Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Film

Saat Mr. Bean Menjadi James Bond

Parodi agen rahasia Inggris. Silakan tertawa bersama Rowan Atkinson.

Johnny English (2003)
Pemain : Rowan Atkinson, Natalie Imbruglia, John Malkovich
Sutradara : Peter Howitt
Skenario : William Davies, Neal Purvis
Produksi : Universal Studio

INGGRIS Raya berduka. Semua agen rahasia tewas dilumat bom. Padahal mereka tengah bergelut dengan tugas mahapenting: mengamankan mahkota kerajaan. Tak satu agen pun tersisa. Apa boleh buat, negara butuh pahlawan. Tak ada James Bond, tapi masih ada Johnny English (Rowan Atkinson).

Agen jadi-jadian ini pun melanjutkan misi mulia itu. Apa boleh buat, kenekatan saja tak cukup untuk melindungi sang ratu. Dan mengalirlah adegan demi adegan si Mister Bean ini "menyelamatkan" Kerajaan Inggris. Kekonyolan demi kekonyolan mengalir. Tak usah mengharapkan adegan yang menegangkan khas British Secret Service. Silakan tertawa dan tertawa saja. Sebab, untuk itulah Atkinson hadir bagi Anda.

Sementara tokoh Mr. Bean lebih banyak menggerus tawa penonton lewat gerak tubuh, dalam Johnny English Atkinson akan banyak berdialog. Tak usah khawatir, seluruh dialognya dalam film ini tetap ditingkahi bahasa tubuh yang sangat jenaka. Itulah nilai tambah seorang Atkinson—dibandingkan dengan komedian lain—yang membuat dia selalu jadi tontonan yang menggembirakan di televisi atau layar lebar. Bahkan versi kartun Mr. Bean juga menjadi tayangan yang dinantikan publik Amerika Serikat.

Atkinson ini memang seolah terlahir untuk menggembirakan penonton. Aktingnya saja sudah banyak berbicara ketimbang deretan kata-kata. Tak pelak, Mr. Bean menjadi serial komedi terlaris di Inggris selama enam tahun masa putarnya. Ia bahkan sudah ditayangkan di 89 negara. Termasuk di salah satu televisi swasta di Indonesia.

Tak aneh, ketika kemudian menjadi bintang utama di layar lebar—Bean, Rat Race, dan Johnny English—Atkinson memikat penonton di seluruh dunia. Sebetulnya deretan judul itu bukanlah film bioskop pertama yang dibintanginya. Jangan kaget jika film layar lebar perdana yang dijejakinya adalah sekuel James Bond, Never Say Never Again, pada 1983 saat Sean Connery memerankan agen 007. Lalu, bersama Hugh Grant dan Andie McDowell, Atkinson juga tampil dalam komedi romantis Four Weddings and A Funeral.

Riwayat perkomedian Atkinson memang sungguh berwarna. Pernah dinobatkan sebagai salah satu orang lucu terpopuler di Inggris, ia banyak dikenal dengan humor-humor slapstik yang kadang terlampau vulgar. Ada yang mencerca, tak sedikit yang mencintainya. Dan karena itu ia sempat disandingkan dan dibandingkan dengan Charlie Chaplin nan legendaris itu.

Atkinson, seorang insinyur elektro lulusan Newcastle University dan Oxford University, Inggris, memang komedian yang sukses. Dalam Johnny English, Ia berhasil memerankan karakter baru tanpa meninggalkan sosok Mr. Bean. Gayanya sangat "James Bond", tapi dalam versi pelesetan yang konyol. Memang, film ini bukanlah parodi pertama tentang agen rahasia—salah satu yang lumayan populer adalah sekuel Austin Power. Tapi toh Johnny English lebih sukses dari segi penonton. Apa boleh buat, popularitas Mr. Bean adalah daya jual yang dahsyat.

Apalagi, dalam film ini Atkinson didukung oleh bintang yang juga luar biasa: John Malkovich, yang berperan sebagai musuh Johnny English, Pascal Sauvage. Malkovich sukses berat melakoni tokoh penjahat yang sangat komikal dan memenuhi semua stereotip: licik, pintar, dan kejam. Karakter ini tentu saja merupakan partner main yang seimbang bagi Atkinson.

Sebagai sebuah parodi film tentang agen rahasia, Johnny English memang tak maksimal mengerahkan potensi para aktor. Dalam beberapa hal, Austin Power terasa lebih cerdas. Dalam Johnny English, banyak lelucon yang sebetulnya klise dan adegan slapstik yang keterlaluan dan mengganggu. Namun, apa boleh buat, sulit bagi kita untuk tidak menyukai Atkinson. Termasuk dalam film ini.

Andari Karina Anom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data