Perburuan yang Belum Ada Akhirnya Dunia dibangunkan lagi oleh bom bunuh diri di Riyadh dan Casablanca. Sampai di mana sebenarnya perburuan AS atas Al-Qaidah? |
PERANG besar yang dikobarkan Presiden Amerika Serikat George W. Bush melawan apa yang disebut sebagai Al-Qaidah sama sekali belum usai. Bom bunuh diri di Riyadh dan Casablanca, yang terjadi hanya dalam selang tiga hari dan menewaskan 34 dan 42 orang dua pekan lalu, melentingkan lagi gegap-gempita kampanye antiterorisme di seluruh dunia. Dan AS sendiri mesti mengoreksi klaimnya bahwa Al-Qaidah sudah lemah karena sepertiga lapisan atas pemimpinnya telah dipenjarakan, mati, atau bersembunyi.
Kenyataannya, jika dilihat dari pelaku bom bunuh diri itu, anak-anak muda 19 dan 20 tahunan, tampak Al-Qaidah sudah beranak-pinak dengan induk yang masih sehat walafiat. Jaringan televisi Al-Jazeera pada Rabu pekan silam menayangkan pernyataan Ayman al-Zawahri, letnan kepercayaan Usamah bin Ladin, pemimpin tertinggi Al-Qaidah. Fakta-fakta yang ada itu membuat pemerintah AS mau tak mau harus berhitung ulang tentang kekuatan yang ditudingnya bertanggung jawab atas tragedi 11 September 2001 dan kelompok lain yang menjadi bagian dari jaringannya.
Benarkah intelijen AS tak tahu akan adanya serangan di Riyadh dan Casablanca? Tidak diketahui tepat di mana dan kapan, tapi intelijen AS menyatakan telah tahu bahwa Al-Qaidah kembali beraksi sejak awal Mei ini. Mereka memperingatkan Kerajaan Saudi. Intelijen AS juga menyebutkan adanya peningkatan hubungan telepon di antara pihak-pihak yang dicurigai sebagai bagian Al-Qaidah di Saudi dan jaringannya di luar negeri. Karena semua pertanda itu, pekan lalu pemerintah AS mengumumkan keadaan siaga oranye (waspada tertinggi).
Sebuah memo intelijen AS mewanti-wanti bahwa "kita harus ingat kelompok ini sangat dinamis dan punya kemampuan untuk melakukan aksi-aksi yang tak terduga." Tapi semua itu belum cukup. Menurut Newsweek, karena Al-Qaidah penuh kejutan, meskipun intelijen AS sudah berusaha meningkatkan kemampuan, tetap saja apa yang dilakukan tidak begitu berarti, atau terlambat.
Contohnya yang terjadi di Riyadh dan Casablanca. Serangan bom bunuh diri itu dilakukan oleh para pendatang baru. Pelaku pengeboman di permukiman mewah Riyadh berusia 20 tahun, sementara yang di Casablanca 19 tahun. Tentu saja remaja-remaja militan itu tak bergerak sendiri. Ada anggota yang lebih senior, yang bertugas melatih para pendatang baru.
Selain merekrut anggota baru, ada kemungkinan pemegang pimpinan Al-Qaidah sekarang membangunkan agen-agen tidur yang pernah berlatih di Afganistan. Untuk itu, pihak intelijen AS berusaha mencari tahu bagaimana cara operasi Al-Qaidah yang "terkini".
Tugas intelijen pemerintah Bush kemudian adalah segera mengumpulkan informasi di mana Al-Qaidah dan jaringannya akan melakukan operasi berikutnya. Menurut beberapa sumber, tempat yang mungkin menjadi sasaran adalah Malaysia dan negara-negara di Afrika Timur seperti Etiopia dan Kenya. Mengapa bukan target di AS? "Ya, karena pengamanan di dalam negeri AS sangat ketat, Al-Qaidah memilih untuk beraksi di negara-negara yang memiliki kekuatan Islam militan cukup kuat," demikian menurut analisis intelijen AS.
Itu bukan berarti AS sama sekali tak lagi menjadi sasaran. Tapi pihak penelisik informasi belum punya data baru yang cukup untuk menyimpulkan serangan seperti apa yang akan terjadi di AS. Menurut seorang sumber intelijen, besar kemungkinan Al-Qaidah kembali melakukan serangan di wilayah AS, berdasarkan data yang mereka kumpulkan sebelum 11 September 2001. Biro Penyelidik Federal AS (FBI) pernah mencurigai Al-Qaidah mengirim mata-mata ke ranca Presiden Bush di Crawford, Texas, pada Maret 2001.
Menghabisi Al-Qaidah jelas bukan pekerjaan mudah. Kelompok ini sudah menanamkan jaringannya dan beraksi jauh sebelum 11 September 2001. Pihak intelijen AS menduga Al-Qaidah ada di belakang serangan Menara Khobar, Dhahran, Arab Saudi, pada Juni 1996, yang menewaskan 19 tentara AS. Setelah pengeboman Menara Khobar, Al-Qaidah dan berbagai organisasi afiliasinya diduga terlibat dalam berbagai aksi teror dengan sasaran properti AS, yang berpuncak pada robohnya gedung kembar di New York dan serangan ke Pentagon.
Selain itu, kelompok yang dipimpin Usamah bin Ladin ini tak bisa dilihat sebagai satu kelompok tunggal saja. Intelijen AS yakin yang menghancurkan tiga kompleks perumahan mewah di Riyadh adalah Al-Qaidah. Pemerintah Maroko beranggapan, peneror di negaranya adalah kelompok militan lokal yang didukung penuh oleh Al-Qaidah. Teror yang pernah terjadi di berbagai negara lain, seperti Filipina dan Indonesia, juga dianggap tidak dilakukan Al-Qaidah sendiri, tapi oleh kelompok yang menjadi "turunannya".
Pada akhirnya, ketiadaan peta Al-Qaidah yang pasti membuat AS bertindak pukul rata. Kebijakan keamanan nasional yang diterapkan setelah 11 September oleh pemerintah Bush merupakan bukti sikap "paranoid" AS. Dalam aturan itu disebutkan pemerintah berhak melakukan peradilan tertutup terhadap pendatang muslim dan/atau yang beretnis Arab yang ditangkap berdasarkan "kesalahan" imigrasi.
Menangkapi orang yang terkait dengan Al-Qaidah serta mencegah serangan kelompok ini ke tanah AS sungguh sangat menguras tenaga dan dana pemerintah Bush. Perang dengan Al-Qaidah tampaknya masih akan berlangsung, entah sampai kapan. Data intelijen yang akurat sangat dibutuhkan. Bukan malah informasi intelijen dipakai untuk mendukung operasi berlabel "memerangi Al-Qaidah" tapi nyatanya hanya "operasi" kepentingan kelompok-kelompok yang berkuasa di AS.
Bina Bektiati (The Economist, Newsweek, The Guardian, Al-Jazeera)
|