Pautan Bergerunjal Dua Jiwa Dahaga Sebuah film melodrama yang sepenuhnya menjadi milik para aktor. Rasakan sengatan mereka menggumuli wilayah Selatan yang rasis. |
Monster's Ball
Pemain : Halle Berry, Billy Bob Thornton, Heath Ledger, Philip Boyce, Sean Combs
Sutradara : Marc Foster
Skenario : Milo Addica dan Will Rokos
Produksi : Lions Gate Film (2001)
AROMA kematian sedang merayap di sebuah penjara di Georgia. Hanya gerakan tanpa suara yang tampak ketika beberapa penjaga berlatih saling mengikat diri di kursi listrik. Sebentar lagi akan ada hukuman mati. Bagi Hank Grotowski (Billy Bob Thornton), prosesi ini adalah bagian dari satu-satunya hidup yang ia kenal. Eksekusi ini mengubah segalanya bagi Hank.
Sepanjang hidupnya, Hank berada di bawah bayang-bayang ayahnya, Buck (Philip Boyce), yang dulu bekerja sebagai sipir di tempat yang sama. Buck adalah laki-laki bengis, rasis, dan berpikiran cupet. Tumbuh dalam ajaran tentang maskulinitas sempit membuat Hank menjadi pria keras dan dingin. Perasaan adalah hal tabu untuk diperlihatkan. Namun Sonny (Heath Ledger), anak Hank yang kemudian bekerja berdampingan dengannya, menolak menempuh jalan yang sama. Sonny tak segan memperlihatkan simpati kepada Lawrence Musgrove (Sean Combs, lebih dikenal sebagai penyanyi rap P. Diddy), tahanan yang akan dieksekusi. Hank mencela sikap Sonny sebagai sebuah kelemahan. Ketika rekan kerjanya mencegah Hank berlaku kasar, Hank justru meledak dan mengeluarkan caci maki rasial. Hank harus membayar sangat mahal untuk amuknya ini.
Di bagian lain, tersebutlah seorang wanita pramusaji bernama Leticia Musgrove (Halle Berry). Hidup Leticia yang peminum juga berbalur kepahitan. Suaminya telah sebelas tahun di penjara dan kemudian dieksekusi pula. Ia sudah diusir dari rumah sewanya. Sementara itu, ia juga masih harus menanggung anak berusia 12 tahun yang bermasalah dengan obesitas. Di puncak frustrasinya, Leticia sering mendamprat anaknya sebagai babi kecil rakus.
Hank dan Leticia akhirnya bertemu. Dua orang ini awalnya tak tahu bahwa mereka sebelumnya telah dipautkan lewat eksekusi terhadap Lawrence. Monster's Ball bukanlah dongeng tentang kobaran hasrat, apalagi cinta. Film karya Marc Foster ini adalah kisah sebuah hubungan yang lahir dari kebetulan, spontanitas, dan dahaga raga yang sudah mencapai titik putus asa. Tengoklah adegan seks mereka. Diawali sebotol wiski Jack Daniels, lantas bergulirlah percintaan kasar yang mungkin hanya bisa tertandingi oleh Sharon Stone dalam Basic Instinct.
Setelah adegan percintaan itu, Monster's banting setir menjadi sebuah melodrama. Separuh terakhir film ini sepenuhnya menjadi milik dua pemeran utama. Ketika naskah sebetulnya sudah mulai goyah, Thornton dan Berry masih mampu menjadikan dialog yang mereka lontarkan terasa sengatannya. Tokoh Leticia bisa saja jatuh menjadi sosok datar satu dimensi, entah korban entah seorang penyelamat. Di tangan Berry, karakter ini berhasil tampil sebagai wanita yang pemarah tapi sekaligus rapuh di balik perangai kerasnya. Wajar bila Berry mendapatkan Oscar tahun lalu sebagai aktris terbaik (sayangnya, proyek-proyek Berry setelah menang, Die Another Day dan X2, tak mencerminkan kaliber aktingnya).
Monster's Ball (diambil dari istilah Inggris kuno untuk malam terakhir orang yang akan dihukum mati) bisa saja menjadi film yang berkhotbah tentang warisan hukum rasialisme tak manusiawi di kawasan Selatan. Namun penulis skenario, Milo Addica dan Will Rokos, lebih tertarik terhadap detail-detail karakter dan situasi yang membuat karakter tersebut menjalani hidup mereka. Kredit harus diberikan kepada penata kamera Roberto Schaefer, yang berhasil menghadirkan kekinian Selatan modern yang pekat dengan emosi terpendam. Ada teror, kemarahan, juga rasa sedih.
Hubungan Hank dan Leticia sejatinya adalah penegasan koyakan luka yang terbuka. Mereka tidak lantas menjadi sosok bijak karena hubungan baru ini. Ada pemahaman bersama bahwa mereka adalah produk dari kebencian dan rasialisme di Selatan. Prasangka ini tetap ada, tapi mereka memilih untuk mengesampingkannya. Apakah mereka telah berdamai? Ataukah karena tak punya pilihan lain? Dengan cerdik, akhir film ini mengambangkan persoalan pelik tersebut. Namun, yang pasti, Leticia akan menjadi salah satu karakter kuat yang lekat di benak penonton.
Yusi Avianto Pareanom
|