Isyarat di Balik Bom Riyadh Tragedi 12 Mei disetarakan dengan serangan 11 September. "Sidik jari" Al-Qaidah terbaca di kompleks Hamra. Watak ancaman yang berubah. |
HANYA beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, menjejakkan kakinya di Riyadh, serangkaian bom "three in one" mengguncang ibu kota Arab Saudi itu, Senin tengah malam lalu. Sedikitnya 34 orang tewas, lebih dari 194 cedera. "Pengeboman ini jelas sekali merupakan serangan teroris yang sangat terencana," kata Powell, yang bersama beberapa pemimpin Saudi mengunjungi situs ledakan keesokan harinya.
Musibah 12 Mei ini, yang di kawasan Timur Tengah mulai dipadankan dengan serangan 11 September 2001, seperti menyetarakan Amerika dan Saudi sebagai "musuh bersama" para teroris. Tepatkah gerangan "penyetaraan" itu? Kendati Colin Powell, bahkan Presiden George W. Bush, belum berani memastikan bom jibaku ini kiriman Al-Qaidah, "sidik jari" para penyerbu seperti sama mengarah ke sana.
Untuk Amerika, ini tamparan kesekian kalinya. Setelah menghalau Taliban dan menempatkan Usamah bin Ladin sebagai buron kelas satu, terutama setelah 11 September 2001, sampai hari ini mereka belum meringkus pria ringkih yang berjalan tertatih-tatih itu. Invasi ke Irak juga tak berhasil menciduk Saddam Hussein. Dan kini: bom Riyadh.
Tapi, paling tidak, kita bisa membaca sejumlah isyarat yang sama baiknya sebagai masukan pertimbangan Washington dan Riyadh. Adalah bukan rahasia bahwa sejumlah tokoh penting Saudi pernah mengingatkan, kegagalan menciptakan perdamaian di kawasan itu akan membangkitkan sentimen ekstremis, dan pendudukan Irak justru ibarat bahan bakar memarakkan serangan teroris.
Pilihan sasaran bom 12 Mei juga tak bisa diremehkan. Kompleks Hamra di sisi timur Riyadh itu merupakan enclave mewah para pekerja asing, terutama Barat, yang dibutuhkan Saudi memelihara dan memacu semarak ekonominya. Di antara korban terdapat warga Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Irlandia, bahkan seorang Filipina.
Di balik tembok-tembok Hamra berlangsunglah gaya hidup yang berseberangan dengan norma-norma ketat Wahabi yang dianut masyarakat Saudi. Bila Hamra dianggap simbol "Barat" (baca: Amerika Serikat), serangan terhadap lokasi itu bisa pula dipandang mengingatkan Washington yang, dalam anggapan sebagian besar kawula Saudi, bekerja sama dengan pemerintah yang tak mengacuhkan masalah mereka.
Teknologi medan perang, kata Tom Clancy dalam buku yang ditulisnya bersama Jenderal (Purn.) Fred Franks, Jr., Into the Storm; a Study in Command, "
senantiasa tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan watak ancaman, taktik, strategi, dan doktrin." Problem nyata masyarakat Saudi, menurut Khairallah Khairallah, kolumnis Al-Hayat, koran berpengaruh berbahasa Arab yang terbit di London, "Mereka tak pernah mengkaji pertanyaan realistis, mengapa masyarakat mereka melahirkan orang-orang seperti itu"maksudnya para pengebom itu.
Banyak orang Arab, bahkan beberapa pangeran senior, berusaha menyangkal kenyataan bahwa 15 dari 19 pelaku serangan 11 September adalah warga Saudi. Sepekan sebelum 12 Mei, aparat keamanan Saudi menyita 365 kilogram bahan peledak, tapi 19 pelaku yang dicurigai17 di antaranya warga Saudilenyap tak berbekas. Mereka ditengarai pernah beroperasi di gurun Afganistan dan Chechnya.
Putra Mahkota Abdullah, yang dalam kehidupan sehari-hari memegang kendali pemerintahan, bersumpah akan menghadapi dan menghancurkan para pelaku serangan 12 Mei. Tak pelak lagi, inilah satu-satunya sikap yang harus diambil pemimpin bertanggung jawab dalam menghadapi terorisme. Tapi, barangkali, perubahan watak "ancaman", seperti ditulis Clancy, perlu juga dipertimbangkan. Katakanlah dengan tak semata-mata memandang ke "luar", tetapi juga menoleh ke "dalam": meraba hasrat yang mengendap di bawah permukaandi luar tembok-tembok istana.
|