Keserakahan yang (Pasti) Tenggelam Naskah drama Allah Jang Palsoe karya Kwee Tek Hoay, sastrawan keturunan Cina, dipentaskan. Sajian perdana Mainteater Jakarta dengan beberapa keterbatasan. |
Di ruang tamu berperabot meja bundar dan sebuah mesin ketik, Tan Kioe Gie, laki-laki muda, tengah alot berdiskusi dengan Oei Tjoan Siat, tauke tua pendek yang kerap mengisap pipa cangklong. Sesekali Oei Tjoan, yang dimainkan Joind Bayuwinanda, tertawa menyeringai membujuk Tan Kioe Gie agar mengubah kebijakan redaksional surat kabar Melayu-Tionghoa Kamadjoean di Batavia, yang sedang sekarat, sesuai dengan selera pemodal.
Ini awal drama komedi oleh Mainteater Jakarta, Jumat dan Sabtu pekan lalu, di Teater Utan Kayu, Jakarta. Lakon klasik tentang keserakahan dalam keluarga Tionghoa berlatar tahun 1920-an ini disutradarai E. Sumadiningrat.
Tan Kioe Lie tipikal manusia rakus yang menganggap uang segala-galanya. Sebaliknya adiknya, Tan Kioe Gie. Ia seorang hoofdredactuer yang idealis. Bagi Kioe Gie, mempertahankan haluan surat kabar Kamadjoean lebih penting daripada naik gaji. Ia memilih mundur.
Kioe Gie kembali ke kampungnya di Cicurug merintis peternakan dan perkebunan. Sedangkan Kioe Lie, yang sudah mengkhianati tunangannya, kawin dengan Tan Houw Nio (Milani). Seorang janda kaya mendiang Tjio Tam Bing yang tewas diracun Kioe Lie. Dengan licik Kioe Lie menjadi wakil presiden direktur perusahaan Siang Hwe dan komisaris pabrik gula di Cirebon, Tiong Hoa Hwe Koan. Lima tahun berselang perusahaan itu rugi besar. Bahkan Kioe Lie terjerat utang. Penggelapan uang perusahaan yang dilakukannya menyebabkan ia harus berurusan dengan polisi. Tapi dia berhasil lari.
Dalam pelarian, Kioe Lie bertemu adiknya yang berupaya menolong. Tetapi nasib tak mampu mengubah takdir. Pikiran Kioe Lie kalut karena utang, jiwanya bertambah kacau karena merasa dikejar-kejar arwah Tjio Tam Bing. Ia menempuh jalan pintas: bunuh diri.
Allah Jang Palsoe ditulis Kwee Tek Hoay (1886-1952) dalam bentuk drama komedi enam babak pada 1919. Sebelumnya ia menulis novel pertama Yoshuko Ochida atau Pembalesannja Satoe Prampoean Japan, yang terbit bersambung dalam mingguan Ho Po di Bogor pada 1905.
Pada 1926 Kwee, yang sudah menulis buku sejak remaja, menelurkan lakon Korbannja Kong Ek. Drama ini terbit bersambung di harian Sin Bin. Setahun kemudian ia menelurkan novel Boenga Roos dari Tjikembang. Novel yang memikat dan laris ini dicetak ulang tiga kali pada 1927, 1930, dan 1963. Dan dua kali difilmkan, pada 1931 oleh Wong Brothers dan pada 1976 oleh Fred Young.
Kwee menulis 15 novel dan 10 naskah drama dalam bahasa Melayu Rendah. Ia juga menulis puluhan artikel dan karya terjemahan. Sastra bahasa Melayu Rendah sejatinya menjadi pilar karya sastra kita yang dimulai pada 1890. Belakangan bahasa ini sangat sering dipakai oleh para sastrawan keturunan Tionghoa di Indonesia. Karya mereka dikenal sebagai sastra Indonesia-Tionghoa. Menurut kritikus sastra Jakob Sumardjo dalam buku 100 tahun Kwee Tek Hoay (1989), kekuatan Kwee terletak pada pemasangan gaya realitas. Kwee suka mengambil seting cerita nyata, historis, dan aktual. Namun Jakob mencatat kelemahannya yang berkaitan dengan sifat verbalitasnya. Penguraiannya dalam bentuk dialog terkadang di luar takaran.
Kwee menulis Allah Jang Palsoe sangat detail. Ada penggambaran seting, penjelasan dekorasi, kostum, bloking, ekspresi, serta panduan musik. Di atas panggung naskah ini mengalami banyak pengeditan untuk mencapai durasi 60 menit.
Di sana-sini terdapat kekurangan. Kostum para tokoh kurang utuh menampilkan busana khas Cina Betawi. Dialog antartokoh beberapa kali kedodoran mengusung dialek Melayu Rendah. Aksen Teguh Purwanto yang berperan sebagai Kioe Gie amburadul. Namun, sebagai produksi perdana, ini bisa dimaklumi, mengingat tidak mudah menghadirkan atmosfer bahasa komunitas Cina pada awal abad ke-20 tersebut.
E. Sumadiningrat, yang pernah menggondol aktor terbaik se-DKI Jakarta pada 2002, mengakui beberapa keterbatasan. Memang tak gampang melafalkan Melayu Rendah tahun 1920-an, tapi inilah lakon yang bernilai. Pertama, menggambarkan kesediaan kalangan keturunan Cina untuk berintegrasi dengan penduduk pribumi dalam persamaan. Tampak orientasi keindonesiaan Kwee jauh lebih menonjol daripada orientasi Cina atau Belanda.
Lebih dari itu, juga menggagas petuah terhadap kesesatan moral dan tradisi. Allah Jang Palsoe mengecam orang-orang Tionghoa yang terlalu mengejar keuntungan dan harta dengan segala cara, termasuk berkhianat dan membunuh. Tentu, sebuah koreksi diri akan berarti pada saat-saat krisis seperti ini.
Dwi Arjanto
|