Dua Wajah Ali Imron Mengapa keterangan Ali Imron tentang perannya dalam kasus bom Bali tak konsisten?
|
Ali Imron, 33 tahun, tersangka utama kasus bom Bali, mungkin layak disebut aktor kawakan. Selama beberapa bulan, ia berhasil meyakinkan publik tentang kehebatan dirinya: seorang pemuda desa yang mahir membuat bom. Ia meracik bahan peledak, menyusunnya menjadi satu, serta mengatur alat pemantik ledakan dalam aksi pengeboman kawasan Kuta, Bali, 12 Oktober lalu.
Tapi dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Ali yang kopinya diperoleh TEMPO, pemuda asal Tenggulun, Jawa Timur, ini tak lebih hanya "ayam sayur". Ia bukan perancang strategi, apalagi seorang ahli bom.
Persidangan Ali memang belum akan digelar dalam waktu dekat. Saat ini, dari sederet tersangka kasus bom Bali, baru Amrozi, kakak kandung Ali Imron, yang telah disidang. Sedangkan Imam Samudra, tersangka asal Serang, Banten, dijadwalkan akan disidang pada 2 Juni mendatang.
Tapi kisah tentang Ale—begitu Ali Imron biasa disapa—adalah cerita menarik pelaku bom yang membunuh 202 orang tersebut. Februari lalu, dengan gaya bak dosen, pemuda bergigi gompal itu menjelaskan cara merakit bom di depan puluhan wartawan. Ia menyusun bom dalam lemari plastik, merangkai kabel penghubung dan menyiapkan alat pemantik. ''Saya marah kalau masih ada yang meragukan kemampuan kami anak-anak Tenggulun dalam merakit bom," kata guru agama Islam yang pernah ikut Perang Afganistan pada 1993-1994 itu.
Polisi juga hakul yakin akan kemampuan Ali Imron. "Masyarakat tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah kelompok Tenggulun yang cuma bersandal jepit dan berasal dari desa terpencil itu mampu membuat bom," kata Ketua Tim Investigasi Bom Bali, I Made Mangku Pastika.
Tapi, dalam rekonstruksi yang dilakukannya, Ale ternyata tak sehebat itu. Lihat rangkaian adegan rekonstruksi di rumah Jalan Pulau Menjangan 18, Denpasar. Dari 15 adegan yang dilakukan Ale di sana, lebih dari separuhnya justru menggambarkan terbatasnya peran Ali dalam perakitan bom.
Misalnya ketika bom sedang diracik. Ale tampak hanya melihat para tersangka lain, yakni Abdul Ghoni, Umar Patek, dan Sawad mengaduk campuran potasium klorat, bubuk aluminium, dan sulfur menjadi bubuk hitam.
Kesan bahwa Ali Imron jagoan bom juga bertolak belakang dengan pengakuannya dalam berita acara. Jawabannya atas 68 pertanyaan penyidik tidak menunjukkan bahwa Ali Imron ahli bom. Selama proses peracikan bahan peledak di rumah Jalan Pulau Menjangan, Denpasar, Ali Imron cuma bertugas berjaga di luar rumah. "Saya menjaga di luar rumah. Kadang-kadang belanja dan menyiapkan makanan," kata Ali Imron, menjawab pertanyaan penyidik.
Di bagian lain, petugas bertanya, "Apakah Saudara mengetahui siapa yang membuat bom dan bagaimana cara membuat bom tersebut?" Jawab Ale, "Yang membuat bom itu adalah Dul Matin, Lan, Abdul Ghoni, Sawad, dan Umar Arab. Saya tahu tapi tidak keseluruhan."
Mengapa Ali mendua wajah? Sumber TEMPO mengungkapkan bahwa Ale bersedia mengaku ahli bom setelah mendapat tekanan penyidik. Ia merasa tertekan setelah penyidik menunjukkan foto-foto penyiksaan terhadap kakaknya, Ali Gufron. ''Rupanya Ali tak tahan. Ia takut mendapat siksaan yang sama jika tidak menuruti kemauan penyidik,'' kata sumber itu lagi.
Sumber lain menyebut kisah dua wajah Ali itu terjadi karena pelaku peracik bom yang sesungguhnya—antara lain Dul Matin dan Abdul Ghoni—hingga kini belum tertangkap. Kejanggalan itu, menurut Adnan Wirawan, koordinator tim pembela Amrozi, menunjukkan adanya indikasi rekayasa. "Ya, begitulah, semua juga bisa menilai jika itu proses rekayasa," kata Adnan kepada Ecep S. Yasa dari Tempo News Room.
Namun tudingan miring itu dibantah Made Mangku Pastika sejak awal. "Tidak ada rekayasa. Justru kami menginginkan pengungkapan kasus bom Bali seobyektif mungkin," tutur Pastika. Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris, Jenderal Erwin Mappaseng, malah ogah berkomentar. "Sudah, nanti lihat saja di pengadilanlah," ujar Erwin kepada Dimas dari Tempo News Room, Jumat pekan lalu. Kini seluruh berkas sudah dilimpahkan ke kejaksaan.
KMN, Jalil Hakim (Denpasar)
|