Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Seni

Sebutir Mutiara di Rak Buku

Lima tahun reformasi, buku-buku kiri membanjiri toko-toko buku. Bagaimana reaksi dari sudut kanan negeri ini?

Mereka para pendatang baru generasi kedua di toko-toko buku. Nama-nama mereka memang terdengar pribumi, tapi pikiran-pikiran mereka telah mengembara jauh: memetik sedikit dari Marx dan Engels, mencomot dari Lenin, meminjam dari Trotsky atau Bakunin. Tan Malaka, Marco Kartodikromo memang nama-nama yang pernah populer di suatu masa lalu di negeri ini. Tapi bukan itu yang sekarang menarik. Di masa Orde Baru, mereka adalah nama-nama yang seksi: dibicarakan dengan suara rendah dan didiskusikan dalam rapat-rapat gelap.

"Sebenarnya, Tan Malaka bukan hanya pahlawan, ataupun bukan hanya manusia berjiwa besar…. Kalau Tan Malaka hidup di Prancis, ia akan dimakamkan di tempat yang paling terhormat, yang disebut Pantheon alias monumen yang didirikan untuk selalu mengingatkan pada grands-hommes dari suatu bangsa." Begitu salah satu paragraf dalam kata pengantar Madilog terbitan Teplok Press. Tan Malaka pribadi yang memukau, tapi ia berkali-kali menekankan kesadaran kelas—pandangan yang tentu saja tak sejalan dengan Orde Baru.

Zaman berubah, rezim berganti. Di sebuah toko buku besar dan populer, buku-buku karya Tan Malaka—Madilog, Aksi Massa, atau Gerpolek—dikumpulkan di sebuah sudut strategis. Sedangkan Student Hidjo, suatu novel karya Mas Marco (panggilan akrab Marco Kartodikromo) yang paling dikenal, juga tampak mencolok di deretan buku-buku sastra. Dan sebuah perkenalan yang sifatnya lintas generasi perlahan terjadi di antara rak-rak buku. Di satu pihak: anak-anak muda, para mahasiswa, tengah mencari "sesuatu" untuk disimpan di dalam dada, untuk dijadikan inspirasi yang menggetarkan. Di lain pihak: Tan Malaka, Marco Kartodikromo, dan rekan-rekannya menyodorkan buah-buah pikiran revolusioner.

Generasi pertama buku-buku kiri memiliki lebih banyak sentuhan "impor" ketimbang warna pribumi. Di tahun-tahun pertama setelah kejatuhan Soeharto, pengunjung toko buku melihat perubahan setting mengejutkan. Ada potongan Das Kapital karya Marx, dan Filsafat Jerman Zaman Akhir karya Frederick Engels, atau catatan perjuangan tokoh revolusioner-romantis asal Amerika Latin yang punya daya tarik tinggi di kalangan anak muda, Che Guevara. Semua melalui proses penerjemahan yang riskan. Buku-buku Marx berangkat dari teks Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, untuk kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sedangkan memoar Che Guevara berawal dari teks berbahasa Spanyol yang lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris, sebelum akhirnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Reformasi adalah terbukanya kesempatan untuk setiap orang. Sejumlah perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) menulis dan menerbitkan memoar. Mereka menolak stempel yang diberikan Orde Baru: terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Kemudian ada Letnan Kolonel Untung menerbitkan pleidoinya, Soeharto Terlibat. Pemerintah Orde Baru menyebut Untung salah satu aktor intelektual terjadinya peristiwa G30S/PKI. Di samping itu, sejumlah eks tahanan politik tak menyia-nyiakan kesempatan yang tak pernah terbayangkan lima tahun silam itu.

