Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Laporan Khusus

Soeharto, Hari-Hari ini

Meski pernah terserang stroke dan mengidap alphasia, bekas orang terkuat Indonesia itu tampak masih sehat. Tapi tangan kanannya lamban, bicaranya gagap. Sehari-hari ia mengaji, membaca, dan nonton Ketoprak Humor, malam-malam sering menangis.

DI sela hiruk-pikuk pencalonan presiden dan geger goyang ngebor artis Inul Daratista, diam-diam Soeharto keluar dari Cendana. Dengan VW Caravelle biru tua, Senin dua pekan lalu, lelaki sepuh 83 tahun yang pernah jadi orang terkuat selama tiga dekade di Indonesia itu meluncur ke Cilacap, Jawa Tengah. Dikawal empat lelaki kekar dan ditemani salah seorang anak lelakinya, Sigit Harjojudanto, ia menengok anak bungsunya, Hutomo Mandalaputra alias Tommy Soeharto. Tommy, kini 41 tahun, dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, karena membujuk Noval Hadad dan Mulawarman untuk membunuh Hakim Agung M. Syafiuddin Kartasasmita.

Sekitar pukul 11:00, Soeharto memasuki pintu gerbang penjara, dipapah oleh Sigit dan dibantu para pengawal. Beberapa sipir menyalaminya dengan khidmat. Meski jalannya tertatih-tatih, Soeharto tampak sehat. Untuk menuju ke ruang tamu Kepala LP Batu, Soemantri, ia harus menuruni tangga dengan kemiringan 40 derajat. Begitu memasuki ruangan, beberapa karyawan LP berebut menyalaminya. Soeharto tersenyum ramah lalu duduk di sofa yang empuk. Mengenakan celana warna gelap dan jaket cokelat, Soeharto tampak santai. Kulitnya yang bersih tampak berkeriput, tapi wajahnya mengesankan bahwa ia sehat meski rambutnya putih belaka.

Tak lama kemudian Tommy datang ditemani oleh Bob Hassan, bekas Menteri Perindustrian dan salah satu kroni terdekat Cendana, yang juga menghuni salah satu sel di sana. Tommy, yang mengenakan kaus olahraga dan celana putih, kontan memeluk erat-erat, agak lama, kemudian melakukan sembah sungkem, mencium lutut ayahnya. Soeharto pun, dengan sikap kebapakan, menepuk-nepuk bahu dan punggung anak bungsunya itu. Meski agak gagap, Soeharto menanyakan kesehatan dan kegiatan sehari-hari Tommy selama "bertapa" di Nusakambangan. Ia bahkan sempat menasihati agar anaknya yang badung itu tabah, tawakal, dan rajin beribadah menghadapi cobaan.

"Pak Harto kelihatan masih sehat, tapi tampak betul ia sudah uzur. Bicaranya agak gagap," tutur Soemantri, yang hadir dalam pertemuan kangen-kangenan itu. Rombongan Cendana segera membuka oleh-oleh kesukaan Tommy: kue bekelan dan pisang. Tak terkesan adanya kesedihan, malah sesekali terdengar gelak tawa riang di ruang tamu itu. Sekitar 15 menit kemudian, Tommy mengajak ayahnya melihat kolam ikan yang dia buat di selnya. "Kolam ikannya bagus sekali, lo," katanya. Soeharto pun beranjak, berjalan pelan-pelan dibantu Sigit dan Tommy. Sampai di kolam ukuran 4 x 6 meter itu, mereka tampak ngobrol akrab dan gembira. "Kalau melihat-lihat ikan, Bapak bisa betah berlama-lama di tepi kolam," kata Soemantri menirukan ucapan Tommy. Maklum, semasa jadi presiden, Soeharto memang suka memancing. Tommy sempat memamerkan ikan-ikan louhan peliharaannya. "Wah, kamu rupanya pandai bikin kolam ikan, ya?" ujar Soeharto terbata-bata.

Setelah dua jam berkunjung ke LP Batu, Soeharto dan rombongan pulang diantar Tommy dan Bob Hassan sampai di Dermaga Sodong, sekitar tiga kilometer dari LP Batu. "Sebelum pulang, Pak Harto masih sempat bertanya kepada saya tentang salatnya Tommy. Saya bilang, selama di sini dia memang rajin salat," tutur Soemantri lagi. Mereka menyeberang ke Cilacap dengan Kapal Motor Pengayoman milik Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

Kunjungan Soeharto ke Nusakambangan itu bukan yang pertama kali. Akhir Oktober tahun lalu—dua bulan setelah Tommy dipindahkan dari LP Cipinang ke LP Batu—Soeharto sudah jalan-jalan ke sana; ketika itu diantar beberapa anak-anaknya: Siti Hardijanti Indra Rukmana, Bambang Trihatmodjo, Sigit Harjojudanto, Siti Hediyati Prabowo. Menjelajah jalan darat Jakarta-Cilacap, yang jaraknya hampir separuh Pulau Jawa, untuk orang tua seusia Soeharto merupakan perjalanan yang luar biasa. Secara fisik Soeharto memang tampak masih sehat.

