|
RATAP tangis meledak di tengah ratusan penduduk yang menyaksikan pembongkaran kuburan massal di luar Desa Hillah, 60 kilometer di selatan Bagdad, pada Rabu pekan lalu. Setelah dihitung, ditemukan 3.000 kerangka manusia. Ini temuan paling besar di Irak setelah rezim Saddam Hussein tumbang. Sebelumnya kuburan serupa ditemukan di dekat Kota Basra. Isinya, lebih dari 150 mayat kaum Syiah yang dibunuh tentara Irak pada 1999.
Kekejaman rezim Saddam pun segera membayang. Selain mengubur orang yang sudah mati, kaki tangan Saddam juga mengubur orang hidup-hidup. "Tak ada peluru bersarang di tubuh. Tangan mereka terikat dan mata ditutup," kata Amer Shumri, pejabat dari kantor gubernur di Hillah. Maka, sejumlah perempuan berteriak histeris, "Tak ada Tuhan selain Allah, dan Partai Baath adalah musuh Allah."
Bukan cuma kaum perempuan itu yang marah terhadap Partai Baath. Jenderal Tommy Frank, komandan pasukan Amerika Serikat di Irak, masih tersengat histeria penaklukan Irak dengan membredel Partai Baath sehari sebelum penemuan kuburan massal itu. "Partai Sosialis Baath Irak dibubarkan," ujar Frank. Tapi pembubaran Partai Baath dinilai hanya aksi gagah-gagahan Amerika. Buktinya, sebagian bekas pejabat tinggi Irak masih bekerja sebagaimana biasa—mereka adalah anggota Partai Baath. Memang, dari 1,5 juta anggota Partai Baath, sebagian besar memilih masuk ke partai itu karena sikap pragmatis: demi kedudukan dan tekanan rasa takut.
Raihul Fadjri (Reuters, AP, Washington Post, New York Times)
|