Gurita Langsing yang Sehat |
LIMA tahun tanpa Soeharto, bisnis Cendana diet ketat. Bimantara, Arseto, Humpuss, Citra Lamtoro Gung, dan Maharani harus bertarung tanpa senjata andalan mereka selama ini: fasilitas bebas pajak, insentif dan izin khusus, dan sejuta perlakuan istimewa lainnya. Bank-bank tak lagi mengumbar kredit, para pengusaha tidak lagi menyetor saham gratis.
Tak kuat bertahan di medan laga yang keras, sejumlah perusahaan Cendana rontok. Maharani kini tak lagi terdengar derapnya. Begitu juga Lamtoro. Raksasa yang memiliki andil hampir di semua ruas jalan tol Indonesia itu kini mengkerut. Kepemilikan Lamtoro di Citra Marga Nusaphala harus dilepas untuk menebus utang.
Tapi, bagi beberapa perusahaan yang lain, seperti Bimantara, diet ketat ini justru membuat sehat. Konglomerasi multiusaha ini memang bukan lagi raksasa gembrot, melainkan sebuah pohon bisnis yang ramping dengan struktur keuangan yang kuat dan beban utang yang tertanggungkan.
Sebelum sampai ke titik itu, Bambang Trihatmodjo, pemilik dan pendiri Bimantara, memang harus banyak berkorban. Ia terpaksa melepaskan sahamnya di sejumlah perusahaan top, seperti raksasa telekomunikasi Satelindo, perusahaan tanker Osprey Maritim, dan Van Der Horst, perusahaan konstruksi Singapura yang menggagas megaproyek listrik swasta di Batam.
Berikut ini gambaran gurita bisnis anak-anak Cendana, lima tahun setelah kekuasaan tak lagi membelainya.
--------------------------------------------------------------------------------
Bambang Trihatmodjo
PT Asriland.
Kini membawahkan sekitar 190 anak perusahaan dan afiliasi yang tersebar di pelbagai negara, bisnisnya meliputi bidang perdagangan, properti, transportasi, dan otomotif. Meskipun namanya tak terlalu mengorbit, Asriland memiliki sejumlah kongsi dagang dengan pengusaha luar negeri.
PT Bimantara Group Tbk.
Dalam konglomerasi multiusaha di bidang properti, media komunikasi, gas, energi, dan kimia ini, Bambang merupakan pemegang saham terbesar yang belakangan mengurangi andilnya. Lewat PT Asriland, Bambang kini cuma memiliki 14 persen Bimantara. Mayoritas saham kini berada di tangan pengusaha Hary Tanoesoedibyo. Bimantara menguasai 70 persen saham Global TV, 53 persen di RCTI, dan 25 persen di Metro TV.
Ari Sigit (putra Sigit Harjojudanto)
Artha Wisanto Invesco membawahkan sekitar 30 anak perusahaan yang bergerak di bidang usaha konstruksi dan real estate.
Siti Hardijanti Indra Rukmana
PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).
Sekitar 17 persen saham Tutut (melalui Citra Lamtoro) di perusahaan ini terpaksa dijual untuk pembayaran utang. Saham Lamtoro kini dikuasai Peregrine Fix Income (Singapura). Tak jelas kini tinggal berapa saham milik Tutut. Yang pasti, ia mengundurkan diri dari jabatan komisaris sejak dua tahun lalu.
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), tabloid Wanita Indonesia, sebuah stasiun radio, dan tabloid remaja Dara.
PT Citra Agratama Persada, PT Citra Lamtoro Gung Persada, PT Tridan Satriaputra Indonesia, yang kini masih membawahkan sekitar 70 anak perusahaan.
Sigit Harjojudanto
Arseto Group memiliki sekitar 47 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha, seperti perhutanan dan investasi.
Titik Soeharto
Maharani Group membawahkan sekitar 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha.
Tommy Soeharto
Grup Humpuss
Kelompok multiusaha yang membawahkan sekitar 70 anak perusahaan ini bergerak di berbagai jenis usaha, seperti perhotelan, pariwisata, industri elektronik, gosir, dan distributor. Hingga kini, kelompok usaha yang diam-diam masih menguntungkan itu tetap berada dalam kendali Tommy Soeharto.
Grup Timor
Menaungi sekitar 30 perusahaan, grup ini bergerak di berbagai jenis usaha otomotif, seperti perakitan mobil dan penjualan mobil. PT Timor Putra Nasional, yang sebelum krisis asetnya diperkirakan hampir Rp 4 triliun, kini tak jelas nasibnya. Disita BPPN, tapi manajemen Timor masih sepenuhnya dikendalikan Tommy, komisaris perusahaan tersebut.
Grup Gading Mandala Utama
Kelompok ini membawahkan delapan perusahaan yang bergerak di bidang pabrik kertas dan marmer.
Usaha Lain
Tommy juga memiliki "usaha sampingan" yang dikelola bersama karibnya, Dion Hardy, lewat PT Mampang Nugraha, yang bergerak di sejumlah sektor usaha. Di Pengadilan Jakarta Pusat, pertengahan tahun lalu, Dion mengaku memiliki lima 5 persen saham perusahaan ini. "Selebihnya punya Mas Tommy sebagai komisaris," katanya. Tapi, dalam wawancara dengan Tommy Aryanto dari Tempo News Room beberapa waktu lalu, Dion mengaku perusahaan itu miliknya 100 persen dan sudah tak beroperasi lagi.
|