Dari Doha, Mendobrak Dunia HANTAMAN rudal Amerika Serikat telah melesatkan televisi Al-Jazeera ke puncak kemasyhuran.Ketika Kabul dipukul, kru televisi ini memilih bertahan dan menjadi saksi keganasan sebuah perang. Saat rudal Amerika meluluhlantakkan Bagdad, lagi-lagi keteguhan mereka diuji. Kali ini seorang wartawannya tewas setelah ledakan menjebol kantornya. Dengan segala pengorbanannya, kini Al-Jazeera menjadi televisi paling hebat di Timur Tengah dan cukup berpengaruh di dunia. Tekadnya ingin mendobrak dominasi media Barat, kendati selalu menuai ancaman dan kecurigaan. Inilah laporan wartawan TEMPO Rommy Fibri, yang bertandang ke markasnya di Doha, Qatar, bulan lalu. |
DI markas Al-Jazeera, dunia benar-benar terasa kecil. Kalau tidak bisa dibilang selebar daun kelor, mungkin seluas selembar peta dunia berwarna hijau muda yang terpampang di ruangan utama stasiun televisi ini. Di bawahnya, ada 32 layar TV kecil yang menampilkan sejumlah siaran televisi internasional lain seperti CNN, BBC, APTN, Reuters, Abu Dhabi, Al-Manar, dan MBC. Setiap kejadian di seluruh pojok planet bumi seolah tak pernahluput dari pemantuan lewat layar kaca tersebut.
Stasiun televisi yang berkantor di Doha, Qatar, itu tidak mau ketinggalan berita. Berpacu dengan ruang dan waktu, para reporter bergerak di setiap jengkal bumi. Kalau perlu, mereka harus berani bertaruh nyawa seperti yang dilakukan Tareq Ayoub, reporter Al-Jazeera, saat meliput invasi Amerika ke Irak. Bagi stasiun televisi ini, dan mungkin juga bagi dunia jurnalistik, Tareq adalah seorang pahlawan. Mengenakan rompi dan jaket antipeluru, wajahnya pun terpampang di poster-poster yang ditempel di setiap sudut ruangan kantor televisi ini. Ketika TEMPO bertandang ke sana akhir bulan lalu, orang-orang terlihat sangat sibuk di depan puluhan komputer. Namun sesekali mereka masih sempat melempar senyum, sambil terus menekan tombol komputer. Terlihat pula sejumlah perempuan berjilbab mencatat dan mengamati kamera yang menyala di ruang perpustakaan. Seluas sekitar 1 hektare, gedung Al-Jazeera cukup megah. Tapi tempat untuk menyiarkan berita cukup kecil. Di sana ada tiga studio dengan luas berbeda. Studio 1 berukuran 5 x 5 meter, yang biasa digunakan oleh presenter untuk membacakan berita. Studio 2 berkisar 15 x 10 meter. Di sudut kanannya, ada satu meja dan tiga kursi, dengan latar belakang gambar perang Irak dan tentara Amerika. Dan di tengah ruangan, tersedia satu meja dan empat kursi. Studio ini biasanya dipakai ketika mereka mengundang narasumber. Adapun Studio 3 luasnya hampir sama dengan Studio 1. Ruangan ini jarang digunakan.
Dari ruang-ruang sempit itulah Al-Jazeera menyebarkan berita, dan sering membuat gempar dunia. Ketika berkunjung ke stasiun ini beberapa tahun lalu, Presiden Mesir Husni Mubarak pun heran. "Berita yang dahsyat itu, semuanya muncul dari kotak korek api ini?" komentarnya. Stasiun milik Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al-Thani itu merupakan satu-satunya stasiun televisi berbahasa Arab yang mengudara tanpa henti selama 24 jam. Khalayak dunia mulai mengenal sepak terjang televisi ini pada Perang Afganistan tahun 2001. Ketika Amerika memulai serangannya, publik bisa menikmati siaran langsung jantung Kota Kabul. Dan saat semua jurnalis diusir keluar oleh Taliban, Al-Jazeera menjadi satu-satunya media yang meliput dari Kabul. Mereka pun pernah mendapatkan video rekaman ceramah Usamah bin Ladin berdurasi tiga menit, yang kabarnya direkam sekitar dua pekan setelah peristiwa 11 September 2001.
Rekaman itu sempat memicu kontroversi. Soalnya, pada 31 Januari 2002, CNN tiba-tiba menayangkan duluan sebelum Al-Jazeera. Dari mana mendapatkannya? Ada kemungkinan dari intelijen Amerika. Sebab, sebelumnya memang ada intelijen asing yang meminta rekaman tersebut dari Al-Jazeera. Stasiun Al-Jazeera sendiri kurang bernafsu menayangkan rekaman tersebut karena khawatir dicap sebagai corong Usamah. Lagi lupa, isinya bukan wawancara, tapi ceramah pemimpin Al-Qaidah ini di depan pengikutnya.
