Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Rupiah Makin Digdaya

Nilai tukar rupiah terus menguat dalam tiga pekan terakhir. Dana dari luar negeri menjadi pendorong utama.

DESINGAN peluru di bumi Nanggroe Aceh Darussalam hari-hari ini tidak membuat nilai rupiah goyah. Perang antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka yang sudah memasuki pekan kedua ini rupanya tak banyak mempengaruhi kekuatan rupiah. Yang terjadi justru sebaliknya: rupiah makin perkasa. Bukan hanya itu, selama Mei 2003 ini ada percepatan penguatan nilai tukar yang luar biasa dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Bayangkan, hanya dalam tiga pekan, nilai tukar rupiah sudah menguat hampir lima persen, dari Rp 8.675 per dolar AS menjadi Rp 8.325 pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu.

Sejumlah analis mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi karena mulai derasnya arus modal dari luar negeri ke Indonesia. Manajer Senior Treasury Bank Finconesia, Endarto Weltam, mengatakan bahwa rupiah menguat karena ada faktor internal yang membaik, seperti ekspor yang kembali menembus US$ 5 miliar pada Maret lalu dan laju inflasi yang pada kuartal pertama 2003 hanya 0,92 persen—padahal pada kuartal yang sama tahun lalu inflasi di posisi 3,26 persen. Dua faktor inilah yang memperkuat fundamental perekonomian Indonesia.

Namun yang paling besar pengaruhnya terhadap menguatnya nilai tukar adalah arus modal asing ke Indonesia yang lumayan besar belakangan ini. Data Bloomberg menunjukkan bahwa selama pekan kedua Mei 2003 saja, arus investasi asing yang masuk ke Bursa Jakarta mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 11 triliun. Diperkirakan, modal asing ini akan terus mengalir masuk ke Indonesia. Ekonom Bahana, Budi Hikmat, menambahkan bahwa daya tarik utama Indonesia sekarang ini adalah obligasi pemerintah yang memberikan yield sampai 13,4 persen. Tingginya bunga inilah yang mendorong banyak investor mengalihkan simpanan atau investasinya dari dolar ke rupiah.

Apalagi Standard & Poor's sudah menaikkan peringkat surat utang pemerintah Indonesia dalam rupiah dari B- menjadi B. Inilah yang kemudian menaikkan kepercayaan investor terhadap Indonesia, baik investor lokal maupun asing. "Ya, yang banyak sebetulnya dana yang pulang kandang," kata Endarto. Seperti diketahui, sampai tahun lalu, arus modal bersih Indonesia masih negatif. Arus modal keluar justru jauh lebih besar ketimbang yang masuk. Berbagai faktor menyulut pelarian modal ini. Dan kini kepercayaan mulai pulih. Menurut Budi, arus modal asing sebetulnya sudah mulai masuk kembali ke Indonesia dalam jumlah yang cukup signifikan sejak triwulan keempat tahun lalu, dan semakin deras belakangan ini.

Di luar itu, perekonomian Amerika Serikat memang masih saja melempem. Bahkan banyak analis yang memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, bakal menurunkan lagi suku bunganya dari yang sekarang sudah di posisi 1,25 persen. Gubernur The Fed, Alam Greenspan, memang menyatakan bahwa pihaknya akan mempertahankan suku bunga yang sudah bertahan sejak November 2002. Namun dia juga memberikan sinyal bahwa ada kemungkinan suku bunga diturunkan lagi untuk mendorong perekonomian. Pertemuan The Fed berikutnya akan diselenggarakan pada minggu keempat Juni. Kemungkinan besar akan ada keputusan soal itu dalam pertemuan tersebut.

Sinyal inilah yang kemudian ditangkap pelaku pasar dengan mengalihkan dolar ke mata uang lain. Nilai tukar euro dan yen terhadap dolar AS juga terus-menerus menguat sejak awal tahun. Pada awal Mei lalu, nilai tukar euro masih 1,125 dolar, tapi pada akhir pekan lalu sudah 1,170. Yen sama saja. Tapi, kata Endarto, dampak perekonomian global ini terhadap nilai tukar rupiah sebetulnya tidaklah sebesar faktor yang lain, terutama dorongan yang berasal dari dalam negeri. Meskipun demikian, tak bisa dimungkiri bahwa tekanan terhadap dolar AS setidaknya menciptakan kondisi yang bagus buat rupiah.

Semua itu membuat penetapan Nanggroe Aceh Darussalam sebagai daerah darurat militer tidak terlalu berpengaruh. Padahal, pada masa sebelumnya, pergolakan atau kekacauan di daerah selalu direspons negatif oleh pasar. Sebut saja pergolakan di Maluku atau Kalimantan Barat pada awal-awal zaman reformasi, yang langsung menyebabkan rupiah tumbang. Kini pergolakan di Aceh sama sekali tak mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. "Pasar sudah bisa membedakan bahwa itu masalah politik yang tidak akan berdampak pada ekonomi," kata Endarto.

Namun apakah rupiah masih akan terus menguat dalam pekan-pekan ke depan? Banyak kalangan yang yakin bahwa penguatan masih akan terus terjadi sampai nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 8.000 per dolar. Sejumlah faktor diyakini akan terus mendorong penguatan rupiah, di antaranya program divestasi bank yang dijalankan pemerintah terhadap Bank Mandiri dan Bank Lippo. "Kalau ekspor masih bisa digenjot dan penjualan saham Bank Mandiri sukses, rupiah masih akan menguat," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Anwar Nasution.

Meskipun demikian, Budi mengingatkan ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan dengan saksama. Salah satunya adalah masih lemahnya perekonomian Amerika Serikat. Kondisi ini akan membuat barang-barang ekspor asal Indonesia jadi mahal. Dan daya serap konsumen Amerika memang sedang rendah dalam beberapa tahun terakhir. "Ini bisa berakibat ekspor Indonesia menurun," kata Budi. Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah menyiapkan program ekonomi pendukung untuk mendorong konsumsi di dalam negeri.

Yang lebih penting adalah menjaga agar arus investasi asing ke Indonesia tetap tinggi. Selain akan menyebabkan nilai tukar rupiah stabil, investasi asing akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Indikasinya memang membaik. Aplikasi penanaman modal asing pada triwulan pertama 2003 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu naik hampir 70 persen menjadi US$ 3,14 miliar. Karena itu, kata Budi, tugas pemerintah yang paling penting adalah mempertahankan kondisi yang ada. Apalagi Indonesia akan menghadapi masa genting pada 2004 mendatang, yakni pelaksanaan pemilihan umum. Kalau pijakannya kuat, pemilu tak akan mampu menggoyahkan perekonomian Indonesia, seperti perang di Aceh.

Ali Nur Yasin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data