Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Laporan Utama

Segelas Kopi yang Terakhir

Kedatangan bekas pentolan Aceh Merdeka yang sudah membelot ke Republik Indonesia di Bireuen seperti menyetorkan nyawa. Kenapa Arjuna dieksekusi?

Segelas kopi hangat yang dibuat oleh adiknya menjadi minuman terakhir Arjuna bin Ahmad Daud. Lelaki kelahiran Desa Selatan, Kecamatan Batee, Pidie, Aceh, 5 Juni 1963 itu tewas setelah beberapa jam mengunjungi tempat tinggal orang tuanya di Desa Beurawang, Bireuen.

Rabu dua pekan lalu, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad, dengan menumpang ojek, Arjuna sampai di rumah Sairah, ibunya. Arjuna menolak tawaran makan siang dari ibunya. "Dia bilang sudah makan siang di Bireuen, malah berjanji akan memotong ayam untuk makan malam bersama," kata Sairah, 63 tahun, yang matanya sembap bekas tangis. Kepada adik bungsunya, Mutia Zaitun, Arjuna juga sempat meminta dibuatkan obat tradisional untuk kencing manis.

Namun, belum sampai malam, Arjuna segera pergi dengan adiknya, Armia Ahmad Daud, 36 tahun, ke rumah pamannya, Teungku Darmansyah, yang berada dekat musala desa, tak jauh dari rumah Sairah. Di rumah itulah tiba-tiba 30 orang bersenjata datang menyergap. "Kedua abang saya langsung diikat tangannya ke belakang. Bang Arjuna sempat bilang, berikan saya waktu untuk bicara sebentar. Tapi orang-orang itu tidak menggubrisnya dan membawa keduanya," kata Hayatun Nufus, 29 tahun, adik Arjuna yang lain.

Teungku Darmansyah dan beberapa warga sekitar di depan rumah berusaha menahan, tetapi gerombolan bersenjata itu menakut-nakuti massa dan membawa paksa kedua anak Sairah itu. "Mereka berdua dibawa dengan sepeda motor ke arah barat desa," ujar Sarbaini, 32 tahun, adik Arjuna.

Akhirnya keluarga hanya bisa pasrah. Berdasarkan pengalaman selama ini, setiap orang yang dibawa pergi oleh kelompok bersenjata pasti tak akan kembali. "Malam harinya kami langsung melaksanakan salat gaib dan menganggap sebagai hari pertama keduanya meninggalkan kami," kata Sarbaini. Malam itu juga digelar tahlil yang dihadiri ratusan warga sekitar. "Suasana malam itu seperti pasar malam, ramai, tetapi mencekam," ujar seorang warga Desa Beurawang.

Memang, Arjuna dan Armia dibawa ke dalam hutan tak jauh dari rumah itu. Keduanya dipisahkan. Arjuna diadili oleh majelis yang sudah dibentuk Gerakan Aceh Merdeka. Dalam persidangan itu, menurut sumber TEMPO, Arjuna diminta membuka kontak-kontak jaringannya dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan memberi tahu siapa saja orang Aceh yang berhubungan dengan TNI. Kalau dia mau membuka, kesalahan Arjuna akan diampuni.

Namun Arjuna menolak permintaan itu. Majelis Persidangan GAM masih memberi kesempatan Arjuna untuk berpikir-pikir selama empat jam. Tapi Arjuna tetap bungkam. Majelis akhirnya menjatuhkan hukuman mati bagi Arjuna. Kesalahannya: sebagai pengkhianat aktif, yang bekerja sama dengan musuh. Gara-gara pengkhianatan itu, terjadi perang saudara antarkelompok GAM. Tengah malam, eksekutor GAM menembak Arjuna tiga kali, dan bekas Panglima Aceh Merdeka untuk wilayah Pidie itu tersungkur ke tanah.

Hanya kabar duka bahwa Arjuna tewas yang kembali ke rumahnya. Desa Beurawang, Kecamatan Jeumpa, sangat sepi dan terasa mencekam saat wartawan TEMPO Zainal Bakri memasuki ujung desa itu. Padahal perkampungan tempat ibu Arjuna, Sairah, hanya berjarak 5 kilometer utara pusat Kota Bireuen.

Juru bicara GAM wilayah Batee Iliek, Teungku Zarkata, tak bisa memastikan penculikan tersebut dilakukan oleh anggotanya. "Masalahnya, situasi di lapangan yang banyak terdapat aparat keamanan itu tidak memungkinkan kami berbuat begitu," dalih Zarkata.

