|
S ETIAP bulan Mei, Amien Rais, 59 tahun, selalu terbayang kain sarung, mobil ambulans, dan sebuah ketakutan. Itulah yang mewarnai hari-harinya sebelum Soeharto jatuh lima tahun lalu. Kala itu, pada 20 Mei dini hari, ia buru-buru pergi ke Monumen Nasional dengan hanya memakai kain sarung. Ini berkait dengan rencana aksi massa yang akan diikuti ribuan orang. Soalnya, dari Cilangkap terdengar kabar: ABRI tidak mau bertoleransi, dan darah bisa tumpah. "Ketika pergi ke sana, ternyata gulungan kawat dan panser memang sudah disiapkan," tuturnya.
Akhirnya, dia putuskan menunda aksi massa itu. Pertimbangannya, untuk menjatuhkan Soeharto tak harus ada darah yang berceceran. Tapi, sebelum benar-benar Soeharto jatuh, Amien yang tumbang. Karena begadang dua malam, fisiknya rontok. Namun, baru satu jam dirawat di rumah sakit, ia dipaksa pergi lagi. "Saat itu teman-teman mengatakan perkembangannya cukup mengkhawatirkan." Untuk menuju ke sebuah pertemuan, Amien pun diangkut ambulans.
Kini semua tinggal cerita. Sebagai Ketua MPR, sekarang Amien kerap ditagih untuk memenuhi janji-janjinya tentang reformasi. Diakuinya, korupsi masih merajalela. Tapi, "Beberapa agenda sudah bisa dipanen," ia menukas.
|