Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Luar Negeri

Presiden tanpa Sepeser Uang

Nestor Kirchner terpilih menjadi Presiden Argentina yang baru. Dia harus memikul dosa-dosa yang diwariskan pendahulunya, Carlos Menem.

Dari atas panggung, Nestor Kirchner melambaikan tangan ke arah ribuan manusia yang memadati gedung olahraga di Rio Gallegos. Hari itu, Senin pekan silam, bekas Gubernur Provinsi Santa Cruz ini tengah bersilaturahmi dengan warga setempat. Dia akan meninggalkan Kota Rio Gallegos setelah acara perpisahan itu. Toh masyarakat melepasnya pergi dengan hati riang gembira. Pak Kirchner—pernah tiga kali didapuk oleh rakyatnya menjadi Gubernur Santa Cruz—telah membikin warga kotanya bangga bukan main: dua pekan lalu dia memenangi kursi Presiden Argentina.

Lalu, pada Ahad kemarin, secara resmi dia dilantik di Buenos Aires, ibu kota Argentina.

Perjalanan Nestor Kirchner, 53 tahun, ke istana kepresidenan di Buenos Aires lebih cepat dari seharusnya—menyusul pengunduran diri Carlos Menem, saingannya. Sedianya, pemilu putaran kedua ini berlangsung Ahad pekan lalu. Si flamboyan Menem unggul pada putaran pertama 27 April silam. Dia meraup 24 persen suara, sementara Kirchner hanya 22 persen. Tapi itu tadi, Menem, yang seharusnya kembali bertarung pada 18 Mei silam, tiba-tiba mundur teratur.

Maka, jalan kian terbuka lebar bagi Kirchner. Apalagi hasil jajak pendapat sebelum pemilu putaran kedua cukup meneguhkan posisinya: 70 persen suara mendukung dia, dan hanya 30 persen untuk Menem. "Kita akan membangun negeri baru dengan harapan dan optimisme," ujarnya. Toh, presiden baru ini sadar dia tak akan tenang memimpin Argentina di tengah kebangkrutan ekonomi dengan minimnya dukungan politik.

Rasa kesalnya ia lampiaskan dengan menguak dosa lama Menem. "Setelah merampok hak rakyat untuk bekerja, makan, dan belajar, dia (Menem) masih merampas hak rakyat untuk memilih," katanya. Bagaimana dengan rapor Kirchner sendiri? Dipuji sebagai administrator yang baik, Kirchner juga jauh dari aroma korupsi. Wilayah yang ditanganinya selama menjadi gubernur juga amat makmur. Sumber kemakmuran Santa Cruz ada pada domba dan minyak. Wilayah itu bahkan lebih banyak memiliki domba ketimbang manusia.

Sebagai presiden, Kirchner harus menanggung kondisi yang jauh lebih berat. Dia harus memikul warisan pemerintahan Carlos Menem, yang korup luar biasa selama dua periode kepresidenannya (1989-1999). Di bawah Menem, Argentina jatuh ke jurang kemiskinan yang memalukan. Pernah menjadi salah satu dari sepuluh negara paling makmur di dunia, Argentina kemudian terperangkap dalam resesi ekonomi yang parah. Pada Desember 2001 tercatat beban utangnya US$ 141 miliar (setara Rp 1.269 triliun), devaluasi mata uang peso amat tajam, 60 persen dari 36 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, dan satu dari empat penduduknya menganggur.

Kondisi ini tak pernah terbayangkan 10 tahun silam ketika kelas menengah Argentina mencapai 80 persen penduduk. Tingkat pengangguran sejak tahun 1940-an kurang dari lima persen tatkala pemerintah Juan Peron meluaskan hak serikat pekerja, mengontrol penuh industri lokal, dan memodernisasi sistem kesejahteraan. Tapi Menem, lewat kebijakan pasar bebas yang amat disukai Amerika Serikat, melakukan privatisasi dengan menjual semua perusahaan negara. Menem juga membawa setumpuk utang dari Bank Dunia dan IMF dalam bentuk dolar.

Dalam waktu singkat, kebijakan ini melahirkan banyak populasi kerah putih. Tapi, di sisi lain, secara sistematis menyingkirkan kelompok masyarakat bawah. Dampak buruk privatisasi ini mulai tampak pada tahun 1993. Tingkat pengangguran menembus angka 5 persen dan terus bergerak naik. Resesi mulai membelit Argentina pada 1998. Keadaan kian parah dengan praktek korupsi gila-gilaan di jajaran birokrasi, yang akhirnya menjatuhkan Presiden Menem. Ekonom Argentina memperkirakan seperempat dari penduduk Argentina adalah penganggur. Puncaknya, terjadi kerusuhan yang mengakibatkan lusinan orang tewas pada 2001.

Lihatlah wajah Buenos Aires kini. Sejak fajar menyingsing hingga petang, banyak lelaki dan perempuan mendorong kereta belanjaan dengan roda yang sudah reot berjalan di sepanjang boulevard yang indah di pusat Kota Buenos Aires. Mereka mencuri kereta belanja itu dari pasar swalayan untuk pergi memulung gundukan sampah di pojok-pojok jalan. Mereka makan apa saja yang bisa dikais, menyimpan kertas dan kardus untuk dijual. "Kami hidup seperti binatang sekarang," ujar Enrique Saavedra. Sepanjang hari perempuan miskin itu ditemani bayinya, menadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti di dekat lampu lalu-lintas. Kaum lelaki yang miskin mencoba menjala uang receh dengan membantu membuka pintu orang yang keluar dari taksi.

Bagaimana dengan golongan kelas menengah? Ladesna, pemilik pompa bensin, mengeluh karena banyak mobil mengisi bensin kurang dari 19 liter. "Mereka hanya mengisi bensin cukup untuk perjalanan pulang-pergi dari rumah ke kantor," keluh Ladesna. Kegiatan bisnis jatuh sampai 30 persen dibanding tahun silam. Bahkan seorang insinyur teman Ladesna kini banting setir jadi sopir taksi.

Seluruh situasi inilah yang tengah dihadapi Kirchner. Lalu, apa rencana dia? Banyak yang belum jelas. Dalam kampanyenya, Kirchner bertekad mengentaskan rakyat dari kemiskinan, menjamin transparansi politik, dan membentuk pemerintahan yang kuat. Kirchner sudah mulai membentuk kabinet yang pluralis dan masih menggunakan Roberto Lavagna, ekonom tangguh pada kabinet sebelumnya. Lavagna bakal menghadapi IMF untuk negosiasi ulang tumpukan utang Argentina. Selebihnya masih berupa jualan kampanye.

Tapi Kirchner optimistis, dan dia memang punya reputasi. Ia pernah menyelamatkan Provinsi Santa Cruz dari resesi. Kini ia berusaha mengulang keajaiban itu di seantero Argentina. Salah satunya dengan mengontrol industri dalam negeri yang telanjur diprivatisasi. Presiden baru ini juga berniat memanfaatkan minyak Provinsi Santa Cruz untuk membangun 3 juta rumah per tahun, yang diperkirakan akan menciptakan 5 juta lapangan kerja. "Saya bukan penjual ilusi. Saya seorang yang serius dan administrator yang efisien," ujarnya.

Namun, para pengkritiknya menyangsikan kemampuan Kirchner mengatasi kemiskinan. Dia sudah terbiasa memerintah Provinsi Santa Cruz dengan dana melimpah. "Kini dia memimpin Argentina tanpa uang sepeser pun," kata Omar Muniz, anggota parlemen di Santa Cruz.

Raihul Fadjri (AP, New York Times, Financial Times, Washington Post)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data