Ratu Bordir dari Malang Berbekal ketekunan dan kerja keras, Suningsih sukses mengembangkan industri kecil. Sementara itu, ia terus membidik peluang baru. |
BANGUNAN besar di Desa Pakis Kembar, Kabupaten Malang, itu tampak sepi dari luar. Sebuah papan nama bertulisan "CV Subur Makmur" terpampang di pintu masuk dan hampir tak terlihat karena tertutup daun pepohonan. Tak ada petugas keamanan berjaga-jaga di sana. Juga tak tampak pegawai lalu-lalang. Atmosfer kesederhanaan meruap dari setiap sudut.
Siapa sangka di balik tembok bangunan seluas 3.000 meter persegi itu ada geliat usaha yang membuat orang terpana. Dari satu ruangan ke ruangan lain, tampak ratusan pekerja sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang memilah dan menggunting kain aneka warna. Ada juga yang membordir—baik dengan mesin bordir biasa maupun dengan mesin bordir komputer.
Di ruangan yang lain, sejumlah pekerja gesit menyetrika, melipat, dan membungkus aneka produk yang telah selesai dibordir. Pakaian, seprai, perlengkapan salat, dan sarung bantal dikemas sesuai dengan jenisnya. Ke mana barang-barang itu melayang sekeluar dari pabrik CV Subur Makmur?
Jangan kaget. Produk bordir made in kampung itu tak cuma beredar di dalam negeri seperti di Jakarta dan Bali. Produk tersebut juga terbang jauh ke negeri seberang lautan, seperti Malaysia, Brunei, bahkan sampai Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Tokoh yang berada di balik sukses usaha bordir itu bernama Suningsih. Berkat tangan dinginnya, omzet CV Subur Makmur kini mencapai Rp 900 juta sebulan. Bahkan, sebelum terjadi musibah beruntun—bom Bali, kebakaran Pasar Tanah Abang, dan invasi Amerika ke Irak—Suningsih mengaku perputaran uangnya bisa mencapai Rp 1,4 miliar sebulan.
Wanita kelahiran Malang 54 tahun lalu itu memang tekun dan suka bekerja keras. Ia memulai usahanya dengan berjualan jagung pipilan ke sebuah pabrik tepung di Kota Malang pada 1973. Empat tahun kemudian, ia sudah berhasil mendirikan sebuah pabrik penggilingan jagung dan padi.
Tak puas cuma mengawasi proses penggilingan, di waktu senggang ibu satu anak ini membuat kerajinan tangan kristik—dikenal juga dengan sebutan tusuk silang. Kerajinan itu ternyata laku dijual ke toko-toko ataupun dari rumah ke rumah. "Keuntungan dari penjualan secara door to door malah lebih tinggi," ujarnya.
Lambat-laun usaha kerajinannya meningkat. Pada akhir 1980, Suningsih tak perlu lagi berkeliling menjajakan produknya. Pesanan datang sendiri, bahkan sampai membuatnya kewalahan. Tak ketinggalan dari mancanegara. "Paling banyak dari Arab Saudi," katanya. Agar lebih berkonsentrasi, Suningsih akhirnya malah meninggalkan pasar lokal dan melulu membuat kristik untuk ekspor.
Lalu tantangan lain datang. Suatu hari Suningsih diajak seorang pelanggannya memesan seprai bordir di Kota Bangil, Jawa Timur. Tergoda melihat proses bordir, ia membeli satu mesin bordir seharga Rp 375 ribu. Dengan mesin itu, ia belajar membordir di waktu senggang, sambil tetap menekuni usaha kristik.
Mula-mula hasil bordirannya jelek. Tapi Suningsih tak putus asa. Ia terus belajar. Tak lama kemudian, ia sudah bisa membuat bordiran di atas seprai dengan motif burung merak. Seprai-seprai tersebut kemudian ditawarkan ke para pelanggan kristiknya. Ternyata laku. Pesanan pun mulai mengalir. Tak sampai setahun, usaha bordirnya mulai berkilau.
Melihat prospek bordir yang bagus, ia meninggalkan usaha kristik. Mungkin karena namanya sudah dikenal di kalangan pedagang, usaha bordirnya berjalan mulus. Suningsih menjual produknya dengan harga bervariasi. Sebuah seprai bisa dihargai Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta per potong.
Asetnya pun terus menggelembung. Kini ia memiliki ribuan mesin bordir di pabrik dan rumah karyawannya. Itu belum termasuk tiga buah mesin bordir komputer buatan Jerman dan Cina, yang masing-masing berharga sekitar Rp 1 miliar. Selain itu, ia memiliki sejumlah tanah, bangunan, dan mobil operasional.
Kendati bisnis Suningsih terus berkembang, manajemennya tetap bergaya tradisional. Bahkan boleh dibilang ia menjalankan usaha secara "one woman show". Seorang rekan bisnisnya sampai mengeluh karena semua pekerjaan ditanganinya sendiri. "Kalau tak ada Suningsih, semua pekerjaan jadi terhambat," ujar sang teman.
Kekuatan Suningsih tampaknya memang tak terletak pada kebolehan manajemen, tapi pada ketajamannya mencium peluang bisnis baru. Sekarang ia menyadari bisnis bordirnya sudah berada di ambang batas, tak mungkin dikembangkan lagi. "Usaha ini sudah mentok," katanya. Penyebab utamanya, menurut Suningsih, adalah pesaing yang terlalu banyak.
Diam-diam kini Suningsih sudah mengerling ke usaha lain. Ia tengah mengembangkan berbagai bisnis, dari pembuatan batik, usaha rokok, sampai pembuatan minuman sari kelapa. Semua usaha baru itu tampaknya merupakan ikhtiar Suningsih untuk mempertahankan eksistensinya sebagai pebisnis.
Nugroho Dewanto, Bibin Bintariadi (Malang)
|