Dugaan pelaku eksekusi itu GAM cukup kuat, karena sehari setelah menghilangnya Arjuna, juru bicara Teuntara Neugara Atjeh, Teungku Sofyan Daud, memberikan komentar tentang pengkhianatan yang dilakukan Teungku Amri bin Abdul Wahab. "Suatu saat ia (Amri) akan jatuh juga ke dalam tangan bangsa Aceh, seperti yang dialami oleh Arjuna," kata Daud.

Memang, kedatangan Arjuna ke Aceh sungguh mengejutkan. Sejak dia menyeberang ke Indonesia, paling jauh hanya sampai Medan. "Kali ini dia terlalu percaya diri bahwa kampung ibunya sudah dikuasai TNI, jadinya dia berani ke sana," kata dosen Universitas Syiah Kuala, Otto Syamsudin Ishak.

Arjuna memang sosok yang pernah mempunyai pengaruh besar dalam Gerakan Aceh Merdeka wilayah Pidie sekitar tahun 1990. Saat itu kelompoknya lebih dikenal dengan sebutan AM (Aceh Merdeka). Pemuda bertubuh kekar itu pada masanya merupakan pentolan paling dicari satuan taktis Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Batee. Arjuna menghabiskan masa kecilnya di tempat lahirnya sampai lulus SMP. Lalu pergi ke Banda Aceh dan masuk Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Tidak sampai dua tahun, Arjuna pindah ke Fakultas Pendidikan Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Kabupaten Pidie. "Saat sedang kuliah di situlah, dia bergabung dengan Aceh Merdeka," kata Sairah.

Ayahnya, Ahmad Daud—pegawai di kantor kecamatan dengan golongan II B—tidak bisa menahan keinginan anaknya. Empat tahun kemudian, Arjuna pamit pergi berlatih militer di Tanjura, Libya. Hanya setahun di Negara Muammar Qadhafi itu, Arjuna kembali ke Aceh pada 1989. Sepulang dari Libya, pada awal September 1990, Arjuna dan pasukannya menyerang Markas Polsek Batee.

Serangan itu menggegerkan masyarakat Pidie, karena merupakan penyerangan pertama yang pernah terjadi di Pidie sejak Aceh Merdeka dideklarasikan pada 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan Tiro.

Penyerangan itu membuat berang aparat keamanan. Arjuna seperti menghilang ditelan bumi. Ayahnya, Teungku Ahmad Daud, dan adiknya, Sarbaini, ditangkap dan ditahan di Pos Komando Taktis Jaring Merah Batee. Rumahnya di Desa Selatan dibakar tentara.

Sejak ditahan, Ahmad Daud tak pernah kembali, sedangkan Sarbaini dibebaskan setelah ditahan beberapa bulan dan wajib lapor ke Komando Resor Militer selama empat tahun, sampai 1994. Keluarga yang masih ada mengungsi ke Bireuen. "Kami tidak tahu Arjuna ada di mana. Hubungan dengan keluarga terputus sama sekali, dia tidak pernah memberi kabar," kata Sairah.

Tahun 1998, Sairah mendapat surat dari Arjuna, yang berada di Negeri Selangor, Malaysia. Arjuna mengaku rindu dengan ibunya. Ia juga mengirim uang untuk ongkos ibunya berangkat ke Malaysia menemui dirinya. "Itu pertemuan saya pertama dengan Arjuna setelah dia lari ke hutan," kata Sairah.

Setahun setelah pertemuan itu, Arjuna menyerahkan diri ke TNI, lalu pindah ke Bekasi Barat dengan istri dan tiga anaknya. Tahun lalu TEMPO masih menemuinya di sebuah warung di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Ia mengaku minta perlindungan seorang perwira tinggi TNI. "Saya melihat baju seragam polisi saja ketakutan, dan tak ada yang melindungi saya," katanya waktu itu.

Kepala Polisi Resor Bireuen, Komisaris Laksa Widiyana, mengaku mendapat informasi soal penculikan Arjuna. "Tapi saya tak bisa memberikan pernyataan karena pihak keluarga tidak melaporkan apa pun kepada polisi," kata Laksa. Namun, sebagai petugas, Laksa mengirimkan anggotanya untuk menyelidiki kabar itu. "Tapi kami mau bilang dia sudah tewas tidak bisa, karena tak tahu di mana mayatnya," kata Laksa.

Soal kematian Arjuna dan adiknya, Armia, tak lagi bisa ditolak. Keluarganya pun hanya pasrah menerima nasib. "Kami ikhlas, tapi beri tahu di mana mayatnya, agar kami dapat menguburkannya dengan baik. Ayah kami dulu juga hilang, tak tahu di mana kuburnya," kata Hayatun Nufus, berurai air mata.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data