Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Deputi dari Tokyo

Hartadi Sarwono terpilih menjadi Deputi Gubernur BI. Ia tidak hanya bersih, tapi juga memiliki kemampuan moneter yang mumpuni.

HARTADI Agus Sarwono tampak serius mengikuti rapat Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Senin pekan lalu. Sisa-sisa kelelahan masih menggurat di wajahnya. Tampak jelas, ia kurang beristirahat. Sesampai di Jakarta dari Jepang, Hartadi langsung mengikuti proses fit and proper test bersama Siti Chalimah Fadjrijah dan Bambang Sindu Wahyudi. Uji kelayakan dan kepatutan itu dilakukan untuk memilih Deputi Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Miranda Goeltom.

Yang menarik, tatkala tiba gilirannya untuk menyampaikan presentasi, gurat keletihan langsung hilang dari wajah Hartadi. Penampilannya cukup energetik. Dengan suara mantap ia menyampaikan pandangan-pandangannya tentang kondisi moneter Indonesia. Tak cuma lancar dalam mengemukakan pendapat, ia cekatan menjawab pertanyaan.

Menyangkut masalah suku bunga, misalnya, Hartadi optimistis tingkat suku bunga akan terus turun secara bertahap, terutama bila tingkat inflasi bisa ditekan hingga 6 persen. "Suku bunga kredit perbankan bisa mencapai 9-10 persen di tahun 2005," ujarnya yakin.

Bila suku bunga rendah, bank-bank akan terpacu menyalurkan kredit. Dengan demikian, roda bisnis segera kembali berputar dan tercipta lapangan kerja baru. Tapi hal itu, menurut dia, harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan analisis dan manajemen risiko agar kerugian bank bisa ditekan serendah mungkin.

Menghadapi rencana pemutusan hubungan dengan Dana Moneter Internasional (IMF), Hartadi menekankan betapa penting bila pemerintah bersikap hati-hati di samping mempersiapkan strategi yang jitu. Ia sendiri mendukung agar Indonesia mengikuti post programme monitoring, supaya terhindar dari situasi ketidakpastian dan spekulasi pasca-IMF.

Kemahiran Hartadi menjelaskan seluk-beluk masalah moneter tak ayal membuat mayoritas "singa Senayan" terkesan. "Dia terlihat sangat menguasai masalah moneter," kata Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Max Moein.

Namun tak semua koleganya menyetujui pendapat Max. Ada sejumlah wakil rakyat yang bersikukuh pada penilaian bahwa Siti Fadjrijah lebih mumpuni ketimbang Hartadi. Musyawarah pun berlangsung alot. Bahkan rapat sempat diskors, tapi suara mufakat tak juga bisa dicapai.

Akhirnya pada pukul 23.30 diputuskan untuk melakukan pemilihan dengan cara voting. Hampir sejam kemudian diperoleh hasil bahwa Hartadi mendulang 26 suara dan Siti Fadjrijah mendapat 20 suara. Adapun Bambang Sindu tak memperoleh suara sama sekali.

Kemenangan Hartadi kabarnya disambut gembira oleh kalangan dalam bank sentral. "Kami memang berharap Hartadi menang, agar pekerjaan Pak Burhanuddin bisa terbantu," ujar sumber TEMPO yang merupakan anggota tim sukses Burhanuddin Abdullah. Mengapa? Bukankah Hartadi merupakan calon yang diajukan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin?

Burhanuddin, menurut sumber itu, memerlukan staf yang kuat. Dan Hartadi memenuhi persyaratan kompetensi yang diperlukan. Maklum, sebelum menjadi Kepala Perwakilan BI di Tokyo, selama 10 tahun terakhir ia terus-menerus menekuni bidang moneter di BI.

Hartadi juga memiliki latar belakang pendidikan moneter yang kuat. Gelar doktornya di University of Oregon, Amerika, misalnya, diperoleh di bidang kebijakan dan teori moneter.

Sebagai pejabat teras BI, Hartadi pun relatif bersih. Selain bebas dari "dosa" BLBI, ia tak pernah terpeleset skandal. "Hartadi orangnya memang tak neko-neko," ujar sumber TEMPO tadi. Sikap lurusnya itu pula, menurut sumber ini, yang membuatnya pernah dua kali tak lulus fit and proper test di DPR untuk menjadi deputi gubernur.

Pasalnya, Hartadi tak sudi melobi para politikus Senayan. Apalagi kalau untuk itu ia harus menyebar angpau. Sumber TEMPO menuturkan betapa dalam fit and proper test di masa lalu Hartadi bergeming meski seorang politikus kawakan dari Komisi Keuangan dan Perbankan DPR sudah memancing-mancingnya. "Dia bilang, lapangan sudah becek, Hartadi mesti ikut menyiram," ujar sumber itu.

Mudah-mudahan, setelah terpilih, Hartadi tetap bisa menjaga jarak dengan para politikus. Hanya dengan demikianlah ia dapat menunaikan tugasnya: menyukseskan misi BI dan mengamankan kepentingan bangsa.

Nugroho Dewanto, Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data