Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Monitor

Menengok Soeharto, Setelah Lima Tahun

Siapa Presiden Indonesia? Lebih dibutuhkan yang otoriter tapi tegas ketimbang yang demokratis namun lembek.

Ketika dijatuhkan lima tahun lalu, bekas presiden Soeharto mungkin tak membayangkan dia akan "dirindukan" seperti sekarang. Ketika itu ia dicaci seperti sampah, didemo besar-besaran, dan dinyatakan sebagai penyebab utama kehancuran negeri ini. Kawan seiring menyeberang, lawan politik menyerang.

Kini, ia memang tak lantas dipuja atau diminta untuk kembali. Kejahatannya tak dilupakan—meski pengadilan untuknya tak pernah dilangsungkan. Dosa-dosanya pun tak lantas dikuburkan. Tapi getir perubahan politik pasca-reformasi ternyata membuat orang bernostalgia: seandainya Soeharto tak jatuh, mungkin hidup tak sesulit sekarang.

Jajak pendapat TEMPO yang dilakukan di lima kota besar April lalu membuktikan nostalgia itu. Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan demokratisasi yang berjalan tersengal-sengal membuat orang menengok ke belakang.

Responden, misalnya, menilai zaman Soeharto lebih baik dalam urusan kesejahteraan ekonomi dan keamanan. Reformasi dinilai tak punya peran dalam memperbaiki kepercayaan masyarakat terhadap pejabat publik, ketertiban umum, kualitas pendidikan, dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan. Kalaupun mau disyukuri, bagi sebagian besar responden, mereka sekarang lebih mudah mendapatkan informasi ketimbang era sebelumnya.

Bukan hanya itu. Simbol-simbol reformasi seperti demonstrasi massa—yang tak pernah bisa digelar massal di era Soeharto—kini cuma dipandang sebelah mata. "Lebih banyak bikin macet," kata Latifa, seorang ibu yang bekerja di kawasan perkantoran Sudirman, Jakarta—kawasan "langganan" demo di jantung Ibu Kota. Alih-alih efektif menyuarakan perubahan, demonstrasi dinilai hanya memberi makan buat demonstran bayaran.

Kepemimpinan politik idem dito. Tiga presiden pasca-Soeharto—Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri—dinilai tak mampu menyaingi sang Jenderal Besar. Soeharto dianggap lebih piawai mengatasi konflik, mengorganisasikan tim kerja, dan lebih banyak memproduksi ide-ide besar.

Ironisnya lagi: kekecewaan responden terhadap presiden pasca-reformasi membuat mereka tak percaya bahwa pemimpin yang demokratislah yang dibutuhkan di negeri ini. Menurut mereka, Indonesia sekarang membutuhkan presiden yang otoriter tapi bisa menegakkan hukum ketimbang pemimpin yang demokratis tapi lembek.

Begitu muramkah era reformasi? Itulah yang terjadi. Selama lebih dari tiga dasawarsa, Soeharto membangun negara dengan pondasi yang keropos serta—meminjam Bung Hatta—seperti rumah kartu. Sebuah bangunan yang megah tampaknya, tapi rapuh sendinya. Ketika bangunan itu rontok, publik ingin melihat bangunan baru yang juga megah. Yang terjadi, harapan masyarakat tidak pernah sesuai dengan apa yang mereka dapatkan.

Padahal memperbaiki kerusakan setelah 32 tahun tak semudah membalik telapak tangan. Indonesia, yang sebelumnya adalah nation in waiting, negara yang menunggu dalam ketidakpastian—meminjam cendekiawan Nurcholish Madjid—kini menjadi nation in the making: sebuah negara yang sedang dibangun kembali.

Proses yang memakan waktu inilah yang kerap tak bisa ditunggu publik. Apalagi dalam proses reformasi terlalu banyak kerusakan terjadi: korupsi, pelanggaran hak asasi, ketidakpastian hukum. Tak aneh kalau kini publik bernostalgia tentang era Soeharto: sebuah era yang tenang, meski rapuh—seperti rumah kartu.



