Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Teknologi Informasi

Sodokan Telepon Tetap Nirkabel

Telkom meluncurkan telepon tetap nirkabel dengan tarif telepon biasa. Ancaman baru bagi GSM.

LANGKA tapi nyata, begitulah kesan lelaki itu ketika dua bulan lalu mendapatkan "mainan" baru di Denpasar, Bali. Ia terkesima ketika menggunakan sebuah layanan telepon tetap tanpa kabel dengan tarif persis telepon rumah. "Kalau bicara soal kualitas suara dan kecepatan sambung, wuihhh, enggak ada apa-apanya tuh GSM," ujar Winner, lelaki itu, dalam sebuah forum diskusi di Internet.

Layanan TelkomFlexi itu—produk baru PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom)—berfungsi seperti telepon seluler, antara lain untuk komunikasi data Internet, faksimile dengan kecepatan sampai 144 kbps, call forwarding, dan pencatatan nomor telepon yang masuk. Untuk biaya pulsa, ada dua pilihan: "pascabayar" atau "prabayar", sama seperti telepon genggam. Untuk "prabayar", dikenakan tarif percakapan per menit karena tanpa biaya abonemen.

Selain di Denpasar, PT Telkom sudah meluncurkannya di Surabaya dan Batam. Di Jakarta, peluncuran akan dilakukan awal bulan depan. Tak hanya tarif, penomorannya pun persis telepon biasa atau Public Switched Telephone Network (PSTN), yakni cuma tujuh digit, di luar kode area. Pemegang lisensi lain, PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat), segera meluncurkan produk serupa.

Berbeda dengan telepon rumahan, telepon tetap nirkabel ini memiliki mobilitas. Tapi, berbeda dengan telepon seluler, mobilitasnya terbatas. "Jadi, ini telepon tetap plus mobilitas," ujar Direktur Utama Telkom Kristiono seperti dikutip Tempo News Room. Meski yang dipakai izin telepon tetap, menurut dia, terhadap layanan TelkomFlexi tak bisa dikenakan peraturan telepon tetap. Sebab, produk ini menggunakan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), yang merupakan teknologi seluler.

Karena itu, Direktur Niaga PT Indosat Hasnul Suhaimi mengusulkan agar jangkauan telepon CDMA dibatasi berdasarkan jarak jangkauan base transceiver station (BTS). Di luar itu, telepon otomatis akan mati. Hal ini, menurut dia, untuk menghindari benturan antara telepon tetap CDMA dan layanan seluler GSM.

Namun Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) menilai retorika semacam itu agak konyol. Menurut Rudiantara, Ketua Umum ATSI, perlu regulasi yang jelas dan tegas agar tak timbul kekacauan dalam pelaksanaannya. "Bagaimana mungkin operator yang berbeda menggunakan teknologi yang sama?"

Masalahnya, menurut Rudi, TelkomFlexi menawarkan hampir keseluruhan fasilitas operator seluler, sementara izin yang dipakai adalah telepon tetap. Lain halnya Ratelindo, Rudi mencontohkan, yang meskipun juga bisa mobile dalam satu area, hanya melayani komunikasi suara seperti telepon tetap, sehingga pihaknya tak memandang perlu memprotes keberadaannya.

Karena itu, Rudi meminta pihak regulator segera merumuskan aturan main yang jelas dalam mengantisipasi masuknya pemain-pemain baru di bidang itu. Apalagi ia sudah mendengar sejumlah operator AMPS akan bergabung untuk menjalankan layanan serupa. Sistem CDMA memang teknologi lanjutan yang sudah berbentuk digital dari teknologi seluler analog generasi sebelumnya (AMPS).

Setidaknya ada tiga jenis teknologi seluler yang umum digunakan, yakni Frequency Division Multiple Access (FDMA), Time Division Multiple Access (TDMA), dan CDMA. FDMA memecah panggilan ke dalam slot frekuensi yang berbeda. TDMA—yang digunakan Global System for Mobile Communication (GSM)—membaginya dalam bentuk antrean waktu. CDMA menciptakan kode-kode unik dalam setiap panggilan, sehingga kapasitasnya untuk satu spektrum frekuensi yang sama jauh lebih besar.

