Mendulang Emas dari Medan Perang Popularitas menanjak tajam, tapi buntung di perolehan iklan. Embargo pun datang dari negeri jiran.
|
HANYA sekejap dari saat pesawat Qatar Airways rute Doha-Dubai itu lepas landas, Leena Zahr Eldeen menyapa penumpang dengan senyum menawannya dari balik layar kaca. Leena adalah salah satu presenter Al-Jazeera yang cukup ternama. Di pesawat itu televisi berbahasa Arab ini menjadi sajian utama—meski untuk melengkapi kenyamanan stasiun televisi gaek British Broadcasting Corporation (BBC) diputar bergiliran.
Langkah manajemen Al-Jazeera menggandeng BBC terhitung amat manjur: citranya menjadi cepat sekali terdongkrak. Dengan begitu, menjadi tak sia-sia kerja keras para wartawan "CNN-nya negeri Arab" ini. Tapi popularitas belum tentu senapas dengan perolehan keuntungan. Padahal biaya operasional bulanan membobol kocek mereka sampai US$ 2,5 juta (lebih dari Rp 23 miliar). "Pendapatan iklan kami masih di bawah standar," ujar Jihad Ali Ballout, Direktur Komunikasi Al-Jazeera, tanpa mau merincinya.
Masih menurut Jihad, salah satu penyebab beratnya pemasang iklan mau melirik adalah sikap jurnalisme Al-Jazeera yang berimbang. Keberimbangan ini bagaikan dua mata pisau. Yang satu menusuk ke luar, sedangkan yang satu lagi menusuk ke dalam. Karena stasiun TV ini berani menampilkan opini pihak yang tersisihkan, pihak yang dominan tak mau terima. Mereka menganggap wartawan Al-Jazeera bukan teman alias musuh. "Kebanyakan pemasang iklan takut jadi dimusuhi seperti kami," ujar Jihad.
Kepedihan itu masih ditambah dengan boikot dan embargo yang dicetuskan oleh negara-negara tetangga. "Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait melarang perusahaannya memasang iklan di tempat kami," ujar Jihad. Keputusan itu terbuka luas melalui edaran Kementerian Informasi Arab Saudi dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council). Intinya, perusahaan-perusahaan itu diminta memboikot iklan.
Penyebab utama seruan boikot itu, bisa jadi, mereka gerah atas kekritisan stasiun televisi milik Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al-Thani ini. Selain itu, Al-Jazeera begitu getol memutar wawancara eksklusifnya dengan Usamah bin Ladin, orang yang dimusuhi sebagian besar negeri Arab (juga Amerika) sejak serangan terorisme di Amerika pada 11 September 2001.
Tekanan semacam itu, di negeri Timur Tengah, jelas lebih kental muatan politisnya ketimbang bisnis. Hampir semua negeri Arab dipimpin oleh raja atau emir. Lazimnya sistem kekuasaan kerajaan, di negeri-negeri itu titah raja patut dituruti, tak terkecuali oleh para pebisnis.
Ulah baron-baron negeri Arab itu sempat membuat Al-Jazeera kehilangan muka. Perusahaan ternama seperti Pepsico dan General Electric, misalnya, pernah membatalkan iklan senilai kurang-lebih US$ 3 juta. Ketika itu, bagian iklan sudah menanyakan apa alasan mereka mencabut komitmen. Jawab Pepsico, "Beriklan di Al-Jazeera tidak termasuk bujet reguler kami."
Akibatnya, menurut penelitian Pan Arab Research Centre di Dubai, keuntungan Al-Jazeera pada 2000 hanya US$ 15 juta. Itu pun sudah melonjak tajam dari keuntungan pada 1998 dan 1999, yang cuma sekitar US$ 3,3 juta. Foad Tawil, Managing Director Gulf Space International (yang punya lisensi menjual iklan Al-Jazeera), mengakui bahwa kecilnya pendapatan Al-Jazeera itu karena ada boikot dari para pebisnis lokal. "Jika situasinya normal, kami bisa menggapai US$ 45 juta," katanya.
Padahal, jika disandingkan dengan rekan seiring, yang tak sepopuler Al-Jazeera, angka itu sangat kontras. Tengok saja stasiun TV Middle East Broadcasting Company (MBC), pesaingnya yang berbasis di Dubai. MBC mampu menggangsir US$ 76 juta pada 1998. Contoh lain adalah Lebanon's Entertainment Network (LBC), yang meraup US$ 93 juta.
