Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Mengapungkan Reaktor Nuklir

KUNJUNGAN Presiden Megawati ke Rusia bulan lalu menyisakan sebuah megaproyek. Selain menjual beberapa pesawat tempur Sukhoi, Rusia menjajakan reaktor nuklir terapung kepada Indonesia. Kondisi geografis Indonesia dianggap memungkinkan untuk aplikasi reaktor senilai US$ 200 juta itu. Lagi pula, dengan pertumbuhan ekonomi seperti sekarang, pada 2015 Indonesia akan kekurangan energi listrik. "Reaktor nuklir terapung merupakan alternatif menarik," ujar Hatta Radjasa, Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Rusia merupakan pionir reaktor nuklir terapung. Negeri yang memiliki 12 reaktor nuklir "konvensional" ini memulai proyek reaktor nuklir terapung pada 1995. Mereka membangun pabrik reaktor nuklir terapung di Severodvinsk, pangkalan militer di sebelah utara Moskwa. Dua perusahaan mekanikal dan nuklir Rusia, Severodvinsk Co. dan Afrikantov, berhasil mengerjakan reaktor berkapasitas 50 megawatt. Reaktor itu kini telah memasok energi listrik bagi sekitar empat juta warga Rusia. "Tak ada problem teknis. Semua berjalan sesuai dengan rencana," ujar Yevgeny Adamov, Menteri Energi Atom Rusia. Beberapa negara (Cina, Korea Selatan, Vietnam, dan Indonesia) kini mulai melirik pembangkit listrik terapung itu.

Secara teknis, reaktor nuklir terapung sebenarnya memiliki sistem kerja yang sama dengan reaktor konvensional. Bedanya, semua peralatan—dari kontainer unsur radioaktif, proses fusi nuklir, hingga penanganan limbah—berada di atas kapal. Untuk reaktor berkapasitas 50 megawatt diperlukan kapal yang memiliki panjang 125 meter dengan bobot mati 750 ton. Dengan konsep ini, reaktor nuklir terapung akan menjadi pembangkit energi yang bersifat mobile. Selain itu, Rusia mendesain beberapa tipe reaktor dengan kapasitas dari 40 megawatt hingga 80 megawatt.

Sebuah reaktor nuklir terapung dirancang untuk "dihuni" 50 teknisi. Sistem kerjanya dibagi menjadi tiga shift. Mereka bertanggung jawab mengoperasikan kapal dan reaktor terapung selama 24 jam. Bila tak ada persoalan, reaktor nuklir terapung itu akan mampu bertahan setengah abad—waktu yang cukup panjang bagi sebuah pembangkit energi listrik.

Namun keberhasilan Rusia masih menuai kritik. Meski mengakui konsep reaktor terapung sebagai ide brilian, beberapa ahli nuklir Amerika mengkhawatirkan sisi keamanannya. Tragedi Chernobyl, pada April 1986, hingga kini masih meninggalkan jejak pencemaran dan trauma berkepanjangan. Ribuan kilometer persegi wilayah Ukraina, Belarusia, dan Polandia tercemar debu radioaktif dari reaktor Chernobyl. "Kita tak ingin tragedi Chernobyl terjadi pada reaktor terapung itu," ujar Daniel Lochbaum, pakar nuklir Amerika.

STY


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data