Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Nasional

Membelot Menjelang Perang

Panglima Operasi Lapangan GAM, Teungku Amri, menyerahkan diri ke Republik. Seberapa pentingkah perannya di GAM?

TEPUK tangan menggema di ruang rapat lantai VI Kantor Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa siang pekan lalu, saat seorang lelaki berbaju lengan pendek warna merah marun masuk dan menuju podium. Pria berjanggut dengan cambang di wajah itu adalah Teungku Amri bin Abdul Wahab, Panglima Operasi Lapangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Matanya bergerak kiri-kanan melihat situasi di sekelilingnya. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bicara.

Amri, yang akrab dipanggil Teungku Am, lahir di Pusong, Lhokseumawe, Aceh Utara, tahun 1970, sejak Selasa dini hari pekan lalu menyerahkan diri kepada Republik Indonesia. Sebelumnya, anak Abdul Wahab, 65 tahun—seorang nelayan yang kini menjadi pedagang sayur di Lhokseumawe—menjadi salah seorang juru runding mewakili GAM di Komite Keamanan Bersama (Joint Security Council—JSC), yang berkantor di Banda Aceh, sejak penandatanganan kesepakatan penghentian permusuhan, Desember tahun lalu. ”Untuk mencapai kemerdekaan bukan gampang, tak akan didapat tanpa dukungan internasional,” kata Amri.

Minus dukungan internasional. Itulah yang ia rasakan saat ditangkap polisi dengan tiga juru runding asal GAM lainnya, Jumat dua pekan lalu. Ia dijadikan tersangka sejumlah aksi peledakan di Jakarta dan Medan. Namun mereka dilepas kembali setelah ditahan dua hari—sampai akhirnya Amri menyerahkan diri. ”Saya akan mengajak rekan lainnya bergabung dan mengakui Indonesia. Saya mohon maaf atas kekhilafan selama ini,” ujarnya.

Dicecar dengan sangkaan berat, mungkin saja Amri keder. Apalagi Jakarta memberi tenggat agar GAM tak menghimpun kekuatan dan menggudangkan senjatanya—sesuai dengan butir kesepakatan—hingga Senin, 12 Mei lalu. Kalau mereka menolak opsi otonomi khusus, GAM akan diserang dan perang pun tak terelakkan. Pemerintah, rencananya, akan berkonsultasi dengan DPR pekan ini, sebelum melakukan operasi militer.

Riwayat hidup Amri boleh dikata tak istimewa. Abdul Wahab, sang ayah, masih ingat cita-cita anaknya. ”Sebelum naik kelas tiga di SMP, Amri bilang mau masuk ABRI. Tapi emaknya bilang selesaikan dulu sampai SMA. Nanti kau baru bisa masuk ABRI,” ujar Wahab kepada sejumlah jurnalis, termasuk Wahyu Dhyatmika dari TEMPO, di Markas Batalion Infanteri 143, Punteut, Aceh. Amri sempat nyantri di Aceh Selatan dan tinggal bersama ayahnya. Ia menikah dan punya empat anak.

Amri pernah berjualan jamu, tapi bisnisnya amburadul ketika diobrak-abrik TNI—sebab, intelijen keburu tahu bahwa ia ikut GAM sejak awal 1999. Tugasnya, waktu itu, mengantar logistik ke pasukan GAM di medan tempur. Sukses. Lalu, ia diberi tugas memantau aparat Kodim Lhokseumawe yang jadi beking penebangan kayu. Atas informasinya, GAM berhasil melucuti TNI dan merampas 12 pucuk senjata di Paya Bakong.

GAM tak melupakan jasa Amri. Maka, pada tahun 2000, ia diberi pangkat Panglima Operasi Lapangan GAM, dan dikirim untuk menjadi kurir zona aman saat kesepakatan jeda kemanusiaan diteken. Amri menghilang ketika GAM terdesak. Ternyata ia pergi ke Pulau Jawa, kawin dan tinggal di Cisarua, Jawa Barat, sampai punya anak satu. Ia nongol lagi menjelang ditekennya kesepakatan penghentian permusuhan antara GAM dan RI pada Desember 2002.

Amri lalu minta posisi agar bisa duduk di JSC. GAM setuju. Amri duduk di Subkomite Operasional JSC di Banda Aceh. Padahal Amri masih menjabat Komandan Operasi GAM. Sikap ini sengaja ditempuh, kata juru bicara GAM, Sofyan Daud, untuk menaikkan daya tawar Amri. ”Padahal Amri hanyalah seorang anggota GAM junior yang ditempatkan mengurusi hal-hal yang berbau sipil,” kata Sofyan.

Sofyan Daud punya catatan buruk. Amri, katanya, akan ditindak karena membunuh anggota GAM, Februari lalu. ”Dia tak bisa bayar utang Rp 10 juta dalam bisnisnya, lalu membunuh anggota GAM, seolah-olah dibunuh oleh Brimob,” kata Sofyan. Karena ketakutan, Amri lari ke Indonesia. ”Pengkhianatannya tak mempengaruhi perjuangan kemerdekaan Aceh,” kata Sofyan kepada Zainal Bakri dari TEMPO lewat telepon selulernya.

Kantor Medan Merdeka Barat jelas gembira-ria. Menurut Sekretaris Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Letnan Jenderal Sudi Silalahi, pindahnya Amri menguntungkan Indonesia. ”Karena Amri mengetahui kondisi obyektif di lapangan,” ujarnya kepada Cahyo Junaedy dari TEMPO. Pengajar mata kuliah sosiologi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Otto Syamsudin Ishak, sepakat dengan Sudi. ”Kalau betul itu penyerahan diri, hal itu akan berdampak pada demoralisasi para pemimpin GAM yang lain,” katanya.

Pada akhir pidatonya, Amri minta perlindungan. ”Apa pun yang terjadi terhadap keluarga saya, hal itu menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia untuk melindungi,” katanya. Ini isyarat gawat dari seorang bekas petinggi gerilyawan bersenjata anti-Republik yang minta beking terhadap ancaman GAM. Amri tampaknya khawatir akan keselamatan diri dan keluarganya. ”Walaupun dia dikenal sebagai panglima, bukan berarti dia yang mengatur strategi perang gerilya di Aceh,” ujar Otto.

Ahmad Taufik


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data