CNN nekat menayangkan rekaman tersebut dengan alasan sudah mengantongi kontrak kerja sama dengan Al-Jazeera. Hanya, hal ini ditepis oleh Mohamed al- Ali, Managing Director Al-Jazeera. "Itu tidak termasuk dalam perjanjian, karena Al-Jazeera sendiri belum menyiarkannya," kata Ali. Karena CNN sudah menayangkan rekaman itu, akhirnya Al-Jazeera pun buru-buru menyiarkannya. Sedari awal pengelola Al-Jazeera berupaya melawan dominasi media Barat. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia, banyak sisi lain dari setiap peristiwa yang luput atau sengaja tak disorot oleh kamera televisi Amerika, termasuk CNN. Ini tecermin dari iklan mereka yang dipasang majalah regional Middle East. Iklan dua halaman ini cuma diisi dengan satu kalimat, "Jika semua orang menonton CNN, lalu apa yang mereka tonton?" Di bawahnya dipasang logo Al-Jazeera.
Dengan jargon semacam itu, Al-Jazeera tak cuma mampu menyedot perhatian sekitar 35 juta pemirsa setianya di negara-negara Arab. Tayangannya juga diintip oleh miliaran penduduk dunia, termasuk 150 ribu orang di Amerika Serikat. Selain dikenal sebagai media peliput perang, Al-Jazeera juga telah memasuki arena pertempuran opini publik dunia. Setelah gedung kembar World Trade Center luluh-lantak dihajar teroris, televisi ini tak ikut-ikutan menghujat habis Usamah bin Ladin yang diduga sebagai dalangnya. Al-Jazeera malah menayangkan ulang hasil wawancaranya selama 90 menit pada tahun 1999 dengan Usamah. Dalam wawancara ini Usamah menyatakan respek dan hormatnya kepada mereka yang mengebom kekuatan Amerika di Arab Saudi pada 1995 dan 1996. "Orang-orang Amerika telah menjarah tanah kaum muslim, dan ketika dilawan, mereka menyebutnya sebagai terorisme," katanya ketika itu.
Keruan saja ucapan itu membuat merah kuping Amerika. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap Al-Jazeera lewat Emir Qatar, dalam pertemuan pada 13 Oktober 2001. Enam minggu kemudian, pada 13 November, bom 250 kilogram memporak-porandakan biro Al-Jazeera di Kabul.
Sebuah kesengajaan? Awal Desember, Mohammed al-Ali menerima surat dari Victoria Clarke, Asisten Menteri Pertahanan Amerika, yang menyatakan bahwa mereka sama sekali tak tahu kalau itu kantor Al-Jazeera. Ali mengabaikan surat ini. Soalnya, semua orang di Kabul tahu di mana kantor televisi ini. "Seratus persen mereka sudah tahu bahwa di situlah kami berkantor," kata Ali. Pada 31 Januari 2002, Committee to Protect Journalist sempat meminta penjelasan Departemen Pertahanan atas kasus pengeboman tersebut. Tapi mudah ditebak, Amerika berkelit dengan alasan tidak sengaja.
Bukan cuma pemerintah Amerika yang risau. Liputan Al-Jazeera juga kerap menuai kritik dari kalangan intelektual, termasuk Profesor Fuad Ajami, pakar Timur Tengah di Universitas Johns Hopkins. Ia menyatakan bahwa Al-Jazeera telah salah memposisikan Usamah sebagai bintang, dan menjadikan George Bush sebagai bandit. Di mata Ajami, televisi ini tak ubahnya seperti corong Taliban di Afghanistan.
Tudingan semacam itu dibantah keras oleh Hafiz Mirazi, Kepala Biro Al-Jazeera di Washington. "Kami harusnya dituduh sebagai corongnya Bush, karena dia dapat porsi lebih banyak dalam jam siaran kami," ujarnya. Lagi pula pihaknya juga cukup sering mewawancarai juru bicara kepresidenan Amerika. Karena tekadnya yang tak pernah goyah untuk menjebol dominasi televisi Amerika, Al-Jazeera terus-menerus dimusuhi. Dalam Perang Irak tempo hari, kantornya di Bagdad dan Basra dibom. Korban pun jatuh. Tareq Ayoub, wartawan Al-Jazeera yang saat itu meliput di Bagdad, tewas terkena serpihan misil (lihat Jurnalis Tumbang di Bantaran Tigris).
