Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Opini

Isyarat di Balik Bom Riyadh

Tragedi 12 Mei disetarakan dengan serangan 11 September. "Sidik jari" Al-Qaidah terbaca di kompleks Hamra. Watak ancaman yang berubah.

HANYA beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, menjejakkan kakinya di Riyadh, serangkaian bom "three in one" mengguncang ibu kota Arab Saudi itu, Senin tengah malam lalu. Sedikitnya 34 orang tewas, lebih dari 194 cedera. "Pengeboman ini jelas sekali merupakan serangan teroris yang sangat terencana," kata Powell, yang bersama beberapa pemimpin Saudi mengunjungi situs ledakan keesokan harinya.

Musibah 12 Mei ini, yang di kawasan Timur Tengah mulai dipadankan dengan serangan 11 September 2001, seperti menyetarakan Amerika dan Saudi sebagai "musuh bersama" para teroris. Tepatkah gerangan "penyetaraan" itu? Kendati Colin Powell, bahkan Presiden George W. Bush, belum berani memastikan bom jibaku ini kiriman Al-Qaidah, "sidik jari" para penyerbu seperti sama mengarah ke sana.

Untuk Amerika, ini tamparan kesekian kalinya. Setelah menghalau Taliban dan menempatkan Usamah bin Ladin sebagai buron kelas satu, terutama setelah 11 September 2001, sampai hari ini mereka belum meringkus pria ringkih yang berjalan tertatih-tatih itu. Invasi ke Irak juga tak berhasil menciduk Saddam Hussein. Dan kini: bom Riyadh.

Tapi, paling tidak, kita bisa membaca sejumlah isyarat yang sama baiknya sebagai masukan pertimbangan Washington dan Riyadh. Adalah bukan rahasia bahwa sejumlah tokoh penting Saudi pernah mengingatkan, kegagalan menciptakan perdamaian di kawasan itu akan membangkitkan sentimen ekstremis, dan pendudukan Irak justru ibarat bahan bakar memarakkan serangan teroris.

Pilihan sasaran bom 12 Mei juga tak bisa diremehkan. Kompleks Hamra di sisi timur Riyadh itu merupakan enclave mewah para pekerja asing, terutama Barat, yang dibutuhkan Saudi memelihara dan memacu semarak ekonominya. Di antara korban terdapat warga Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Irlandia, bahkan seorang Filipina.

Di balik tembok-tembok Hamra berlangsunglah gaya hidup yang berseberangan dengan norma-norma ketat Wahabi yang dianut masyarakat Saudi. Bila Hamra dianggap simbol "Barat" (baca: Amerika Serikat), serangan terhadap lokasi itu bisa pula dipandang mengingatkan Washington yang, dalam anggapan sebagian besar kawula Saudi, bekerja sama dengan pemerintah yang tak mengacuhkan masalah mereka.

Teknologi medan perang, kata Tom Clancy dalam buku yang ditulisnya bersama Jenderal (Purn.) Fred Franks, Jr., Into the Storm; a Study in Command, "…senantiasa tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan watak ancaman, taktik, strategi, dan doktrin." Problem nyata masyarakat Saudi, menurut Khairallah Khairallah, kolumnis Al-Hayat, koran berpengaruh berbahasa Arab yang terbit di London, "Mereka tak pernah mengkaji pertanyaan realistis, mengapa masyarakat mereka melahirkan orang-orang seperti itu"—maksudnya para pengebom itu.

Banyak orang Arab, bahkan beberapa pangeran senior, berusaha menyangkal kenyataan bahwa 15 dari 19 pelaku serangan 11 September adalah warga Saudi. Sepekan sebelum 12 Mei, aparat keamanan Saudi menyita 365 kilogram bahan peledak, tapi 19 pelaku yang dicurigai—17 di antaranya warga Saudi—lenyap tak berbekas. Mereka ditengarai pernah beroperasi di gurun Afganistan dan Chechnya.

Putra Mahkota Abdullah, yang dalam kehidupan sehari-hari memegang kendali pemerintahan, bersumpah akan menghadapi dan menghancurkan para pelaku serangan 12 Mei. Tak pelak lagi, inilah satu-satunya sikap yang harus diambil pemimpin bertanggung jawab dalam menghadapi terorisme. Tapi, barangkali, perubahan watak "ancaman", seperti ditulis Clancy, perlu juga dipertimbangkan. Katakanlah dengan tak semata-mata memandang ke "luar", tetapi juga menoleh ke "dalam": meraba hasrat yang mengendap di bawah permukaan—di luar tembok-tembok istana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data