Meski begitu, menurut rekomendasi tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, bekas penguasa Orde Baru itu mengidap penyakit alphasia, yaitu kerusakan jaringan otak permanen. Itu sebabnya Mahkamah Agung menerbitkan fatwa bahwa tersangka penggelapan uang negara Rp 1,7 triliun lewat delapan yayasan miliknya itu tidak bisa diadili. Menurut Fritz Kakiailatoe, bekas dokter pribadi Soeharto, kini kondisi kesehatan Soeharto sangat berbeda. "Dulu dia itu sangat sehat, tapi sekarang lain sama sekali. Mungkin karena faktor usia. Orang tua kan gampang kena penyakit. Apalagi ditambah stres karena dihujat-hujat. Itu juga pukulan berat buat dia, yang pernah berkuasa begitu lama," katanya.

Menurut pengacara Keluarga Cendana, Juan Felix Tampubolon, kesehatan Soeharto sudah sangat payah. Setiap hari pensiunan jenderal besar berbintang lima itu harus menjalani terapi untuk melatih saraf otak. Latihan-latihan itu, antara lain, membaca Al-Quran dan koran, menulis, dan berjalan di dalam rumah. "Ia juga berlatih organ oral, mengucapkan kata demi kata, kendati sudah sangat susah. Kalau tidak dilatih, kemampuan berkomunikasinya makin hari akan semakin buruk," ujar Felix, yang terakhir kali ketemu kliennya pekan lalu di Cendana. Selain berzikir, Soeharto juga menyalin ayat Al-Quran untuk melatih otot-otot tangan. Setelah itu, ia membacanya pelan-pelan. "Kehidupannya monoton sekali," tutur Felix lagi.

Gara-gara terserang stroke, Juli 1999, Soeharto sempat dilarang nonton televisi. "Waktu itu ia nonton berita di televisi, kebetulan mendengar berita mengenai kenaikan harga minyak dan menyaksikan antrean panjang masyarakat yang mendatangi operasi pasar. Kontan tekanan darahnya naik," tutur Felix. Namun, belakangan, pelan-pelan kebiasaan membaca dan nonton televisi justru menjadi bagian dari latihan-latihannya—meski tetap dibatasi. Tapi, ketika masih sehat, Soeharto sering mendiskusikan berbagai persoalan. Bahkan, menurut Komisaris Besar Polisi Anton Tabah, bekas sekretaris pribadi Soeharto, ketika Soeharto masih sehat, tamunya banyak sekali. Sampai-sampai mereka harus mendaftarkan diri sebulan sebelumnya.

Para tamu dari berbagai daerah dan kalangan itu dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama (08:00-13:30) tiga gelombang, enam orang per gelombang. Kelompok kedua (16:00-17:00) dan ketiga (19:00-21:00) satu gelombang. Setiap hari Soeharto menerima tak kurang dari 50 pucuk surat. "Semua surat saya balas semampu saya. Kebanyakan berisi dukungan moril, tapi juga ada yang mendoakan agar cepat meninggal; tapi itu pun hanya surat kaleng," tutur Anton, yang mengaku sering malam-malam memergoki Soeharto menangis. "Mengapa Bapak menangis?" tanya Anton. Soeharto menjawab, "Saya pasrah kepada Allah SWT. Dalam saat-saat seperti ini saya bisa mengingat Allah secara total."

Secara fisik, menurut Sugeng Suparwoto, wartawan yang dekat dengan Keluarga Cendana, Soeharto sehat. "Hanya tangan kanannya yang lamban karena stroke," kata Sugeng, yang kini Direktur Pemberitaan Televisi Pendidikan Indonesia. "Tiap kali mencoba bicara selalu terbata-bata dan cukup lama, hingga kami sangat kasihan. Kalau saya di Cendana, beliau selalu bertanya terbata-bata, 'Bbba-bagggaimmannna, Gggeng, kkkeadddaannnya...?" Kalau sudah begitu, Mbak Tutut dan Mbak Titik memperingatkan agar saya mengalihkan perhatian,'' tutur Sugeng, yang di tahun 1980-an aktivis mahasiswa IKIP Jakarta.

Menurut Sugeng, ada dorongan cukup kuat pada diri Soeharto untuk sembuh. Setiap hari berolahraga ringan, chikung; makan pun berusaha sendiri meski banyak yang ingin meladeninya. Makanan benar-benar dijaga, tidak boleh berminyak, tidak boleh manis, tidak berlemak dan mengandung kolesterol. Jeroan ayam sudah lama tidak dinikmatinya. "Hiburan Bapak hanya mengaji, membaca koran, dan nonton televisi," tuturnya. Acara yang disenanginya National Geography, Discovery Channel, dan Ketoprak Humor.

Sugeng dan Anton Tabah ingin menulis buku selama bersama Soeharto. Tapi Soeharto melarang Sugeng. "Jangan, nanti kamu dikira orangnya Soeharto," kata Sugeng menirukan Soeharto. Tapi Anton bahkan sudah merancang sebuah judul: My Days with Mr. Soeharto. "Bapak juga sudah memberi izin. Cuma beliau bilang, tunggu aku meninggal dulu baru kamu menulis," tuturnya. Maka Anton Tabah pun menunggu saat-saat terakhir itu dengan tabah.…


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data