Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Laporan Utama

Bila 'Cuak' Berguguran

Perang ternyata bukan hanya terjadi di Aceh, tetapi juga sampai ke Ambon. Setidaknya, itu terjadi terhadap para pengkhianat yang memberikan informasi kepadapihak musuh, yang dalam bahasa Aceh disebut"cuak". Setelah Arjuna dikabarkan tewas dua pekan silam karenapengadilan GAM (lihat Segelas Kopi yangTerakhir), mayat Fauzi Hasbi Geudong ditemukan di lereng bukit di KebonCengkeh, Batu Merah, Ambon.

Dugaan pembunuhan Fauzi alias Abu Jihadberkaitan dengan GAM diyakini Kepala Badan Reserse danKriminal Polri Komisaris Jenderal Erwin Mappaseng. "Polisisedang menyelidiki keterkaitan pembunuhan tersebut denganGAM. Karena itu, anggota polisi dari Polda Nanggroe AcehDarussalam ikut berangkat ke Ambon untuk penyelidikan disana," kata Erwin. Hal itu sudah tampak, menurut Erwin,berdasarkan bukti awal, bahwa seorang dari tujuhtersangka pelaku pembunuhan yang kini ditahan di Ambon, yakniHermanto alias Yanto, diduga adalah anggota GAM.

Abu Jihad, 55 tahun, bekas Kepala Staf AngkatanPerang Aceh Merdeka dan pendiri GAM, hilang sejak 23Februari lalu di ibu kota Maluku, bersama dua rekannya EdiPutra dan Ahmad Saridup. Kontak terakhir diterima istrinya,Elvi Zahara, lewat telepon. Saat itu Abu Jihad, yang beradadi kamar 308 Hotel Nisma, Ambon, merasa sedangdikepung. "Di luar hotel terlihat banyak polisi," katanya sepertiditirukan Elvi.

Seorang karyawan hotel mengaku kepada Lamkaruna Putra, anak Fauzi, ada empat orang yang menunjukkankartu identitas polisi menggerebek kamar Abu Jihad. Satudi antaranya, Brigadir Syarif Tarabubun, intel PolresAmbon dan Pulau Lease. Polisi berhasil menemukan mayatFauzi setelah menyusuri laporan, termasuk soal pemerasan dan pencairankartu ATM milik Abu Jihad dan menangkap tujuh orang termasuk Syarif.

Fauzi termasuk yang dikategorikan oleh GAM sebagai cuak.Sejak lepas dari tahanan pada tahun 1977, Abu Jihad tinggal di Medan,akrab dengan seorang petinggi militer, dan menyatakan diri keluar dariGAM. Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin mengakui Fauzi yangditangkapnya telah dapat dibina dan banyak membantu mengungkapanatomi dan jaringan GAM.

Dalam laporan Direktur International Crisis Group,Sidney Jones, Abu Jihad juga disebut memelihara hubungandengan Jamaah Islamiyah. Fauzi mengaku hadir dalampertemuan di Kuala Lumpur yang dihadiri Abu Bakar Ba'asyirdan Hambali. "Saya hanya hadir beberapa menit dipertemuan itu," kata Abu Jihad kepada Suseno dariTempo News Room awal Januari lalu.

Tak aneh, kehadirannya di Ambon diduga juga berkaitan dengan jaringan gerakan Islam itu. Tapi, Fauzi membantah dan mengatakan kepergiannya ke Ambon semata untuk bisnis cengkeh dan pala. Menurut pengacara keluarga, Mohamad Ali, dari hasil autopsi mayat Abu Jihad, diketahui ia sudah meninggal tiga bulan lalu. Masih belum jelas apakah Fauzi tewas karena dibunuh GAM, Jamaah Islamiyah, atau karena bisnis. Pengacara Ali membantah kematian Fauzi karena GAM. "Kalau terkait GAM, bisa dibunuh di Medan, di Aceh, atau di Jakarta. Kenapa mesti ditunggu di Ambon," katanya. Yang terang, Jumat pekan lalu mayatnya dibawa ke Jakarta kemudian dibawa lagi ke Medan untuk dikuburkan secara layak.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data