Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Selingan

Jurnalis Tumbang di Bantaran Tigris

TAREQ Ayoub seperti masih di sekitar sini, di ruang-ruang studio jaringan televisi Al-Jazeera. Dalam helm dan jaket antipeluru berwarna biru, lelaki berkumis tebal itu seakan masih mampu menatap TEMPO dengan sorot mata yang tajam dan penuh karisma. Ingin rasanya memeluk dan berbincang dengannya ihwal serbuan tentara Amerika ke Irak, Maret lalu. Apa daya, tubuhnya kini membeku dalam poster yang sengaja dipasang di semua sudut dan gerbang studio televisi yang mangkal di Doha, Qatar, itu. "Agar kami selalu mengenang Ayoub," ujar Abeer Kalla, Koordinator Komunikasi dan Media Televisi Al-Jazeera.

Pahlawan, memang, tak harus lahir dari prajurit yang maju ke dan tumbang di medan perang. Seorang Ayoub, yang mati muda, 35 tahun, akibat serangan udara pasukan Amerika, Selasa, 8 April, di atap kantornya di Bagdad, juga layak terbilang. Betapa tidak. Nyawanya meregang dan lepas saat menjalankan tugas mulianya sebagai jurnalis.

Pagi itu, sesudah menunaikan ibadah salat subuh, Ayoub bersiap diri untuk siaran langsung. Ia bersama kamerawan Zuheir al-Iraqi naik ke atap kantornya, di bantaran Sungai Tigris, Jalan 30 Nomor 39, kawasan Karada Mariam. Mestinya ia paham betul bahwa sejak Senin malam telah pecah pertempuran besar-besaran di sepanjang sungai.

Kecintaan pada profesi membuat nyalinya membesar, dan ia memilih keluar dari dalam gedung yang terlindung. Nah, selagi ia berada di atas sana mempersiapkan siaran langsung, tiba-tiba dua ledakan menyongsong. Bom pertama mengenai tubir Sungai Tigris, sementara bom kedua menghantam gudang kecil berisi mesin diesel milik Al-Jazeera.

Serangan itu datang begitu tiba-tiba, hingga Ayoub tak sempat menyadari bahaya pecahan misil yang ternyata menyasari dada dan perutnya. Tanpa ampun, ia roboh dan nyawanya terenggut. Akan halnya Zuheir, lehernya terluka tapi tak membahayakan nyawanya.

Pada saat kejadian, Tayseer Allouni, kolega Ayoub, segera naik dan memanggil-manggil namanya. "Tapi tak berjawab," kata Tayseer. Baru setelah serangan bom reda, ia dan Jaber Obeid, koresponden Abu Dhabi TV, menemukan tubuh nan bersimbah darah. Dua hari kemudian, TEMPO naik ke atap kantor itu dan menyaksikan ceceran darah yang mengering dan dinding bangunan yang pecah terhantam rudal.

Dinding bonyok itu menjadi saksi bisu betapa takdir susah diduga datangnya. Sebelumnya, Ayoub melaporkan liputannya dari perbatasan Yordania-Irak. Baru lima hari ia masuk Bagdad, musibah itu pun menimpanya. "Padahal sejumlah wartawan di Hotel Palestine sudah memperingatkan jauh-jauh hari agar kru Al-Jazeera tidak meliput dari kantornya," kata Toyoda Naomi, fotografer lepas dari Jepang, kepada TEMPO.

Tareq Ayoub lahir di Kuwait pada 1968, dari orang tuanya yang tinggal di Desa Yassouf, Tepi Barat, Palestina. Dari pernikahannya dengan Dima Tahboob, ia dikaruniai seorang putri, Fatima Ayoub, masih 14 bulan. Ia dan seluruh keluarganya menjalani kehidupan di Amman, Yordania, setelah terusir dari kampung halamannya.

Peraih gelar master di bidang jurnalistik ini pernah bekerja di beberapa media, di antaranya Jordan Times, Associated Press (AP), dan World Television News (WTN), di Amman. Sejak 1998, Ayoub menjadi koresponden ekonomi dan keuangan televisi Al-Jazeera. Ia sempat nonaktif karena biro di Amman ditutup pada 7 Agustus 2002 dan baru dibuka kembali pada 19 Maret 2003.

Meski wartawan yang sibuk, Ayoub tetap suami dan ayah yang baik. "Hampir tiap hari ia menelepon, sekadar menanyakan kabar saya dan Fatima," ujar Dima. Dan percakapan mereka Minggu malam, 6 April, rupanya kontak terakhir bagi mereka. "Ia mengaku hanya tidur tiga jam sehari, dan terkesan ia sedang sangat lelah," kata sang istri lagi. Namun Ayoub masih sempat menenangkan istrinya. "Situasinya aman bagi jurnalis," ujarnya ketika itu.

Namun tembakan pasukan Amerika yang membabi-buta telah merenggut Ayoub dari keluarganya. "Mungkin semua orang akan melupakannya. Al-Jazeera pun demikian," ujar Dima, "Tapi kini ia sudah di pangkuan Allah, yang tak akan melupakan siapa pun."
Al-Jazeera, juga, berusaha selalu mengenangnya dengan memasang poster pengingat itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data