Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXXII/26 Mei - 01 Juni 2003
   
Buku

Realisme Magis, Metaforis, Alegori, dll…

Sebuah novel baru karya penulis baru diluncurkan beberapa waktu lalu. Sebuah novel realisme magis?

Cala Ibi
Karya : Nukila Amal
Penerbit : Pena Klasik, 2003

Cala ibi, sejenis burung gereja, adalah judul sebuah novel dengan ramuan berbagai gaya penulisan. Dominasi tertinggi diberikan kepada mimpi ala realisme magis, dan anti-polanya adalah realisme. Maka, jangan heran manakala pembaca menarik kesimpulan bahwa Cala Ibi adalah novel eksperimental.

Kesan eksperimental diperkuat oleh unsur tulang punggung novel, yaitu bahasa. Dengan penuh kesadaran dan ketekunan, pengarang berusaha menjadikan novel ini sebuah puisi: "Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan." (hlm. 1)

Bahasa yang menabrak logika tidak lain adalah retorika, yang excuse-nya sudah tersedia: ini kan metafora. Maka jangan heran apabila, dengan mempergunakan bahasa metaforis, pengarang berusaha menciptakan novel ini sebagai sebuah metafora pula: cala ibi bukan burung gereja melainkan naga, dan naga pun dapat menjadi anting-anting di telinga yang sanggup menguasai kehidupan pemiliknya. Cala ibi sanggup menjadi perkakas bagaikan time-machine-nya George Orwell, sanggup pula menjadi Mephistopheles-nya Dr. Faustus: terbang ke mana-mana ditunggangi oleh pemilik telinga, dan sanggup memperbudak pemilik telinga.

Karena novel ini metafora, realitas pun dengan penuh kesadaran ditabrak: "Itulah mengapa, sebaik-baiknya penceritaan realita ialah dengan jalan alegori, metafora—imaji-imaji yang mengalir seperti mimpi, tak nyata, di luar yang nyata." (hlm. 74). Realisme juga harus digempur: "Karena, realisme menyesaki yang nyata, penuh dengan kata-kata nyata, dengan bahasa yang menuding-nuding realita, yang mestinya tak kasatmata tak terkira." (hlm. 73).

Mimpi dipuja, realitas ditabrak, realisme digempur, dan—sebagai konsekuensinya—filsafat pun harus diusung masuk: "Aku ada di sini karena kau, dan kau ada di sini karena aku."(hlm. 31). Tidak lain, inilah suara eksistensialisme.

Lalu, mengapa mimpi dan metafora dipuja, dan dengan penuh kesadaran dinyatakan bahwa novel ini adalah alegori? Tidak lain karena pengarang mempunyai maksud tersembunyi untuk mengangkat salah satu bagian sejarah Nusantara, yaitu Ternate. Pada zaman dahulu kala, Ternate tidak lain adalah perempuan, dan karena itu aman sentosa. Setelah bermetamorfosis menjadi laki-laki, tidak ada pilihan bagi Ternate kecuali diobrak-abrik kekacauan. Dan sumber kekacauan adalah keserakahan semua pihak dalam memperebutkan rempah-rempah. Jadilah tanah berkelamin laki-laki sebuah ajang perebutan para penjajah, yaitu Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda.

Jangan heran manakala kekacau-balauan yang meninggalkan sekian banyak borok perlu disembuhkan. Maka, muncullah si "aku", mungkin Maya namanya, yang kemudian dikendalikan oleh Maia ("Aku bernama jamur bukannya menur," hlm. 6) sebagai agent of changes di kawasan Ternate. Jadilah Maya seorang perempuan berkedudukan tinggi di sebuah perusahan asing di Jakarta, tidak atau belum kawin, yang sewaktu-waktu bisa diterbangkan oleh cala ibi untuk kembali ke Ternate. Dan tentu saja orang-orang Ternate masih sangat tradisional, dan karena itu menyuruh Maya cepat kawin dan beranak, agar orang tuanya puas.

Siapa orang tuanya gerangan? Karena sudah sengaja di-retorika-kan "bapakku anggrek bulan, putih dari hutan" (hlm. 1), maka untuk selanjutnya bapaknya harus terus di-retorika-kan: "Bapakku pekerja ladang kopra yang pergi belajar ke Jawa" dan ibunya "penyanyi radio dan ratu dansa" (hlm. 3). "Dansa" perlu mendampingi "pekerja", "kopra", dan "Jawa," lalu disambung "bapakku ilmuwan kelautan" dan "ibuku guru" (hlm. 3).

Siapa ibunya? Dalam dunia mimpi, semua kejelasan tidak perlu, termasuk siapa Maya, Maia, Laila, dan Amanita. Bagaikan cala ibi sendiri, mereka tidak konkret, dan tidak perlu mempunyai perwatakan konkret. Untuk apa dicari yang serba konkret kalau memang yang konkret tidak diperlukan? Bukankah ayahnya, yang labelnya macam-macam itu, tidak lain adalah "bening air kelapa muda", dan "ibuku sirup merah kental buatan sendiri" yang digandengkan dengan "aku Bloody Mary" (hlm. 4)?

Mimpi dibela, "mungkin karena Tuhan itu pemimpi." (hlm. 252).

Budi Darma


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data