Dari mana Anda mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan reformasi 1998 berikut ini?
 Media massa, kawan, dan sumber sekunder lainnyaTerlibat baik langsung maupun tidak langsung (misalnya ikut demo untuk menjatuhkan Soeharto)
Kejatuhan Soeharto pada Mei 199892,60% 4,23%
Kerusuhan massal menjelang kejatuhan Soeharto pada Mei 199890,62% 2,73%
Jatuhnya nilai rupiah yang mengakibatkan krisis ekonomi nasional96,01% 0,61%
Pergantian kekuasaan dari Soeharto ke Habibie96,18% 1,57%
Pemilu dengan menyertakan 48 partai politik78,37% 13,38%
Jatuh-bangunnya pemerintahan dalam lima tahun terakhir (Habibie, Abdurrahman Wahid)89,33% 3,18%
 
Apakah Anda ikut terlibat dalam tahap-tahap pemilu berikut pada Pemilu 1999 lalu?
 YaTidak
Pembentukan partai politik3,19%96,81%
Kampanye partai politik24,94%75,06%
Kepanitiaan Pemilu 19999,25%90,75%
Memilih dalam Pemilu 199997,50%2,50%
 

Partai apakah yang Anda pilih dalam Pemilu 1999 lalu?
PDIP26,79%
Golkar14,97%
PPP11,7%
PAN8,4%
PKB5,7%
Lain-lain5,80%
Menolak menjawab26,49%
 

td valign=top>8,78%
Dibandingkan dengan era Soeharto, berdasarkan ukuran-ukuran berikut ini, bagaimana Anda menilai kualitas hidup Anda sekarang?
 Sangat lebih burukBurukSama sajaLebih baikSangat lebih baik
Kampanye partai politik37,69%19,80%35,14%3,60%3,78%
Kepuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan19,26%17,87%52,48%7,29%3,10%
Kualitas pendidikan13,01%12,41%53,98%13,54%7,06%
Kemudahan memperoleh pendidikan10,95%14,54%53,59%13,54%7,38%
Rasa aman31,23%23,24%34,00%7,43%4,11%
Kemudahan mendapat fasilitas kesehatan9,85%13,13%55,01%16,28%5,72%
Kemudahan mendapat informasi2,55%7,29%29,51%35,03%25,62%
Kemudahan menyampaikan pendapat2,08%6,50%21,13%38,21%32,08%
Kepercayaan kepada pejabat publik10,25%19,85%57,57%7,91%4,43%
Kepercayaan kepada penegak hukum (polisi, jaksa, dll.)11,40%21,43%54,34%7,42%5,41%
Keharusan membayar pungli (pungutan liar) kepada pegawai instansi/pemerintahan16,74%61,78%6,72%5,97%
Keharusan membayar pungli kepada oknum masyarakat (preman)8,95%19,16%61,26%7,98%2,66%
Ketertiban umum (antre, dll.)7,82%16,01%55,08%15,93%5,16%
Kebebasan menjalankan keyakinan (agama)1,58%4,45%57,27%22,58%14,11%
Kebebasan bereproduksi (punya anak lebih dari 2 dll.)3,32%5,90%67,19%16,31%7,27%
Kebebasan berorganisasi1,36%5,52%26,82%37,10%29,21%
Kebebasan menentukan pilihan politik1,19%5,98%25,09%39,94%27,80%
 

