Manjakan Mata dengan ’Animatrix’ |
Hidup sudah sedemikian tua dan lelah. Karena itu, daripada memiliki gundik, Wachowski bersaudara memilih sebuah rangsangan adrenalin baru: Animatrix.
Selain untuk seru-seruan melepas lelah dari kantor, film ini juga punya fungsi sebagai ”sumber informasi” soal film Matrix Reloaded. Maklum, meski film The Matrix telah meraup jutaan dolar, ternyata banyak orang yang tidak paham dengan jalan cerita dan filosofi film ini. Hal itu agaknya disadari betul oleh sutradara film ini, kakak-beradik Larry dan Andy Wachowski. Kebanyakan dari mereka kesengsem dengan adegan berkelahi yang memang amat fenomenal.
Nah, lalu muncullah ide. Agar orang lebih paham tentang dunia Matrix yang sesungguhnya, hampir bersamaan dengan peluncuran sekuelnya, Matrix Reloaded, Wachowski Bersaudara merilis sekumpulan film pendek berupa animasi yang diberi judul Animatrix.
Dari namanya, Animatrix tak lain merupakan kumpulan delapan judul film animasi yang mencoba mengetengahkan latar belakang Matrix yang sebenarnya. Dalam beberapa film, abang-adik ini terlibat langsung dalam penulisan skenario.
Tapi, benarkah semata itu alasannya? Tidak juga, tampaknya. Sebab, selain film animasi Animatrix yang dikemas dalam format DVD itu secara resmi diedarkan di Amerika Serikat, Selasa pekan ini, produk lain yang juga berbau-bau Matrix sudah duluan diluncurkan ke pasar. Namanya Enter the Matrix, game paling mahal yang pernah dibuat di dunia—menelan biaya US$ 30 juta atau sekitar Rp 24 miliar. Kalau menilik gaya pemasaran film di negeri itu, tak mudah disangkal Animatrix dan Enter the Matrix merupakan produk sampingan sebagai bagian dari promo film ini. Apalagi November kelak sekuel berikutnya, yakni Revolution, akan segera diluncurkan. Untuk memelihara ingatan publik, dua produk ini kiranya akan sangat efektif.
Namun, meski hanya menjadi produk pendamping, Animatrix digarap secara serius. Seperti halnya Matrix dan sekuelnya, Reloaded, yang juga mencengangkan dalam hal inovasi adegan duel dan penceritaan, film-film pendek ini pun mencengangkan. Tidaklah mengherankan. Untuk proyek ini, Wachowski Bersaudara menggamit nama-nama besar di dunia animasi untuk turut serta dalam proyek ini.
Mereka adalah Yoshiaki Kawajiri (Ninja Scroll dan Vampire Hunter D), Shinchirô Watanabe (Cowboy Bebop), Koji Morimoto (Akira), Mahiro Maeda (Blue Submarine No. 6), Takeshi Koike (Wicked City), dan Peter Chung (Flux). Jangan lupa, ada juga Andy Jones, penggarap animasi Final Fantasy: the Spirits Within. Sejak Februari lalu beberapa film di antaranya sudah bisa di-download secara gratis di www.theanimatrix.com.
Hasilnya sungguh luar biasa. Satu yang menyentak adalah animasi garapan Andy Jones, Final Flight of Osiris. Animasi garapan Andy Jones itu mengisahkan perjalanan pesawat Osiris yang dipimpin Thadeus dan Jue, teman dan kekasihnya. Animasi yang berdurasi 9 menit ini menampilkan revolusi animasi yang digarap dengan teknik komputer. Tidak saja detail gambar yang menyerupai sosok manusia, tapi juga gerakan tubuhnya begitu sempurna. Ada adegan latihan bertarung dengan menggunakan pedang antara Thadeus dan Jue, anak buah sekaligus kekasihnya. Satu per satu pakaian mereka tanggal terkena sabetan pedang masing-masing. Bukan soal lekuk tubuh keduanya yang amat seksi, tapi inilah sebuah keberanian menampilkan animasi dengan tubuh yang terbuka. Final Fantasy: the Spirits Within—yang juga dahsyat—tak sekalipun menampilkan ”pemainnya” tanpa busana. Hal lainnya yang juga mencengangkan adalah gerakan jungkir balik Jue, perempuan yang berasal dari ras Asia, di antara tiang listrik tegangan tinggi. Bak pesenam, tubuhnya meliuk-liuk secara sempurna. Gerakannya halus dan hidup.
Senapas dengan Final…, yang menyuguhkan sebuah pertempuran manusia melawan mesin, bagian lain yang patut disimak adalah Second Renaissance karya Mahiro Maeda. Dalam animasi yang dibagi menjadi dua bagian ini ditampilkan bagaimana perjuangan para robot yang dianiaya manusia melakukan balas dendam terhadap bekas majikannya, bahkan kemudian mereka menguasai dunia ini. Beberapa adegan diilhami peristiwa pembantaian yang terjadi di Lapangan Tiananmen di Cina dan Perang Vietnam.
Animasi lainnya tidaklah mengecewakan. Satu yang istimewa adalah A Detective Story karya Shinichirô Watanabe. Dalam segmen ini, Watanabe menyuguhkan sebuah perburuan seorang detektif terhadap Trinity, sosok hacker dalam Matrix. Namun, yang istimewa, Watanabe membuat setting-nya pada tahun 1940-an, plus dengan hitam-putihnya dan gaya komik yang biasa muncul di koran.
Namun, kembali ke persoalan awal, apakah upaya Wachowski menjelaskan tentang Matrix ini berhasil? Ehm, sepertinya hal itu tidaklah penting lagi. Animatrix sudah telanjur memanjakan mata. Kecuali mata Anda sudah terlalu tua untuk menikmatinya.
Irfan Budiman
|