Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Barikade di Bukit Indarung

Karyawan masih kencang menolak manajemen baru Semen Padang. Siapa yang menggerakkan?

BUKIT Indarung seperti sedang dalam keadaan siaga satu. Sejak dua pekan lalu, ratusan orang bergerombol di area tempat berlokasinya pabrik dan kantor pusat PT Semen Padang itu. Mereka adalah karyawan yang terus menggelar aksi unjuk rasa menolak keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 12 Mei lalu di Jakarta. Digelar sang induk, Semen Gresik, forum tertinggi di perusahaan itu memberhentikan seluruh jajaran direksi dan komisaris.

Selasa pekan lalu, ketegangan itu mencapai puncaknya. Ratusan karyawan Semen Padang menghadang para direktur dan komisaris baru yang pada hari itu mulai berdatangan untuk berkantor. Sejak pukul 08.00, pintu gerbang sudah digembok. Alat berat dan beberapa truk dilintangkan di jalan masuk sebagai barikade. Tak satu pun kendaraan dibolehkan masuk.

Adu urat segera terjadi. Rombongan manajemen baru berkukuh masuk kompleks. Karyawan menolak. Akhirnya, setelah mereka sempat bersitegang, dua mobil diizinkan meluncur. Satu kendaraan di depan berisi Komisaris Utama Ismed Yuzairi dan tiga anggota komisaris, Elmi Daniel, Syahrul Zainal Abidin, dan Zainal Abidin One. Satu mobil lagi ditumpangi Direktur Utama Dwi Soetjipto dan dua anggota direksi, Trisdi Arma dan Johan Samudera. Tiba-tiba saja sedan hijau yang membawa Dwi dikejar ratusan pegawai. "Hentikan mobil itu!" massa berteriak-teriak. Sebuah truk dan alat berat bergerak maju ikut mengepung.

Mobil Dwi tak ayal berhenti dan langsung dipukuli dan ditendangi karyawan yang bak kesetanan. Dwi bersama Trisdi dan Johan dipaksa keluar. Mujur, seorang anggota satpam Semen Padang buru-buru menarik dan memasukkan mereka ke sebuah mobil Kijang yang segera dilarikan keluar dari kompleks pabrik menuju Hotel Pangeran Beach. Para komisaris lebih "beruntung". Selama seperempat jam, kendaraan yang membawa mereka hanya berputar-putar tak tentu arah sebelum tinggal gelanggang.

Alhasil, hingga Jumat pekan lalu, pengurus baru pabrik semen tertua di Indonesia itu belum bisa efektif bekerja. Untuk mulai menjalankan aktivitas ala kadarnya, mereka terpaksa berkantor di "pengungsian", di lima kamar Hotel Pangeran yang disulap sementara menjadi markas mereka.

Direktur Utama Semen Gresik Satriyo menjelaskan jalan darurat itu harus ditempuh karena adanya berbagai ancaman. "Teror paling banyak ditujukan kepada Dwi Soetjipto. Jadi, untuk sementara lebih aman tinggal di hotel," katanya sembari menuduh manajemen lamalah yang menggerakkan aksi penolakan itu untuk mempertahankan kursi mereka.

Tudingan Satriyo bukan tanpa indikasi. Beberapa jam setelah pelaksanaan RUPSLB 12 Mei lalu, Sekretaris Perusahaan Semen Padang Desri Ayunda dan Direktur Keuangan Muklis Karanin langsung mengumpulkan semua staf dan kepala bidang di Wisma Indarung, Padang. Bersamaan dengan itu, sejumlah karyawan mulai menggelar demonstrasi.

Rapat memutuskan empat poin kesepakatan penting. Pertama, semua karyawan menolak keputusan RUPSLB karena ilegal. Mereka juga menyatakan masih mengakui keabsahan direksi lama, serta menetapkan tidak akan memproses pemutasian dan menolak sanksi apa pun dari manajemen baru. Yang terakhir, disepakati bahwa semua karyawan akan bersama-sama menjaga perusahaan.

Namun, ketika dimintai tanggapan, Direktur Utama Semen Padang yang tergusur, Ikhdan Nizar, kontan membantah. Menurut dia, seluruh aksi murni berasal dari aspirasi karyawan. "Tidak ada rekayasa dan teror itu," katanya. Ikhdan juga menyatakan dia bukan mau sewenang-wenang mengangkangi tampuknya. Ia emoh mundur karena, menurut dia, "RUPSLB itu ilegal."

Menghadapi aksi penolakan itu, Satriyo dan manajemen baru Semen Padang tak tinggal diam. Serangkaian langkah penting telah mereka lakukan. Di antaranya melakukan pendekatan ke pemerintah daerah dan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat. "Namun langkah itu belum memberikan hasil optimal karena masih menunggu keputusan Pengadilan Negeri Padang," Satriyo menambahkan.

Tapi ada satu manuver tajam yang telah dilakukan: membekukan semua hak dan tanggung jawab direksi lama Semen Padang dalam segala transaksi perbankan. Pemblokiran itu, menurut Satriyo, bukan atas permintaan Semen Gresik, melainkan kebijakan dari pihak bank sendiri "setelah kami kirimkan hasil RUPSLB."

Dwi sendiri mengatakan akan terus menempuh pendekatan persuasif dan menyosialkan hasil RUPSLB kepada semua karyawan. Dia berharap semua pegawai bisa menyadari pentingnya jajaran direksi baru untuk dapat segera bekerja, khususnya untuk segera merampungkan laporan keuangan tahun 2002, yang masih terganjal sejumlah angka pengeluaran "misterius" di kas Semen Padang.

Soalnya, akibatnya bisa fatal. Jika sampai 30 Juni soal penting ini belum beres juga, Semen Gresik bisa langsung dicoret dari bursa.

Setri Yasra, Febrianti (Padang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Surat Suara Pilwali Kediri Nyaris Mencapai 1 Meter - 07 Sep 2008 | 18:49 WIB
Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data