Dengan memberi nilai 1 hingga 5 (1 untuk nilai paling buruk dan 5 paling baik), bagaimana Anda menilai kinerja pemerintahan Soeharto dan tiga presiden setelahnya?*
 SoehartoHabibieGus DurMegawati
Kesejahteraan rakyat3,352,942,692,61
Kepastian hukum2,852,952,822,92
Keamanan masyarakat3,443,012,832,77
Kemudahan mendapat informasi2,743,293,353,46
Otonomi daerah terhadap pusat2,612,913,003,15
Penanganan daerah bergolak (Aceh, Irian, dan Timor Timur)3,072,492,722,72
Pelayanan masyarakat3,083,063,033,08
Kualitas pemilu2,473,143,133,18
Kebebasan menyampaikan pendapat2,333,443,443,53
Hubungan sipil-militer2,853,012,973,05
Pemerintahan yang bersih2,222,722,682,68
Kebebasan menyalurkan aspirasi politik2,343,203,293,32
Kualitas anggota parlemen2,612,902,822,90
Kualitas menteri2,722,912,782,89
Kualitas lembaga tinggi negara lain (MA, Kejaksaan Agung, BPK)2,602,792,752,90
*) Angka yang disajikan adalah nilai rata-rata (mean score)
 

Bagaimana Anda menilai aktivitas politik pasca-reformasi berikut ini?
 Demonstrasi massaSidang DPRGaya hidup menteri dan pejabat publik lainnya
Sangat tidak memuaskan7,06%9,42%27,93
Tidak memuaskan33,46%44,05%42,70%
Biasa saja32,51%37,39%23,71%
Memuaskan25,46%8,96%5,37%
Sangat memuaskan1,51%0,17%0,29%
 

Menurut Anda, apakah saat ini cita-cita reformasi sudah tercapai?
Belum96,03%
Sudah3,97%
 
Menurut Anda, tipe pemimpin seperti apakah yang bisa menyelamatkan asalkan bisa menegakkan kebenaran67,97%
Pemimpin yang demokratis meskipun lunak32,03%
 
Pemimpin ideal untuk Indonesia saat ini berasal dari….
Sipil53,55%
Militer46,45%
 
Bagi yang menjawab sipil, sebaiknya dari kalangan mana pemimpin Indonesia mendatang?
Universitas/akademisi31,94%
Ulama/agamawan30,86%
Partai politik25,43%
Pengusaha/wiraswasta7,19%
Birokrasi4,52%
 
Apakah saat ini Anda menghendaki Soeharto kembali memimpin Indonesia?
Tidak82,42%
Ya17,58%
 
Bagi yang mengatakan ya, apa alasan Anda?
Hanya Soeharto yang bisa mengatasi krisis60,89%
Soeharto bisa bersikap tegas36,74%
Soeharto bisa menyatukan bangsa Indonesia34,72%
Soeharto berani melawan bangsa lain yang mengintervensi Indonesia10,97%
Perekonomian berjalan dengan baik3,70%
* Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban
 
Bagi yang mengatakan tidak, apa alasan Anda?
Era Soeharto sudah berakhir, Indonesia harus dipimpin oleh generasi baru43,77%
Kepemimpinan Soeharto dirongrong oleh kepentingan anak-anak dan keluarganya37,47%
Soeharto telah menanamkan kerusakan di Indonesia selama 32 tahun34,14%
Soeharto cenderung memperkaya diri sendiri25,44%
Kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan9,77%
* Responden dapat memilih lebih dari satu jawaban
 

Dengan kriteria berikut ini, bagaimana Anda menilai kepemimpinan Soeharto dan tiga presiden setelahnya? (1 untuk paling buruk, 5 untuk paling baik)*
 SoehartoHabibieGus DurMegawati
Kemampuan mengatasi konflik3,492,842,672,74
Orisinalitas ide3,192,872,883,19
Kemampuan memberi teladan3,003,072,782,92
Kemampuan mengorganisasikan tim kerja3,303,022,702,88
*) Angka yang disajikan adalah nilai rata-rata (mean score)
 

Metodologi jajak pendapat : Jajak pendapat ini dilaksanakan dari tanggal 15 sampai 25 April 2003. Pengumpulan data dilakukan terhadap 1.050 responden di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Dengan menggunakan ukuran sampel 1.050 tersebut, estimasi terhadap nilai parameter mempunyai margin of error sebesar 4-6 persen. Survei dilakukan dengan metode stratified random sampling. Analisis data sampel dibobot (weighted) berdasarkan sensus penduduk BPS (2002).

Independent Market Research

Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data