’Messiah’ yang Memilih Cinta Bagian kedua trilogi Matrix beredar di Jakarta. Makin seru dan memeras fantasi. |
PINTU misterius itu sudah terbuka. Neo (Keanu Reeves) berhadapan dengan ”tuhan” dunia maya. Namun perjalanan panjangnya menempuh dunia antah berantah yang mirip petualangan Alice di Wonderland berakhir dengan kegagalan. Seperti Sisyphus, yang terus-menerus menggelindingkan batu, ia melihat pencariannya berakhir buntu. Kisah itulah yang hendak disodorkan kakak-adik Andy dan Larry Wachowski dalam Matrix Reloaded.
Dalam The Matrix (Matrix seri pertama) diceritakan bahwa pada tahun 2199 dunia telah dikuasai mesin. Ingat adegan ribuan orang terbaring tak sadar dalam polong-polong baja. Otak mereka dihubungkan dengan kumparan. Adalah umum film futuristik Hollywood mengisahkan manusia diperbudak cyborg. Tapi yang gila dari Andy dan Larry adalah ide orisinal: yang menjajah manusia nanti adalah artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang dulunya diciptakan manusia. Melalui program yang menanamkan ilusi pada manusia, terjadilah kolonisasi itu. Ilusi ini adalah sebuah bayangan bahwa manusia yang pada tahun 2199 telah tertawan seolah-olah masih hidup normal pada tahun 2000-an.
Neo, seorang hacker, salah satu dari sedikit manusia yang belum masuk dalam spektrum program bernama Matrix itu, terus-menerus menerima pesan misterius dari seorang hacker legendaris bernama Morpheus (Laurence Fishburne). Ia disadarkan bahwa dunia ini sejatinya hanyalah simulacrum (realitas semu tanpa berkesudahan). Ternyata Morpheus adalah pejuang bawah tanah yang berusaha membebaskan umat manusia dari dunia maya. Dalam Matrix Reloaded, kita dibawa ke tempat Morpheus berasal.
Ia datang dari sebuah lokasi di dekat dasar bumi bernama Zion, tempat sekitar 250 ribu orang masih hidup (di situ seks dan agama masih dihayati). Morpheus bak Luke Skywalker dalam Star Wars. Ia seorang komandan yang yakin bahwa Neo adalah Cybermessias, seorang penyelamat. Morpheus, Neo, dan Trinity (Carrie-Anne Mos) diutus oleh dewan Zion melakukan perang. Mereka bertolak dengan pesawat bernama Nebuchadnezzar.
Dari ruang Nebuchadnezzar, dengan bantuan programmer bernama Link (Harold Perrineau), mereka berduel di dunia Matrix. Tubuhnya masih di pesawat, tapi pikirannya mengarungi realitas virtual—sebuah adventure of consciousness. Walaupun pikiran yang mengelana, mereka tetap bisa mati. Itu terjadi apabila pikiran mereka melemah. Ide cerita yang sangat canggih ini memungkinkan peluang penggarapan efek visual dan animasi makin menjadi-jadi. Pencapaian gerak berkelit kungfu yang digarap Yuen Wo Ping (penata gerak Crouching Tiger, Hidden Dragon) yang memukau pada Matrix seri pertama diteruskan lagi.
Penonton pasti merasa asyik melihat bagaimana Neo adu jotos melawan polisi-polisi cyber agen Smith (Hugo Weaving). Tiba-tiba sang agen mampu membuat ratusan kloning dirinya, tapi Neo bisa melesat terbang ke langit. Tugas Neo adalah menemui sang Oracle. Dari Oracle didapat informasi bahwa menemui ”tuhan dunia maya” harus melalui sebuah kunci. Sayangnya, sang pembuat kunci (Randall Duk Kim) disekap oleh Merovian (Lambert Wilson).
Film ini dengan cara ultra-pop ingin menyodorkan kembali debat lama teologi tentang apakah jalan hidup manusia diarahkan kehendaknya sendiri atau telah diatur takdir. Dikisahkan akhirnya Neo bertemu dengan sang ”tuhan dunia maya” alias arsitek pencipta Matrix (Helmut Bakaitis). Tapi ternyata ”tuhan dunia maya” mampu meyakinkan Neo bahwa manusia tak bisa lepas dari simulacrum. Neo kemudian memilih menyelamatkan Trinity (yang sebelumnya bercinta dengannya) daripada berusaha mematikan program. Trinity tewas. Tapi, akibat kendali pikiran Neo yang penuh kasih sayang, ia dapat dihidupkan kembali.
Dan tiba-tiba film seolah terpotong dan layar menampilkan kalimat to be concluded…. Penonton dibiarkan menggantung dengan pertanyaan-pertanyaan. Apakah sosok arsitek pencipta program itu mesin atau manusia biasa? Apakah sedari awal sosok Neo, hacker insomnia, yang diangkat Wachowski bersaudara dari komik V for Vendetta, adalah seorang nihilis? Agaknya itu yang akan disodorkan oleh The Matrix Revolution, sekuen ketiga Matrix, yang November nanti dilansir.
Mereka yang telah kecanduan serial Matrix percaya bahwa keeksentrikan Wachowski bersaudara mengocok spirit komik pulp-fiction dengan semangat kisah-kisah mitologi seperti Odyssey, buku-buku Fritjof Capra, Carl Sagan, Perjanjian Lama, atau logika Buddhisme itu akan menghasilkan kejutan yang cerdas, tapi tak ketinggalan napas punk.
Seno Joko Suyono
|