Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Luar Negeri

Flamboyan yang Tak Pernah Kalah

Mundur dan mengejek. Itulah kelakuan si gaek flamboyan Carlos Menem mempermalu-kan saingannya, Nestor Kirchner.

Menem, 72 tahun, tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya pada 14 Mei sebelum pemilihan presiden putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung Ahad pekan lalu. Padahal pada putaran pertama mantan presiden keturunan Arab ini berhasil mengangkangi Kirchner, meski dengan angka tipis. "Saya sudah menang dalam putaran pertama. Dia (Kirchner) boleh mengantongi 22 persen suara, saya akan mengantongi suara rakyat," Menem mengejek.

Masih hangat di telinga pendukung Menem saat Menem dan istrinya yang muda dan cantik, mantan ratu sejagat dari Cile, Cecilia Bolocco, merayakan kemenangan di putaran pertama. Dengan wajah sumringah, Menem menyatakan bahwa pemilu putaran kedua tak lebih sekadar formalitas untuk kemenangannya. Jadi, mengapa Menem mundur? Apakah ia takut menghadapi kekalahan setelah jajak pendapat menjagokan Kirchner dengan 70 persen suara dan ia hanya kebagian 30 persen sisanya?

Pengamat menduga, pengunduran diri Menem tak lebih sebagai manuver untuk memaksa Kirchner meraih kursi presiden dengan mandat yang lemah sehingga Kirchner mudah kena tekanan faksi politik di dalam Partai Kaum Adil (Justialist Party). Kirchner dan Menem berasal dari partai yang sama yang merupakan gerakan Peronis. Apalagi kemungkinan Kirchner gagal mengangkat Argentina dari kubangan krisis masih terbuka lebar.

Namun, Menem punya cerita lain. "Ada kondisi yang tidak adil pada putaran kedua dengan begitu banyak hambatan," katanya. Soalnya, Menem menuduh Presiden Eduardo Duhalde dan Kirchner bersekongkol menyabotase kampanyenya. Duhalde menolak menjagokan Menem sebagai kandidat presiden utama dari Partai Kaum Adil, dan sebaliknya menjadikan pemilihan presiden terbuka untuk siapa saja dalam partai Peronis itu untuk menjegal kemenangan Menem. Bahkan pengadilan mengizinkan satu partai mencalonkan tiga kandidat presiden.

Presiden Duhalde memang mendukung Kirchner. Hal ini diduga sebagai aksi balas dendam Duhalde, yang sakit hati karena gagal menggantikan Menem pada Pemilu 1995. Kala itu Duhalde menjabat wakil presiden, tapi rupanya sang Presiden masih bernafsu menguasai kursi untuk periode kedua, bahkan dengan cara mengamendemen konstitusi yang semula membatasi jabatan presiden hanya untuk satu periode.

Dengan peran sentral Menem dalam politik sejak 1989, terjadi penghancuran sistematis dan besar-besaran terhadap hampir setiap institusi politik Argentina. "Hanya satu institusi yang tetap kukuh berdiri, yakni pemilihan umum bagi penguasa. Tapi, sekarang pun Menem memberangus lembaga itu," demikian ditulis kolumnis kondang Joaquin Morales Sola di koran La Nacion.

Seorang perempuan pengangguran bekas buruh pabrik, Jorge Alvarez Cruz, tak mampu menahan kemarahannya terhadap pengunduran diri Menem. "Sebenarnya saya berharap dia (Menem) tetap maju agar saya dapat memilih melawannya dan mengirimnya kembali ke tempat asalnya," ujar Alvarez sengit.

Menem tak pernah kalah dalam pemilu. Kini ia cuma mundur setelah menang pada putaran pertama.

RFX (The New York Times, The Guardian)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data