Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Teater

'Barzanji', 33 Tahun Kemudian

Di Senayan, Rendra kembali mementaskan Selawat Barzanji terjemahan Syu'bah Asa.

Satu shalawat sepanjang hari, sepanjang nyanyi

Riwayat nabi dalam bahasa sastra pengganti setangi

Mulia indah gambar lukisan pena

Tingal di dada para hadirin kekal abadi…


RENDRA, 67 tahun, berpeci hitam, masuk, uluk salam kepada Nabi. Ada kor amin menyambutnya. Meski telah digerus usia, kekuatan lirisnya masih terjaga.

Barzanji, nyanyian pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, sampai sekarang terus hidup di desa-desa Jawa. Saat selamatan, sunatan, maulid Nabi, dan kelahiran bayi, orang mendarasnya. Betapa penghormatan akan Nabi begitu kental di pelosok: saat syair memasuki nyanyi kelahiran Nabi, orang-orang biasanya langsung berdiri.

Pertama kali Barzanji dipentaskan oleh Bengkel Teater pada 1970 di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki dengan aktor seperti Chaerul Umam, Azwar A.N., dan Untung Basuki. Syu'bah Asa saat itu mahasiswa IAIN Yogya. Sejak kecil, wartawan ini menghayati barzanji karena bapaknya, Kiai Ahmad Sanusi, ahli syair-syair Arab.

Pada 1967, ia bergabung dengan Bengkel Teater, yang bermarkas di rumah Rendra di daerah Ketanggungan, Yogya. Suatu hari ia mengetik, menerjemahkan barzanji di situ. "Lho, iki opo, Dik, kok apik tenan? (Lo, ini apa, Dik, kok bagus betul?)," tanya Rendra saat itu. Terus Syu'bah melantunkan beberapa variasi irama barzanji. Rendra tertarik.

Syu'bah lalu mengajak rombongan Bengkel Teater ke Wisma Sanjaya, Demangan Baru—tempat Syu'bah indekos—mendengarkan Yasinan dan selawatan barzanji anggota perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Sunarti, istri Rendra, yang terlatih kor gereja, memilih bagian-bagian yang dirasa menyentuh. "Proses kreatif pementasan Qasidah Barzanji sama 'sakitnya' dengan Oedipus atau Menunggu Godot," kata Syu'bah.

Maksudnya, dalam ketiga repertoar itu pencarian Rendra betul-betul antara "hidup dan mati". Saat proses Qasidah Barzanji, menurut Syu'bah, Rendra tengah menjalani hari-hari pergulatan perpindahan agama dari Katolik ke Islam. Pernah untuk sebuah latihan, para anggota Bengkel Teater dari Ketanggungan berjalan kaki sampai pantai selatan, Parangtritis, menempuh jarak sekitar 30 kilometer. "Kita jalan malam selepas isya, baru datang di Parangtritis jam delapan pagi," kenang Syu'bah. Di pasir pantai, Syu'bah lalu disuruh bersembahyang. Rendra memperhatikan dengan saksama.

Suasana alam Parangtritis, lautan pasir dikelilingi bukit-bukit, mungkin saat itu mengingatkan Renda pada kalimat-kalimat barzanji. Dalam terjemahan Syu'bah, ada lirik seperti ini:

Mohon ampunan untuk penggubah syair yang tekun berpikir

terus berzikir

Angkat karibmu ke bukit pasir yang paling tinggi

Tempatkan dia di kediaman dekat sisi nabinya yang mulia

Tunjukkan dia hakikat Engkau, tak ada dua


Dari mazmur ke selawat. Barzanji sendiri di tangan Rendra menjadi kolase antara kor putra, kor putri, solo putra, solo putri, duet putri, monolog, azan, dan ngaji. Tiga puluh tiga tahun lalu, panggung ditata Rudjito bersahaja: set hanya mengasosiasikan pucuk-pucuk kemah; selebihnya hanya bertumpu pada kekuatan aktor, kor, dan syair. Kini set lebih meriah: penuh lampu sorot warna-warni, membentuk sapuan lingkaran-lingkaran.

Ya Nabi salam alaika, Ya Rosul salam alaika, Ya Habib salam alaika… awal pembuka panggung, lalu surat Yasin. Setelah itu, kor pria melantunkan pujian terhadap kecakapan fisik Nabi, matanya, alisnya, dadanya, keterampilannya menunggang kuda dan unta:

Kedermawanan melimpah ruah, dari tangannya

Rambut yang panjang meluncur rapi ke telinganya

Cincin di jari memberi tahu kenabiannya

Begitu pula adalah tanda, antara dua tulang bahunya…

Kemudian diselingi kor putri:

Silsilah nabi teramat indah

Bagai luhurnya rantai permata

Bintang-gemintang menebar cahya

Duhai, Nabi tercinta, meski kecilmu yatim piatu,

Tapi agung silsilahmu…


Intonasi yang monoton tapi membuat kor tak sepenuhnya selama pertunjukan menggetarkan. Malam itu kor putri seperti remaja madrasah—serempak tapi tak membangun suasana kental. Juga saat sahut-sahutan kor pria dan putri—kompak tapi tak sampai mengharukan. Lokasi pementasan di lapangan tenis indoor Senayan, yang terlalu luas, dengan penonton yang jumlahnya minim dan duduk (sesuai dengan tiket) berpencar, menambah kurangnya keintiman.

Gerakan-gerakan bersumber silat Padang, dinamis, oleh penari-penari Gumarang Sakti pimpinan Boi G. Sakti terasa menolong—hanya ilustrasi, muncul sesekali, tapi lebih kuat daripada adegan Ken Zuraida yang melantunkan sajak Zaitun dengan bersimpuh dan meratap (dua adegan ini tambahan, dulu tak ada). ….Tuhanku harumkan arwah dan makamnya…. Terakhir kor putra-putri (26 orang) berdiri berjajar bersama seperti saman Aceh menabuh rebana, meminta Tuhan mengaruniai Nabi Muhammad SAW.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data