Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Laporan Utama

Bunyi dan Sunyi di Tanah Rencong

Dari balik perahu kayu, suara rintihan itu terdengar, "Lailaha Ilallah, Lailaha Ilallah." Sambil mengusap air mata, perempuan itu menangis lirih. Di depannya, suaminya terkapar berlumuran darah. Sisa air laut di perahu tua itu telah merah bercampur darah.

Jalil, 50 tahun, adalah korban sipil pertama dari operasi militer di Tanah Rencong. Hari itu, Kamis pekan lalu, serombongan tentara dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengejar anggota GAM yang melarikan diri ke laut di kawasan Matangnibong, Peurlak, Aceh Timur. Beberapa anggota GAM dapat ditangkap. Tapi malang bagi Jalil. Kapalnya dicurigai TNI sebagai bagian dari rombongan GAM. Senapan menyalak. Jalil tewas.

"Apakah Ibu tidak mendengar panggilan kami supaya menepi?" tanya seorang tentara. Istri Jalil menjawab, "Kami tidak dengar, Pak," Kemudian, tak banyak percakapan. Kepala Seksi Operasi Satgas Mobil 1 Komando Operasi TNI, Kapten Iwan Setiawan, yang berada di lokasi, meminta warga menguburkan mayat Jalil.

Lalu sunyi.

Aceh setelah operasi militer adalah kawasan tempat bunyi dan sunyi bersekutu. Sebentar terdengar suara salak senapan. Lalu hening. Sebentar sayup suara isak. Lalu sepi.

Di kampung-kampung di pedalaman Bireun dan Lhokseumawe, sekolah-sekolah dimakan api. Ada orang-orang berpenutup kepala datang, lalu suara gemericik api terdengar. Tak lama, setelah semuanya lumat, yang tersisa hanya hangat tanah yang terbakar, juga abu buku yang beterbangan. Tak ada suara. Seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Ketika tentara Indonesia diterjunkan dari pesawat terbang, ada suara gemuruh. Tapi juga hanya sebentar. Ketika malam tiba dan lampu-lampu padam karena tiang listrik dirobohkan anggota GAM, sepi kembali mencekam.

Di Tanah Rencong, setelah operasi militer, bunyi dan sunyi bersekutu. Berganti-ganti. Menyayat hati.

Arif Zulkifli, Abdul Manan (Lhokseumawe)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data