Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Selingan

Bergulat Melawan Kecurigaan

Demi menyusun kepingan fakta, wartawan Al-Jazeera rela bertaruh nyawa. Mereka selalu dihadang kegeraman dan kecurigaan.


SUDAH seminggu tragedi itu berlalu, tapi kesedihan masih membayang pada raut muka Mohammad, 31 tahun. Berkali-kali kamerawan televisi Al-Jazeera yang biasanya murah senyum ini menekuk wajah saat berada di lobi Hotel Palestine, Bagdad, pertengahan April silam. Bukan hanya karena kantornya di kota itu jebol dihantam misil Amerika Serikat sepekan sebelumnya, dia galau lantaran kehilangan kawannya, Tareq Ayoub, wartawan Al-Jazeera yang tewas setelah serpihan misil merobek perutnya.

Untuk kesekian kalinya keteguhan Mohammad sebagai kru televisi ditempa. Betapa seribu pengorbanan belum cukup dipersembahkan untuk bisa menyajikan informasi berimbang dan memuaskan bagi pemirsa. Itu sebabnya dia dan juga wartawan seluruh dunia mengutuk keras aksi penyerangan tentara Amerika terhadap kantor Al-Jazeera itu. Apalagi ini bukan kejadian pertama. Pengeboman seperti itu pernah menimpa kantor redaksi mereka di Kabul, akhir 2001 silam, ketika Amerika melancarkan invasi ke Afganistan. Untung, tidak ada korban jiwa.

Serangan Amerika ke Irak beberapa waktu silam memberikan setumpuk pelajaran baru. Di luar kemungkinan mendapat hantaman bom dan peluru, kru televisi Al-Jazeera kerap menghadapi kesulitan. Ini dialami oleh Sayed Mohsen, koresponden Al-Jazeera di Basra. Ketika sedang bertugas, tiba-tiba ia ditodong senjata oleh tentara Inggris, lalu ditahan pada 5 Mei lalu. Perlakuan buruk ini adalah yang ketiga kalinya bagi Sayed selama meliputi di Irak.

Apa alasannya? Juru bicara militer Inggris, Mayor Cath Convery, menyatakan bahwa pihaknya hanya memberikan izin liputan kepada wartawan yang ikut pasukan koalisi. Dan apa yang dilakukannya terhadap Sayed Mohsen, menurut dia, wajar karena tentaranya ingin tahu pasti siapa saja wartawan yang bertugas di Basra.

Bulan sebelumnya, Aqueel Abdul Redha, kolega Sayed di Basra, juga ditahan selama beberapa jam oleh tentara Amerika. Ketika itu, ia sedang mengambil gambar tank Inggris yang menghancurkan gudang makanan di kawasan barat Basra. Setelah diinterogasi, ia dibebaskan begitu saja. Tak lama kemudian, pada 2 April, tempat menginap wartawan Al-Jazeera di Hotel Sheraton Basra mendapat kiriman bom. Menurut Mohammad, empat bom kiriman itu meledak seketika. "Untung saja tak ada kawan saya yang terluka," katanya.

Al-Jazeera termasuk stasiun televisi yang cukup serius meliput invasi Amerika ke Irak. Timnya disebar ke beberapa kota, dengan harapan bisa memenuhi unsur keberimbangan berita. Lima wartawan meliput di Bagdad, dua orang di Basra, dan satu orang di Mosul. Di dua kota terakhir itu, Al-Jazeera satu-satunya media yang berani bertahan saat perang membara. Jangan heran jika liputan Al-Jazeera mampu mengimbangi dominasi CNN ataupun media Barat lainnya.

Ibrahim Hilal, Pemimpin Redaksi Al-Jazeera, punya prinsip, "Perang itu memakan korban di kedua belah pihak. Jika tidak memberitakan dua-duanya, kita belum berimbang." Dan Al-Jazeera tergolong berani ketika menayangkan gambar tentara Amerika yang terbunuh dan lima prajurit yang ditawan pasukan Irak. Ini menimbulkan reaksi dari Amerika karena dinilai tidak etis.

Karena keberanian itu, Al-Jazeera kerap dimusuhi. Bahkan situsnya diobrak-abrik oleh sejumlah hacker. Akibatnya, para pengakses situs Al-Jazeera kelabakan. Ketika mengklik situs ini yang berbahasa Arab, mereka malah digiring ke situs porno. Situsnya yang berbahasa Inggris pun tak luput dari tangan-tangan jail. Orang yang mengaksesnya dibawa ke sebuah situs yang bergambarkan bendera Amerika. Di situ muncul pesan "Let Freedom Ring" dan "God Bless Our Troops". Di pojok halaman situs ini terdapat tanda tangan seseorang yang menyebut dirinya "Patriot".

Ulah semacam itu membuat Jihad Ali Ballout, Direktur Komunikasi Al-Jazeera, yang mengelola situs tersebut, mengelus dada. Dia merasa pihaknya telah menerapkan kaidah jurnalistik yang diakui secara universal. "Kami ini wartawan profesional,bukan lembaga politik yang anti-Barat atau anti-Islam," kata Jihad Ali kepada TEMPO.

