Seorang Pengarang dan Toko Roti |
Telah muncul penulis perempuan muda berbakat. Menulis hanya satu dari sekian kegiatannya.
Nukila Amal, si pengarang Cala Ibi, adalah sosok yang hidup di dua alam berbeda.
Nukila, perempuan kelahiran Ternate, bukan orang yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Pada 2001, ia pernah menulis di Jurnal Kalam, dan tahun berikutnya di Jurnal Prosa. Dalam pengantar Jurnal Kalam, sastrawan Nirwan Dewanto memujinya tinggi. "Mungkin kita berbahagia karena kali ini kita beroleh penulis yang tidak biasa-biasa," demikian ia menulis. Tapi inilah Nukila, penulis yang menghabiskan hari-harinya di sebuah toko roti yang dikelola adiknya.
Sepanjang 32 tahun usianya, perjalanannya lumayan berliku. Ia kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Lantas ia bekerja di sebuah hotel, lalu di perusahaan keuangan dan beberapa lainnya. Ia juga menekuni keramik, "Tapi putus-putus belajarnya," katanya. Tapi bukan itu yang utama tentang Nukila kini. Ia membuat cerita sastra dengan setting Maluku—di luar setting klasik Jawa, Bali, dan Sumatera.
Berikut petikan wawancara wartawan TEMPO Ignatius Haryanto dan Seno Joko Suyono dengan sang pengarang, di sebuah kafe di Kebon Jeruk, Jakarta, dekat rumah Nukila.
Bagaimana perkenalan Anda dengan dunia tulis-menulis?
Dari kecil, keluarga memberikan pendidikan untuk cinta membaca. Kelas satu SD saya sudah membaca sastra lama, seperti Layar Terkembang. Saya mulai menulis novel ini sebagai draf kasar sejak tahun 1998. Sempat setahun saya kerjakan, tapi kemudian ditinggalkan untuk mengerjakan hal-hal lain sambil menulis yang pendek-pendek. Saya baru mulai menulis lagi tahun 2000. Itu setelah saya berkorespondensi dengan Nirwan Dewanto. Ia yang memberi semangat agar menyelesaikan tulisan ini.
Anda keturunan penulis
Bapak saya dulu, M. Adnan Amal, adalah seorang hakim yang juga sering menulis artikel-artikel hukum. Setelah beliau pensiun, ia mengajar di universitas lokal di Ternate sambil menulis buku Kronik Sejarah Maluku Utara. Saya berasal dari keluarga yang memiliki tujuh orang anak. Saya nomor keenam. Kakak, Taufik Adnan Amal (penulis buku Sejarah Al-Quran—Red.), adalah anak tertua.
Bukankah Anda banyak dipengaruhi cerita-cerita rakyat Ternate?
Ya, ke-Maluku-annya kental sekali. Pemicunya kerusuhan kemarin itu. Saya jadi tertarik menggali akar. Saya ingin tahu mengapa sebuah suku bangsa sampai bisa berubah, berbeda sekali dengan memori saya sejak kecil. Memori tentang orang-orang ramah, baik, dan bersahabat.
Lantas, kesimpulannya?
Saya kira, dilihat dari karakter penduduk di sana, tidak akan terjadi konflik seperti itu kalau tidak ada intervensi dari luar. Pada dasarnya juga, dilihat dari sejarahnya, Maluku Utara adalah masyarakat yang pluralis. Waktu saya menulis naskah Laluba (lalu dimuat di Jurnal Kalam), konflik di Maluku utara lagi hangat-hangatnya. Itu mengundang saya untuk mengekspresikan sesuatu.
Untuk menulis dengan setting Ternate-Tidore itu, Anda sempat pergi ke sana?
Saya hampir tiap tahun pergi ke sana. Tapi terakhir tahun 1998 dan 1999. Tahun 1998 saya tinggal cukup lama di sana sebelum kerusuhan. Tahun 1999 saya cuma sempat tinggal tiga hari di sana, sebelum akhirnya pulau itu diisolasi. Hampir setengah Pulau Ternate itu masih famili saya. Kakak saya lahir di Halmahera, dan karena itu Halmahera ini pun kental dalam narasi-narasi saya.
Anda sungguh-sungguh mau menggambarkan berbagai akar konflik di sana?
Ya, itu hanya salah satu keping. Keping lainnya banyak. Saya sulit juga memampatkan ide yang ingin saya tulis dalam satu kalimat. Dari kata "mimpi"—kata yang paling banyak dipakai dalam buku ini—banyak sekali hubungan yang terjadi dengan demikian kompleks. Ketika saya menulis ini, saya membayangkan adalah jaring-jaring semantik yang mempertautkan ide satu dengan ide lainnya. Subtil dan maknanya bisa bergeser-geser, berpindah-pindah konteks, bahkan subversif. Misalnya, kata bulan itu kan sudah identik dengan feminin. Lalu saya tuliskan lewat seorang tokoh di sini bahwa bulan itu bukan perempuan, melainkan sebentuk maskulinitas. Ini kan subversif.
Sebenarnya, mengapa novel ini diberi judul Cala Ibi?
Cala ibi memang nama burung, tapi saya pakai untuk menyebut tentang naga, seorang naga. Jadi, seekor naga yang menjelma menjadi manusia. Saya kira saya selalu terkesan dengan struktur kepemimpinan yang sangat paternalistik. Bab soal tuan tanah itu untuk me-review kembali bagaimana struktur kepemimpinan maternalistik bergeser ke paternalistik yang hierarkis, mulai dari kesultanan Islam ke era kolonialisme Portugis, Belanda, Jepang.
Anda ingin terus jadi penulis atau sambil lalu saja?
Sambil lalu sih tidak. Saya awalnya tidak menulis untuk orang banyak, dan waktu itu pun saya kira enggak layak dibaca orang lain. Dan saya baru merasa bisa diapresiasi setelah muncul di Kalam. "Nah, ini ada yang bisa mengapresiasi."
Tapi kenapa Anda memilih kuliah di pariwisata daripada sastra, misalnya?
Kenapa ya…, mungkin karena ingin jadi wisatawan yang baik dan benar, ha-ha-ha…
|