya bergurau. "Ombak bisa menjadi teman, bisa juga jadi musuh," Ketut Menda menguraikan perasaannya. Bahkan, Ivan memilih mencari pasangan hidup yang "sama-sama suka main di pantai".
"Anak-anak pantai" ini tak bosan berkumpul dan membahas kegemaran mereka tak peduli waktu dan cuaca. Di pangkalan-pangkalan surfing, musik yang mereka putar pun tak jauh-jauh dari urusan ombak. Saat TEMPO melintas di depan pangkalan selancar Cek Ombak di Pelabuhanratu, suara Jack Johnson, penyanyi rock dari Hawaii, tengah berkumandang dalam irama mengentak. Baris-baris syairnya memacu adrenalin dan menghangatkan sebuah petang bulan Mei:
... Mother, mother ocean, I've heard you call
I've wanted to sail upon your waters since I was three feet tall after all the years I've found
Levi Silalahi (Jakarta), Alit Kertaraharja (Bali), Febrianti (Mentawai), Mahbub (Jawa Timur)
Serba-serbi Berselancar
Lokasi
- Sumba Bondokodi, Wanjapu, Pasola, Wanukaka, Tarimbang
- Sumbawa Scar Reef, Fly Village, Benete, Supersuck, Yo-yo, Teluk Sekongkang, Sejorong
- Lombok
Gili Air, Senggigi, Bangko-Bangko, Belongas Bay, Selong Belanak, Kuta, A'an, Grupuk Bay, Ampang, Ekas, Sereweh, Labuhan Haji
- Bali
Medewi, Balian, Canggu, Padma, Kuta, Bingin dan Dreamland, Uluwatu, Nyang-Nyang, Green Ball, Nusa Dua, Nusa Lembongan, Sanur, Padang Bai
- Jawa Timur
Teluk Grajagan
- Jawa Barat
Ujung Genteng, Pelabuhanratu, Baya, Pulau Deli, One Palm Point, Pulau Panaitan
- Sumatera Pulau
Hinako, Pulau Nias, Mentawai
Pernak-pernik
- Papan selancar
- Tali yang menghubungkan papan dengan kaki peselancar.
- Lilin pelapis papan selancar
- Krim pelindung matahari
- Baju khusus yang menjaga suhu tubuh tetap stabil di dalam air.
- Sepatu khusus untuk air (booties).
Kondisi Alam
- Angin. Kondisi terbaik untuk berselancar adalah tak berangin.
- Karang. Karakteristik ombak bisa dipengaruhi oleh karang.
- Arus. Berselancar di dekat pusaran arus amatlah berbahaya.
- Pasang-surut. Hindari berselancar di air surut.
Levi Silalahi
|