'Tjatetan' dari Zaman Normal Erasmus Huis menggelar pameran foto Hindia Belanda. Koleksi yang menyimpan sejuta kisah Indonesia di zaman kolonial. |
Pulau Nias, 1920. Tiga belas lelaki bertampang gahar sedang beraksi di depan kamera. Sarung, baju, dan udeng (kain penutup kepala) mereka kenakan dengan serampangan. Golok, tongkat, juga senapan panjang melengkapi penampilan angker itu.
Merekalah—berdasarkan keterangan foto—kelompok pemburu budak yang beraksi di kawasan Nias, Sumatera Utara, pada awal abad ke-20. Kawanan ini beraksi menangkapi penduduk lokal dan mengekspor orang-orang malang itu ke pusat perdagangan budak di Aceh, Padang, dan Bengkulu. Pembelinya adalah para juragan dari Serikat Dagang Hindia Timur (Verenigde Oost-Indische Compagnie—VOC).
Keterangan foto dari karya fotografer tak dikenal ini menyebutkan bahwa kelompok pemenggal kepala ini sudah menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tapi, menurut catatan setempat, kelompok preman ini tega hati memenggal kepala penduduk dan menjualnya kepada keluarga bangsawan yang baru meninggal. Kepala-kepala korban akan dikubur bersama jasad si bangsawan sebagai bukti bahwa mereka punya hamba setia yang menyertai bahkan sampai alam kubur.
Gambar para preman sangar tersebut adalah salah satu yang tampil pada pameran A Journey through Time, Foto-Foto dari Masa Lalu, yang digelar di Gedung Erasmus Huis, Jakarta. Pameran yang berlangsung sampai 14 Juni 2003 ini menyuguhkan sebagian kecil dari 150 ribu koleksi bersejarah yang menakjubkan milik Tropen Museum, Amsterdam, Belanda.
Janneke van Dijk, kurator Tropen Museum, menyebutkan bahwa koleksi foto yang dipamerkan merupakan gambaran ringkas tapi cukup komprehensif tentang Hindia Belanda. Mulai dari kemegahan alam, beragam candi, berbagai ritual yang khas, kehidupan kota, transportasi, juga potret-potret keluarga pribumi ataupun pendatang.
Seluruh foto hitam-putih yang dipamerkan diambil pada rentang masa 1870-1942, periode kolonial Belanda yang disebut "zaman normal" sebelum kedatangan tentara pendudukan Jepang. Lokasi pemotretan cukup komplet menjangkau seluruh wilayah Hindia Belanda pada masa itu, terbentang mulai dari Aceh, Padang, Jawa, Bali, Kalimantan, Maluku, sampai Papua Nugini.
Bagi Janneke van Dijk, perjalanan berburu ratusan ribu foto Indonesia masa lalu amatlah menarik. Pasar loak, koleksi foto studio, album-album perjalanan (milik keluarga yang punya kakek-buyut atau kawan kerabat yang pernah singgah atau tinggal di Hindia Belanda) termasuk sumber koleksi museum. Tidak seluruhnya merupakan karya fotografer profesional. Sebagian besar justru hasil kerja juru foto amatir dengan beragam latar belakang profesi. Misalnya, perwira militer yang sedang bertugas di Sumatera, dokter yang tengah menjalankan misi zending di Maluku, pendeta misionaris yang berada di tengah suku Dayak, penyanyi opera yang manggung di Batavia, atau bahkan abdi dalem keraton. Walhasil, bisa dimaklumi bila akreditasi, nama fotografer, sering tidak tercantum. Sang juru foto terpaksa diberi label onbekend alias tidak dikenal.
