Gagal dengan PT KAI, Inka Bikin Troli |
DIVERSIVIKASI usaha kini menjadi opsi bagi PT Industri Kereta Api (Inka) agar bisa bertahan hidup. Tak ada jalan lain, apalagi sejak pesanan kereta api dari dalam negeri menyusut. Sekarang, pabrik kuda besi yang berbasis di Madiun, Jawa Timur, itu melayani macam-macam pesanan, mulai dari troli untuk bandar udara sampai peralatan toilet.
PT Inka, seperti dipantau oleh Indonesian Railway Watch (IRW), terancam gulung tikar akibat penurunan penjualan serta berubahnya pola kontrak dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurut Direktur IRW, Taufik Hidayat, sejak dua tahun lalu PT KAI tidak lagi wajib membeli produk kereta api buatan PT Inka. "Sebelumnya, PT KAI adalah pembeli tunggal," ujarnya.
Yang juga disesali Taufik ialah pesanan 24 unit kereta api eksekutif senilai Rp 84 miliar yang dibatalkan oleh PT KAI. Padahal PT Inka telah selesai memproduksinya, tinggal serah-terima dan pelunasannya. Tak jelas mengapa pembatalan bisa terjadi, padahal transaksi itu direncanakan antara dua perusahaan milik negara. Sebelumnya, pemerintah juga membatalkan pembelian dua set prototipe kereta rel listrik (KRL) seharga Rp 60 miliar. Akibatnya, selain KRL itu mubazir, cash flow PT Inka langsung kritis dan perusahaan itu terancam bangkrut.
Namun, Direktur PT Inka, Roos Diatmoko, membantah pabrik kereta api yang berdiri sejak 1981 itu akan segera bangkrut. Katanya, nilai ekuitas perusahaan masih cukup baik—kira-kira Rp 207 miliar. "Jumlah itu lebih besar dari utangnya," ujar Roos, Jumat pekan silam.
|