Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Antara Harapan dan Kecemasan

Imbas keperkasaan rupiah mulai menjalar ke manamana. Ada harapan tarif listrik tak akan naik lagi dan harga bahan bakar minyak malah turun. Tapi, ada kecemasan ekspor Indonesia bakal mengecil.

Adalah Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Luluk Sumiarso, yang mengembuskan harapan itu. Menurut Luluk, menguatnya rupiah akan menekan harga pokok penjualan PLN. Saat ini harga pokok penjualan (HPP) PLN sekitar US$ 6,6 sen. Dengan penguatan dolar sampai Rp 8.200, jika dihitung dengan cara yang sederhana HPP listrik akan turun sampai US$ 6-6,2 sen. Dengan demikian, selisih antara tarif listrik yang dibayar konsumen sebesar US$ 4,5-4,6 sen dan harga pokok penjualan makin pendek. "Kalau harga ekonomisnya dicapai lebih cepat, PLN tak boleh lagi terus-menerus menaikkan tarif sampai tahun 2005, cukup sampai tahun depan," kata Luluk.

Komponen dolar dalam tarif listrik memang sangat besar, sekitar 67 persen. Suatu kali bahkan pernah mencapai 80 persen. Komponen tersebut antara lain biaya bahan bakar, pembayaran utang luar negeri, dan pembelian listrik dari produsen listrik swasta. Enaknya buat PLN, menguatnya rupiah berdampak ganda karena harga bahan bakar minyak (BBM) juga akan turun. Karena itulah, dampak penguatan rupiah terhadap tarif listrik lumayan besar. PLN sendiri masih belum bersedia mengungkapkan kapan tarif ekonomis itu akan dicapai. "Masih dihitung," kata Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN, Sunggu Anwar Aritonang.

Penguatan rupiah juga akan menurunkan harga BBM. "Tapi keputusan soal ini ada di tangan pemerintah," kata Direktur Hilir Pertamina, Muchsin Bahar. Namun, seorang pejabat Pertamina menuturkan bahwa pemerintah kini benar-benar ketiban rezeki. Dengan kurs Rp 8.200, harga jual premium cuma US$ 22 sen per liter atau sekitar US$ 35 per barel. Padahal harga minyak mentah di pasar dunia kini hanya berkisar US$ 24-26 per barel. Jika dibandingkan dengan harga BBM di Singapura, pemerintah juga masih untung karena harga di sana US$ 27 per barel. Kalau mau dibawa ke Indonesia, cuma perlu menambah ongkos angkut US$ 3 per barel. Jadi, masih ada ruang untuk menurunkan harga BBM.

Jika tarif listrik benar-benar tak jadi naik terus dan harga BBM akan turun, bolehlah rakyat merasa lega. Paling tidak, ada harapan biaya hidup bakal menurun. Namun, berkah tersebut kemungkinan tidak akan dinikmati para eksportir. Dengan kurs mendekati Rp 8.000, banyak eksportir yang menganggap daya saing produknya melemah. Dan lagi, pasar dunia kini sedang kebanjiran barang sehingga harganya turun. Ujungnya sudah bisa ditebak: perolehan devisa dari ekspor kemungkinan juga akan berkurang.

Kendati demikian, jika dilihat secara keseluruhan, toh penurunan tarif listrik dan harga BBM pada akhirnya juga akan menurunkan biaya produksi. Dengan demikian, daya saing akan terangkat dari sisi ini. Pada akhirnya, siapa yang efisien dan produktif, dialah yang akan unggul.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data