Sekali lagi, itu bukan keteledoran tentara Amerika. Sebab, sebelumnya, tepatnya pada 24 Februari 2003, Mohammed al-Ali sudah mengirim surat ke Victoria Clarke, Asisten Menteri Pertahanan Amerika di Washington. Isinya? Memberitahukan posisi kantor Al-Jazeera di kawasan Karada Mariam, Bagdad.
Tapi kepedihan itu menebarkan berkah. Kini mereka bisa berbangga karena tak sedikit stasiun televisi merelai berita Al-Jazeera, termasuk sejumlah televisi di Indonesia. Sejumlah kontrak kerja sama pun menyambangi mereka, termasuk dari CNN, ZDF Jerman, ABC News, CBS, NHK Jepang, Shanghai TV, France TV, dan BBC (lihat Mendulang Emas dari Medan Perang).
Banyak orang menduga, keberuntungan mulai menghampiri Al-Jazeera setelah menjalin hubungan baik dengan Usamah. Apalagi sejak 1999, Usamah menjadi figur publik atau sosok yang cukup disegani di kalangan umat Islam. Saat itu, kata Jihad Ali Ballout, Direktur Komunikasi Al-Jazeera, tak banyak media yang mau memberi tempat bagi Usamah. Selain beroposisi dengan Arab Saudi, tokoh ini jelas-jelas menunjukkan kekurangsukaannya terhadap Amerika.
Hanya kedekatannya dengan Usamah sebatas hubungan antara media dan sumber berita. Menurut Jihad Ali, jurnalis harus membina hubungan baik dengan siapa saja, tanpa kecuali. "Kita juga mesti mendapat informasi dan wawancara dari kedua belah pihak yang bertikai untuk memenuhi kaidah keberimbangan berita," ujarnya.
Kendati menghadapi ancaman bom, Jihad Ali tidak merasa wartawan televisinya di-black list oleh Amerika. "Tidak ada kesulitan bagi Al-Jazeera untuk mencari berita di Amerika," katanya. Amerika juga akan rugi sendiri jika tidak memberikan wawancara kepada Al-Jazeera, karena akan kehilangan media untuk memasok ide-idenya ke Timur Tengah. Bagi Jihad Ali, apa yang dialami oleh reporter Al-Jazeera selama ini merupakan hal yang lumrah di dunia jurnalistik. Dia pun menegaskan, "Ada tekanan atau tidak, kami tetap bekerja profesional."
Tapi Jihad tak mau mengungkapkan seberapa besar gaji sebenarnya reporter Al-Jazeera. Yang pasti, katanya, "Jurnalis kami mempunyai pendapatan yang memadai, dan semua orang senang." Selain menerima gaji, para wartawan dan karyawan mereka juga diberi asuransi profesi dan asuransi jiwa. Kata Jihad, ini patut diberikan karena Al-Jazeera juga menuntut mereka dengan tingkat profesionalitas yang tinggi.
Meski cukup sukses mengguncang dunia, Al-Jazeera masih mengalami penolakan dari sebagian negara di Timur Tengah. Alasannya, informasi dan kebebasan bersuara yang disodorkan oleh televisi bisa menimbulkan instabilitas regional. Bahkan pemerintah Kuwait, menurut lembaga Riset Gallup, pernah meminta agar Al-Jazeera ditutup karena beritanya dinilai bias. Tudingan Kuwait sungguh tak beralasan, karena survei Gallup menunjukkan sekitar 54 persen responden di negeri ini menilai pemberitaan Al-Jazeera sudah obyektif.
Dari survei Gallup juga terbukti Al-Jazeera menduduki peringkat nomor satu dari 16 stasiun TV yang ada di negeri-negeri Arab. Untuk kategori cakupan berita yang komprehensif, televisi ini mendapat angka 85 persen suara dari warga Kuwait, Arab Saudi (61 persen), Yordania 70 persen, dan Maroko 53 persen. Sebagian besar responden di negara-negara Timur Tengah juga menyebut Al-Jazeera sebagai televisi yang paling berani.
Karena prestasinya pula, Al-Jazeera mendapat Penghargaan Ibn Rushd pada 1999 di Jerman. Ini adalah penghargaan atas keberhasilannya dalam mengusung kebebasan pers dan berekspresi. Lantas, pada Maret 2003, di sela-sela meliput perang di Irak, mereka menerima lagi penghargaan Best Circumvention of Censorship dari Index on Censorship, sebuah majalah Inggris yang aktif mengkampanyekan kebebasan berekspresi. Semua itu juga merupakan acungan jempol terhadap reporter dan kamerawan Al-Jazeera, yang berjibaku di seluruh pelosok dunia, termasuk di medan pertempuran. Hasil jerih payah mereka, yang disiarkan lewat ruang sempit di kantor Al-Jazeera, kerap membuat dunia terpana dan membikin gerah Amerika.
|