Keterpurukan itu bisa dimaklumi karena Al-Jazeera cuma memperoleh 40 persen pemasukannya dari iklan. Padahal TV-TV lain bisa berpesta pora karena mampu merengkuh hingga 90 persen. Selain dari iklan, mereka banyak berharap dari usaha menyewakan peralatan serta menjual program dan rekaman video, dan juga dari pelanggan. Cukup berat juga perjuangan tim iklan mengingat sejak 2001 sudah tak ada lagi subsidi dari Emir Qatar.
Tragedi 11 September 2001 mengubah keadaan. Peristiwa yang lalu disusul invasi militer Amerika ke Afganistan itu bagai durian runtuh bagi Al-Jazeera. "Karena sendirian di Afganistan, kami mendapat banyak uang dari menjual gambar," kata Mohamed Jasem al-Ali, Managing Director Al-Jazeera. Pada tahun itulah Al-Jazeera makin menancapkan kuku bisnisnya. Tak kurang dari media terkemuka macam CNN mulai meneken kontrak, yang diikuti oleh ZDF Jerman, ABC News, CBS, NHK Jepang, Shanghai TV, France TV, dan BBC.
Sejak Januari awal tahun ini, kerja sama Al-Jazeera dengan BBC jauh lebih serius dibandingkan dengan TV lainnya. Mereka menjalin kerja sama news-gathering, termasuk kerja sama operasional di lapangan dan berbagi fasilitas. Satu contoh adalah ketika BBC numpang koneksi satelit Al-Jazeera di Kabul. Sebagai gantinya, BBC menjadi konsultan dalam pembuatan website berbahasa Inggris, pelatihan peningkatan profesionalisme, dan juga keselamatan kerja jurnalis.
Ekspansi ke Inggris diimbangi pula dengan paket langganan yang menarik bagi khalayak. Ada tawaran program Arabest bagi warga Arab yang tinggal di Inggris atau mereka yang "berkehendak" menikmati televisi berbahasa Arab. Mereka bisa dihibur oleh paket-paket pilihan dari lima stasiun televisi, yakni Al-Jazeera, ART Movies, ART Music, ART Europe, dan LBC Europe.
Sementara itu, sejak November 2001, rakyat Malaysia sudah akrab dengan Al-Jazeera. Astro, salah satu TV di Malaysia, mulai merelai berita-berita mereka. Selama enam jam sehari, berita berbahasa Arab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Akan halnya Indonesia, baru pada perang Irak yang baru lalu ada tiga stasiun TV yang merelai berita-berita Al-Jazeera secara kontinu. Sebelumnya, berita dari CNN-lah yang masih mencengkeram opini rakyat Indonesia.
Bagi masyarakat umum di negara Eropa, khususnya Inggris, dan Jazirah Arabia, peluang untuk berlangganan juga makin terbuka luas. Untuk ukuran bisnis media, biayanya tergolong murah. Cukup dengan US$ 22,99 per bulan (US$ 275,88 per tahun), pemirsa bisa mengakses tujuh televisi berbahasa Arab, di antaranya LBC, Arab Television
(ART) Movies, ART Music Radio, Future Television, dan Al-Arabiya. Kalau masih belum puas, pemirsa bisa mengambil paket berlangganan 10 media televisi dengan harga US$ 29,99 per bulan (US$ 329,89 per tahun).
Setelah sukses meraup untung dalam perang Afganistan pada 2001, bulan lalu Al-Jazeera mengulangi kisahnya. Karena ada serbuan Amerika ke Irak, dewi fortuna singgah lagi ke stasiun TV ini. Jihad Ali mengaku belum menghitung melesatnya jumlah iklan selama perang kemarin. "Baru seminggu perang, angkanya melonjak hingga US$ 8 juta," katanya. Jadi, silakan hitung sendiri berapa pendapatan mereka selama 21 hari.
Tampaknya, perang memang menjadi paket jualan berita Al-Jazeera. Pendapatan mereka, kata Jihad, meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan dengan abonemen program harian. Duit itu pun cuma numpang lewat. Sebab, stasiun TV yang mengudara sejak November 1996 ini mesti menghidupi sekitar 600 karyawan yang bermarkas di Doha dan 27 biro yang tersebar di seluruh dunia—termasuk Washington, New York, London, Paris, Brussels, Moskwa, dan Islamabad.
Sebagai lembaga bisnis media, Al-Jazeera memilih untuk tetap bertahan. Sejak suntikan investasi awal sebesar US$ 150 juta, target sudah ditetapkan buat mereka: balik modal dalam lima tahun. Hingga kini, hal itu belum terjadi. Tapi Jihad optimistis tahun depan Al-Jazeera sudah balik modal.
Tiba-tiba layar kaca di dinding pesawat bungkam. Sesaat lagi burung besi ini mendarat di Bandar Udara Internasional Dubai. Sekilas terlihat Leena tersenyum, senyampang pramugari mematikan seluruh alat elektronik.
|