Sebagai stasiun televisi partikelir, Al-Jazeera juga sangat mempertimbangkan unsur bisnis. Menurut Jihad Ali, tidak ada ideologi atau pemikiran apa pun yang melandasi kerjanya, apalagi bermaksud melakukan gerakan politik. "Kami hanya ingin mengungkap opini dari kedua belah pihak," ujarnya. Karena itu, ia berusaha memberikan ruang terhadap siapa saja, termasuk kepada pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Ladin.

Hanya, kesan yang mencuat tak seperti yang diharapkannya. Sebagian orang menuduh stasiun televisi yang berbasis di Qatar itu menjadi corong kaum fundamentalis Islam. Tapi tak sedikit pula yang menudingnya pro-Amerika. Bahkan pemerintah Irak pun sempat geram terhadap stasiun televisi ini.

Tak percaya? Lihat saja yang dilakukan Menteri Informasi Irak Said Sahaf pada 3 April silam. Dia meminta agar reporter Al-Jazeera di Bagdad, Diyar al-Omari, dilarang bekerja. Sedangkan Tayseer Allouni, reporter lainnya, diminta segera angkat kaki dari Bagdad. Menurut sumber TEMPO di Kementerian Informasi Irak, sanksi itu dijatuhkan lantaran mereka dinilai lepas kendali. Setiap kali mau melakukan liputan, wartawan di Bagdad mesti mendapat izin Direktur Press Center lebih dulu. Gara-gara sanksi ini, wartawan Al-Jazeera sempat "mogok meliput" di seluruh wilayah Irak sebagai bentuk protes.

Ketika Bagdad jatuh, dan pemerintahan transisi disiapkan, pengalaman yang buruk masih menimpa wartawan Al-Jazeera. Ini gara-gara pernyataan dari Ahmad Chalabi, pemimpin Kongres Nasional Irak, yang disiarkan oleh televisi Abu Dhabi, pesaing Al-Jazeera. Ia menuding Al-Jazeera telah disusupi intelijen Irak berdasarkan data intelijen yang ditemukannya.

Akibatnya? Keselamatan jiwa kru mereka di Basra pun makin terancam. Misalnya, pada 11 Mei lalu, mobil operasional Al-Jazeera dicegat massa. Para demonstran naik ke atas van dan memaki-maki mereka, yang dinilai mendukung rezim Saddam melawan rakyat Irak. Tak ada korban dalam kejadian ini. Tapi mereka akhirnya gagal mewawancarai Ayatullah Mohammad Baqir Hakim, pemimpin Mahkamah Tertinggi Revolusi Islam Irak, yang baru kembali dari pengasingannya di Iran selama 20 tahun.

Bukan cuma di medan perang wartawan Al-Jazeera merasakan getirnya menyusun kepingan fakta. Di Negeri Amerika, reporter stasiun televisi ini juga kerap menemukan kendala. Bersamaan dengan berkobarnya perang di Irak, dua wartawan Al-Jazeera sempat dilarang meliput di New York Stock Exchange. Sanksi itu baru dicabut awal bulan ini.

Rupanya sepak terjang wartawan Al-Jazeera telah membuat pemerintah Amerika kegerahan. Belakangan, Presiden AS George Bush berusaha meredam pengaruh televisi ini. Caranya? Dengan membuat stasiun televisi tandingan. Dikabarkan, dia telah siap menggelontorkan duit US$ 30,5 juta untuk membiayai Middle East Television Network. Diharapkan, stasiun TV ini bisa bersaing melawan Al-Jazeera. Setidaknya ada yang mengimbangi pemberitaannya di Jazirah Arab.

Kekurangsukaan Bush terhadap Al-Jazeera sepertinya menular ke sebagian rakyatnya. Dalam demonstrasi merayakan kemenangan invasi Amerika atas Irak di Detroit, wartawan Al-Jazeera terjepit dalam sebuah kericuhan. Nezam Mahdawi, koresponden Al-Jazeera di Washington, dan seorang kamerawan sempat diamuk oleh massa yang kurang suka terhadap pemberitaan televisi ini.

Semua itu membuat wartawan Al-Jazeera mesti siap menghadapi risiko terburuk. Besarnya pengaruh stasiun televisi ini ternyata bisa membuat orang geram. Daya tembusnya yang luar biasa juga sering mengundang pihak lain curiga. Apalagi stasiun televisi ini bermarkas di sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Maka, ketika berhasil menjalin lobi dengan Usamah bin Ladin, langsung mereka dicurigai sebagai antek Al-Qaidah. Sejumlah wartawan Al-Jazeera yang menayangkan pidato Usamah pun diinterogasi oleh intelijen asing.

Tengok pula nasib Seyam Reda, wartawan Al-Jazeera dari Arab Saudi. Ia terpaksa mendekam di Penjara Cipinang, Jakarta Timur, gara-gara dituduh sebagai agen teroris Al-Qaidah. Seyam dituding sebagai orang yang memberikan jalan kepada Umar al-Faruq, salah satu tokoh Al-Qaidah, dalam menjalankan aktivitasnya di Indonesia.

Menghadapi segala kesulitan semacam itu, wartawan dan kru Al-Jazeera tak gentar. "Tak ada sedikit pun ketakutan menghantuiku," ujar Mohammad, sang kamerawan, saat ditemui TEMPO di Hotel Palestine. Di tengah kesedihannya mengenang rekannya yang tewas, lelaki kelahiran Bagdad ini tak berpikiran untuk pindah kerja atau beralih profesi. "Saya bangga menjadi wartawan Al-Jazeera," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data