CDMA diyakini akan menjadi primadona di dunia, walau saat ini baru memiliki lima persen populasi—GSM sudah 64 persen atau sekitar 700 juta. Kini baru sekitar 120 juta pelanggan CDMA di 47 negara dan 13 juta di antaranya menggunakan CDMA generasi ketiga, CDMA 2000-1X.

Di Indonesia, CDMA sebenarnya bukan hal baru. Pada 1999, Komselindo tercatat sebagai pemegang lisensi layanan seluler jenis ini, tapi kurang sukses. Sebab, hampir semua operator seluler mengandalkan GSM. Di Surabaya juga sudah ada C-Phone, yang menggunakan teknologi CDMAOne. Layanan yang juga bertarif sama dengan telepon rumahan ini hanya melayani komunikasi suara dan juga bisa mobile. Tapi izin C-Phone berakhir tahun depan.

Penggunaan CDMA 2000-1X seperti TelkomFlexi tak bisa dimungkiri akan menjadi ancaman baru bagi GSM di Indonesia. Diperkirakan jumlah pelanggan seluler yang melakukan perjalanan ke kota lain atau ke luar kode area hanyalah sekitar 20 persen. Sekitar 80 persen sisanya, yang hanya bergerak dalam satu kode area alias dalam kota, bisa saja akan tersedot ke TelkomFlexi.

Untuk mengakomodasi kebutuhan publik akan telepon tetap (PSTN) yang tak kunjung bisa dipenuhi, akhirnya PT Telkom memutuskan untuk memanfaatkan CDMA, dengan versi yang lebih maju, yakni CDMA 2000-1X, untuk memenuhi kebutuhan telepon tetap dan—di sinilah hebatnya—nirkabel.

Kemampuan teknologi CDMA 2000-1X mengirim data dengan kecepatan sampai 144 kbps (kilobit per detik) akan memberikan keleluasaan bagi operatornya untuk berkreasi. Apalagi teknologi CDMA 2000-1X bisa dengan mudah ditingkatkan ke CDMA 2000-1X EV-DO (evolution data only/optimized) dengan maksimum kecepatan 2,4 Mbps (megabit per detik). Bandingkan dengan operator GSM dengan General Packet Radio Service (GPRS), yang memiliki kecepatan data maksimum 114 kbps.

Wachidzone, seorang peserta diskusi online, mencontohkan, untuk men-download musik MP3 berdurasi tiga menit, telepon seluler GSM dengan tingkat data 9,6 kbps membutuhkan waktu 41 menit, sedangkan CDMAOne (IS 95B) berkapasitas 64 kbps membutuhkan waktu cuma enam menit. Tapi telepon seluler CDMA 2000-1X dengan kecepatan 307 kbps lebih hebat lagi, hanya membutuhkan 78 detik.

Dengan memancarkan sekaligus 1,25 MHz frekuensinya, dibanding 20-30 KHz di AMPS dan GSM, daya pancar CDMA lebih kuat, sehingga telepon seluler CDMA yang lemah pun tetap akan menangkap sinyal penuh. Karena itu, kemungkinan telepon seluler mengalami drop call (sambungan terputus) ketika bergerak hampir sama sekali tak ada. Reuse frekuensi di CDMA tetap dilakukan tanpa memecah-mecah frekuensinya. CDMA juga mampu bekerja pada frekuensi 1.900 MHz, 1.800 MHz, 900 MHz, 800 MHz, bahkan pada frekuensi 450 MHz, tanpa kendala dalam mutunya.

Hanya, ada kelemahannya: teknologi CDMA tak bisa melakukan jelajah (roaming), jadi hanya cocok digunakan dalam satu area. Bagi yang suka bepergian, tentu layanan ini bukan pilihan yang cocok. Sistem ini mensyaratkan handset khusus pula. Selain itu, karena layanan ini baru diluncurkan di beberapa kota dan dengan dukungan jumlah BTS yang terbatas, penggunanya sering menemukan blank spot (tak ada sambungan). Tapi ini soal waktu saja.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Geliat Bisnis Islami - 07 Sep 2008 | 15:06 WIB
Pemerintah Surabaya Jamin Pasokan Makanan Aman - 07 Sep 2008 | 15:05 WIB
Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data