Banjir buku ini sempat membuahkan reaksi tersendiri ketika kelompok Aliansi Anti-Komunis pada Mei 2001 berniat menyapu bersih berbagai buku kiri yang ada di pasaran. Namun, reaksi menentang kemudian terdengar begitu santer. Diam-diam penolakan terhadap sensor bergerak di bawah arus yang kasatmata. Berbagai kelompok kini muncul, menggelar aksi menolak rencana sweeping buku-buku kiri. Pemerintah mengambil jarak, tidak ikut campur, sampai akhirnya Menteri Kehakiman dan HAM saat itu, Dr. Baharuddin Lopa, memutuskan larangan melakukan sweeping buku.

Kelompok kiri telah menggunakan kesempatan yang terkuak, tapi di mana buku-buku ideologi "kanan" sekarang? Kita mungkin ingat, lebih setengah abad silam, ada seorang pemuda Mesir yang lahir di pelosok pedesaan tapi kemudian tumbuh menjadi kekuatan yang mengguncang dunia Islam. Hasan al-Banna (1906-1949) memiliki setiap syarat yang dibutuhkan seorang revolusioner macam Tan Malaka: pikiran yang tajam, keyakinan yang kukuh, jadi martir, membangun sebuah gerakan yang hebat (Ikhwanul Muslimin), dan meninggalkan sejumlah buku hasil renungannya di penjara. Tapi kenapa buku-buku Hasan al-Banna seakan tak dimunculkan lagi buat menjawab tantangan dari sudut kiri?

Alkisah, tatkala masih duduk di pucuk kekuasaan, K.H. Abdurrahman Wahid pernah berbincang dengan Presiden Iran Mohammad Khatami. Di suatu kesempatan, ia mengurai karakteristik pemeluk Islam di negeri ini. Mereka, kata Gus Dur, praktis-praktis saja. Tidak filosofis seperti di Iran. Tak jelas benar apakah ini berarti Indonesia tidak memiliki ideolog muslim yang terampil. Yang terang, penerbit LkiS (Lembaga Kajian Islam dan Transformasi) telah menerbitkan buku-buku ideologis. Penerbit hasil metamorfosis suatu kelompok diskusi mahasiswa di Yogyakarta pada 1993 ini tidak memilih Hasan al-Banna ataupun Yusuf Qardhawi.

LkiS tak berdiri di sebuah titik ekstrem. Buku-buku terjemahan yang mereka terbitkan meliputi karya Hassan Hanafi, Fatima Mernisi, Mohamed Arkoun, atau Asghar Ali Engineer. Best seller mereka adalah Kiri Islam, buku yang terjual 3.000 eksemplar dalam tiga bulan pada 1993. Buku itu membahas pemikiran kritis Prof. Hassan Hanafi, seorang sarjana muslim kiri yang tinggal di Mesir. "Salah satu berkah reformasi adalah kita bisa menerbitkan buku dengan tema apa pun," kata Ahmad Fikri A.F., Direktur LkiS. LkiS adalah penerbit yang mendapat hadiah 25 ribu euro dari Yayasan Pangeran Klaus, Negeri Belanda. Yayasan itu memuji buku-buku pilihan LkiS.

Di Yogya ada LkiS, di Bandung ada Mizan, satu penerbitan dengan prestasi bagus. Sikap Mizan tidak jauh berbeda. Penerbit yang didirikan Haidar Bagir dan kawan-kawan 20 tahun lalu ini justru menyambut kedatangan buku-buku kiri. Memperkaya khazanah perbukuan, sekaligus memberi angin kepada dunia perbukuan kita dewasa ini. Penerbit ini memang tak menghindari karya-karya ideologis. Mereka pernah menerbitkan berbagai karya para pemikir Iran dewasa ini. Berulang kali berbagai karya Ali Shariati dan Mutahhari menjadi best seller.

Buku-buku karya Hasan al-Banna mungkin masih bersembunyi di sudut kanan panggung politik negeri ini. Tapi dunia buku menuntut sebuah kematangan. Benturan antara dua kutub yang berlawanan tidak perlu berlangsung di jalanan, tapi di rak-rak toko buku. Dari situ, lahirlah mutiara pemikiran yang melampaui zamannya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data