Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Surat

Perang PLN dengan Pertamina?

DAMPAK dari berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan dan UU No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas sudah kelihatan beberapa hari belakangan ini. PT PLN (Persero) sebagai BUMN penyedia jasa ketenagalistrikan telah menyatakan bahwa Pertamina bukan satu-satunya lagi sumber bahan bakar minyak (BBM) bagi perusahaannya. Soalnya, PT PLN sudah punya penyedia BBM swasta dari Singapura yang bersedia menjual BBM lebih murah dari BBM Pertamina.

Zaman memang sudah berubah. Tapi benarkah PLN bisa memperoleh BBM dengan harga lebih murah? Memang agak sedikit janggal jika PT PLN dapat memperoleh BBM di luar Indonesia (yang jelas tidak disubsidi) dengan harga lebih murah. Sebagai perbandingan, harga patokan BBM dalam negeri adalah rata-rata satu bulan MOPS + 5%. Sedangkan harga BBM di Singapura adalah MOPS + 10% handling cost + insurance cost atau kurang-lebih MOPS + 25%. Apakah betul mitra PLN, Concord Energy Pty. Ltd. Singapura, dapat memperoleh BBM dengan harga di bawah MOPS + 5%? Kalaupun bisa, dapatkah Concord menyediakan BBM bagi PT PLN (Persero) secara kontinu dan dengan mutu yang baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dicermati oleh PLN mengingat seluruh biaya untuk membeli BBM dari Singapura merupakan uang rakyat. Dikhawatirkan akan bertambahnya beban publik jika ternyata kualitas BBM yang dibeli lebih buruk dari produksi Pertamina dan merusak turbin PLN sehingga biaya pemeliharaan turbin menjadi tinggi. Kekhawatiran itu beralasan karena turbin PLN punya spesifikasi khusus yang selama ini dipenuhi oleh Pertamina.

Sebetulnya perubahan ini berawal dari langkanya persediaan gas dari Pagerungan milik Beyond Petroleum (kontraktor production sharing Pertamina). Seharusnya, untuk mencegah adanya perseteruan yang lebih memanas, pihak yang berwenang—dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral—melakukan penelitian yang mendalam. Adakah pihak yang mencoba mengail di air keruh di tengah masalah ini?

Permasalahan ini perlu segera ditangani, mengingat suhu politik di Tanah Air akan meningkat drastis dalam waktu 2-3 bulan mendatang bersamaan dengan makin mendekatnya Pemilu 2004. Apalagi setiap partai peserta pemilu membutuhkan banyak dana untuk dapat menjadi pemenang.

AGUS PAMBAGIO

Jalan Agraria BG, RT 005/004

Pondok Labu, Cilandak,

Jakarta Selatan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data