Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Surat

Menguak Titik-Titik Hitam, Lima Tahun Silam


09.45, 21 Mei 1998

Ini waktu yang bersejarah. Jam yang bersejarah. Fotografer Saptono dari Antara merekam peristiwa itu dengan lensa bernama Sejarah. Dan sejarah itu kami rekam kembali setelah lima tahun berlalu. Bagaimana Soeharto akhirnya menyerah dan mengundurkan diri dari jabatannya; apa yang terjadi setelah pemerintahan negeri ini dipegang oleh B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri; dan mengapa pula responden dari polling kami menyatakan mereka merindukan pemerintahan Soeharto.

Jika lima tahun reformasi ini kami anggap penting untuk diperingati, bukan hanya karena ini menjadi titik bersejarah lahirnya kembali majalah ini—setelah dibredel pada bulan Juni 1994 oleh pemerintah Soeharto—tetapi karena itulah titik bersejarah bagi bangsa yang selama 32 tahun hidup nyaris tanpa harapan menjadi bangsa yang berpikir dan bergerak dengan merdeka di bawah rezim yang otoriter.

Adalah Karaniya Dharmasaputra, Arif Zulkifli, dan M. Taufiqurohman yang kali ini diberi tugas memimpin proyek edisi khusus ini. Selain mereka bertugas mengorganisasi isi dan lajunya penugasan, penulisan, dan editing di antara riuh-rendah kesibukan sehari-hari, mereka masing-masing kebagian memimpin ”wilayah” proyek majalah ini. Karaniya bersama tim investigasi menyusuri kembali kerusuhan dan pemerkosaan Mei 1998 yang pernah menjadi laporan utama majalah ini saat kami terbit kembali pada Oktober 1998. Tentu saja ini bukan majalah yang berisi setumpuk arsip. Tugas majalah ini bukan hanya mengenang-ngenang sejarah, tetapi justru membuat sejarah hari ini. Itulah sebabnya, Karaniya dan tim Investigasinya melangkah lebih jauh: dengan berhasil menemui korban pemerkosaan dan korban-korban kerusuhan Mei lainnya. Arif Zulkifli memimpin tim Nasional untuk menyusuri jejak Soeharto dan keluarganya—sosok dan keluarga yang pernah menjadi momok yang ditakuti negeri ini puluhan tahun lamanya—serta mengaudit perubahan politik apa yang terjadi setelah Soeharto dan rezim Orde Baru tumbang. Taufiqurohman memimpin tim Ekonomi dan Bisnis, mengaudit perekonomian Indonesia sejak dolar dilepas tahun 1997 hingga kini. Trio ini tentu saja didukung para redaktur pelaksana lainnya seperti Gendur Sudarsono, yang membawahkan kompartemen Hukum—dan tak kunjung menemukan kemajuan apa pun dalam dunia yang mencoba mencari keadilan itu—serta Idrus F. Shahab, yang bekerja sama dengan kurator dan fotografer Yudhi Soerjaatmodjo yang memilih foto-foto yang menjadi ikon reformasi. Ini semua kami kerjakan berbulan-bulan lamanya—di antara kesibukan rutin setiap pekan—bermalam-malam bersama para periset foto dan desainer, karena kami tahu pembaca seperti Anda adalah pembaca yang menginginkan bacaan yang cerdas, jernih, dan menguak berbagai titik hitam di masa lalu. Mudah-mudahan edisi ini berhasil memenuhi harapan itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data