Hasil kerja para fotografer tanpa nama itu pun cukup menakjubkan. Kehidupan dan kultur bumi Hindia Belanda terekam. Sering pula tampil sisi-sisi mengejutkan yang jarang kita ketahui, seperti halnya eksistensi kelompok pemenggal kepala di Pulau Nias itu. Lalu ada foto penduduk pribumi yang ramai-ramai menggotong harimau hasil buruan, sawah bertingkat-tingkat yang menyerukan kemakmuran, kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda (kini Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta) yang asri, gadis berkain kebaya sedang menyulam, dukun pijit tengah hikmat memijat pasien, juga bentang alam yang dahsyat indahnya di Bukittinggi, Padang.
Tidak ketinggalan pula potret—yang ini berbau propaganda—jasa pemerintah kolonial membangun masyarakat pribumi yang dianggap masih terbelakang. Penyuluhan kesehatan di alun-alun desa, anak-anak di bangku sekolah, juga warga desa yang menikmati sarana transportasi bus dan trem umum. Terselip pula potret penduduk pedalaman yang disentuh kebaikan pendeta misionaris—salah satu unsur penting imperialisme: gold, glory, and gospel (emas, kejayaan, dan pengabaran Injil).
Memang, biarpun judul pameran adalah A Journey through Time, kita tidak akan menemukan momentum-momentum bersejarah seperti yang lazim kita kenal dalam foto yang dipampang. Pembuangan para tokoh politik ke Pulau Banda, pendirian Boedi Oetomo pada tahun 1908, misalnya, tidak muncul dalam koleksi Tropen Museum. Foto-foto yang dipamerkan kali ini memang lebih berupa presentasi tentang segala potensi kemakmuran sebuah negeri jajahan jauh di timur Belanda.
Tak bisa tidak, pameran ini memang harus dilihat dalam bingkai semangat kolonialisme Eropa abad ke-19 sampai ke-20. Belanda ketika itu sedang bergairah menaklukkan Nusantara, menganggap diri sebagai bangsa unggul yang mengemban tugas mulia membawa peradaban ke negeri terbelakang seperti Hindia Belanda.
Dari segi teknis, koleksi A Journey through Time—yang lebih komplet ada dalam buku katalog 500 halaman berjudul Het Indie Boek—memang tidak kelewat istimewa. Orang-orang yang menjadi obyek foto berbaris atau berjajar kaku tanpa senyum, bahkan ada yang cemberut tegang. Sudut pandang pengambilan pun tidak neko-neko. Tapi, justru di sinilah foto-foto tersebut cukup sukses sebagai medium informasi yang dibutuhkan pada masa itu—dan tetap berbicara sampai hari ini. Semua serba lugas, tajam, dan jelas.
Simaklah foto-foto yang dipampang di dinding pameran. Hampir seluruhnya menampilkan keindahan, kekayaan, sekaligus keaslian alam Hindia Belanda. Gambar-gambar yang pasti mengundang kedatangan investor pembangun jalan kereta api, eksportir mobil, pengusaha kopi, guru, pendeta, juga para pelancong dari seantero Belanda dan Eropa.
Dan, lebih dari sekadar gambar, Yudhi Suryoatmodjo, kurator Galeri Jurnalistik Antara, Jakarta, menilai pameran kali ini adalah bagian penting dari sejarah fotografi di Indonesia. Seperti diketahui, kamera pertama kali ditemukan pada tahun 1839. Dua tahun kemudian, atas instruksi pejabat tinggi Belanda, kamera dibawa ke Hindia Timur guna mendokumentasi berbagai aspek kegiatan kolonialisme.
Pada masa-masa itu, Yudhi melanjutkan, teknologi fotografi masih sangat awal. Perangkat kamera berukuran besar, dan proses cuci-cetak harus dilakukan tak lama setelah foto diambil. Para juru foto mesti berhadapan dengan medan berat, gunung, hutan, sungai, sambil menenteng peti-peti peralatan fotografi. "Di sinilah koleksi Tropen Museum menjadi amat mengagumkan," kata Yudhi, "Foto-foto yang dipamerkan ini cukup sistematis meliputi seluruh area dan kehidupan Hindia Belanda." Koleksi yang berharga untuk menengok ke sebuah era yang sangat menarik di masa lampau.
Mardiyah Chamim
|