Bumi Hangus di Darulperang |
NURDIANA binti Ismail, 12 tahun, membisu gagu menyaksikan gedung sekolahnya ludes dilahap api. Kesedihan menorehi wajah murid Sekolah Dasar Negeri Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, itu. Kesedihan yang dicoba dipendamnya akhirnya meledak juga, pecah dalam tangis, ketika matanya menyapu ruang kelasnya yang tinggal kerangka kayu hitam membisu. Meskipun ujian akhir sudah dekat, Nurdiana harus segera melupakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.
Masih segar dalam ingatan gadis berkulit hitam ini, Senin pukul 19.00 pekan lalu sekelompok pengendara motor mendatangi desanya. Sambil memuntahkan jeroan senjata api, mereka menyulut bangunan sekolah yang sudah disirami bensin. Api langsung berkobar, melalap hampir seluruh bangunan SD, termasuk ruang kelas enamnya. Itulah satu dari 73 bangunan sekolah di Bireuen yang malam itu menjadi arang.
Nama diri "Negeri Aceh yang Damai" sungguh ironi dengan kenyataan kini. Belum genap sepekan pemberlakuan darurat militer di sana, sekurangnya 328 sekolah rata dengan tanah dengan kerugian sekitar Rp 50 miliar. Siapa pelakunya? Pihak TNI menuding Gerakan Aceh Merdeka, tapi GAM membantahnya. Siapa pun pelakunya, mereka telah menelantarkan 100 ribu siswa. Pendidikan di Aceh poranda dalam sekejap.
Untung, pemerintah cukup sigap. Pekan ini, Jakarta menyiapkan Rp 32 miliar untuk membangun sekolah darurat dari tenda plastik. Pembangunan gedung sekolah baru akan dilakukan pascadarurat militer. "Kalau sekarang dibangun, terus dibakar lagi, apa gunanya?" kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla.
Bukan sekolah saja yang hangus. Sedikitnya 30 rumah warga, 3 gedung pemerintahan, 7 jembatan, 1 pos TNI, 1 pompa bensin, 6 truk, 1 bus, dan 1 mobil Colt hangus dibakar GAM. Puluhan warga sipil pun direnggut maut. Warga di daerah-daerah paling terkonflik—Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur—dirasuk panik. Sembilan bahan pokok sulit dicari—kalaupun ada, harganya melangit. Itu karena pengusaha angkutan takut mengoperasikan armadanya. Selain bus dan truk dihadang dan dibakar kelompok bersenjata di sejumlah ruas jalan, puluhan batang pohon besar dan tiang listrik dirubuhkan ke jalan-jalan.
Kontak senjata TNI-GAM, yang terjadi di hampir semua kabupaten, telah mewabahkan ketakutan di serata tempat. Akibatnya, para pencari keamanan mengungsi ke kota-kota. Hingga pekan lalu, tercatat 15.662 pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain di Aceh Tengah 885 orang, Aceh Selatan 8.338, Aceh Barat 5.220, Aceh Barat Daya 130, dan Aceh Tamiang (pecahan Aceh Timur) 340 orang. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah memperkirakan, jumlah pengungsi akan terus berlipat, mencapai 100 ribu jiwa, selama masa darurat militer. Untuk penanggulangan pengungsi, Departemen Sosial telah mengirim dana Rp 50 miliar ke Pemerintah Daerah Aceh.
Mungkin saja ada yang mara ke luar negeri. Untuk mengantisipasi pendomplengan oleh tokoh-tokoh separatis, Departemen Luar Negeri dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan telah mengkoordinasinya dengan sejumlah perwakilan negara tetangga. "Yang perlu dicermati adalah adanya kemungkinan tokoh atau anggota GAM melarikan diri ke luar negeri," ujar Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo B. Yudhoyono di Gedung Pancasila, Jumat pekan lalu.
Untuk menangani pengungsi Aceh di daerahnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menyiapkan Rp 500 juta. Terutama buat mengantisipasi penyusupan orang GAM, Pemerintah Kota Medan, Kodim 0201/BS, dan Kepolisian Kota Besar Medan menggelar Operasi Pengamanan Terpadu Kota Medan. "Darurat militer yang kini berlaku di Aceh bukan tidak mungkin berakibat ke Medan. Belum 'dipencet' saja ternyata sudah banyak yang lari ke Medan," ujar Komandan Kodim 0201 Letkol Inf. Wiyarto.
Sejak 1998, di Sumatera Utara terdapat 12 ribu keluarga pengungsi asal Aceh, yang umumnya ditampung di Kabupaten Langkat. Pekan lalu, datang lagi 200 pengungsi asal Aceh Tenggara. Ini akan menjadi persoalan tambahan bagi tuan rumah yang berbatasan langsung dengan darulperang itu.
Cahyo Junaedy, Zainal Bakri (Aceh), Bambang Soedjiartono (Medan)
|