Di Balik Detik-Detik itu Hari yang bersejarah itu, pengunduran diri Soeharto, tak pernah terduga bisa datang. Inilah kisah seru detik-detik menjelang 21 Mei 1998. |
Cibubur, 18 Mei 1998. Nurcholish Madjid baru turun dari mobil di pelataran rumahnya, ketika istrinya, Omi Komaria, tergesa-gesa membuka pintu rumah. "Ada telepon dari Pak Saadilah Mursyid, penting," kata Omi. Saadilah Mursyid ketika itu menjabat Menteri Sekretaris Negara.
Lalu terjadilah sebuah percakapan bersejarah. Di seberang sana, setelah suara Saadilah Mursyid, Nurcholish mendengar suara orang nomor satu Indonesia itu. Suara yang begitu berkuasa selama 32 tahun. "Saat itu juga saya langsung bicara dengan Pak Harto," tutur Nurcholish mengenang. Selain Saadilah Mursyid, di seberang sana ternyata juga ada Probosutedjo.
Hari-hari itu Indonesia bagai telur di ujung tanduk. Setelah 12 Mei Elang Mulya, Herry Harnanto, Hendriawan Lesmana, Arifin Royan—para mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak—tanggal 14 Mei, Jakarta luluh-lantak oleh pembakaran, perusakan, penjarahan, dan pemerkosaan. Jakarta menjadi lautan api.
Tanggal 14 Mei, Nurcholish bersama Amien Rais, Indria Samego, dalam sebuah pertemuan sempat melontarkan pendapat bahwa Soeharto harus mengembalikan kekayaannya. Di situ tercuat sebuah pemikiran bahwa situasi sudah mendesak. Mereka harus menyampaikan kepada Soeharto agar melengserkan diri. Mereka menganggap, untuk menghindari pertumpahan darah, Soeharto harus turun. Di tengah suasana tak menentu, gebalau dan kondisi Jakarta hitam bagai arang, pada tanggal 15 Mei, ribuan mahasiswa bergerak. Pada hari itu pula, Nurcholish menemui Quraish Shihab. Ia berharap Shihab bisa dititipi pesan untuk menyampaikan "amanat rakyat" kepada Soeharto saat salat Jumat. Tapi Shihab tak mau melakukan itu.
Sabtu pagi 16 Mei 1998, keadaan semakin kacau. Banyak intelektual menahan diri untuk keluar rumah. Toh, ketika petang menjelang, tak tertahankan lagi, beberapa intelektual berkumpul di Hotel Regent, termasuk Nurcholish Madjid. Lagi-lagi mereka membahas bagaimana secepat mungkin menyampaikan gagasan lengser kepada Soeharto. Namun, semua yang hadir tak tahu jawabnya. Soeharto masih seperti raksasa yang membuat semua orang segan. Emha Ainun Nadjib, budayawan Yogya, mengeluarkan ide untuk melakukan gerilya melalui pembentukan opini umum dengan kalangan militer.
Tanggal 17 Mei 1998, di Hotel Wisata, pertemuan kembali digelar. Nurcholish juga hadir. Esoknya tanggal 18 Mei 1998 pertemuan itu menjadi pembicaraan di berbagai media. Pada pagi 18 Mei, Amien Rais meminta pergantian pemimpin nasional secara terbuka. Sorenya tak diduga, Harmoko, Ketua DPR/MPR yang selama ini setia kepada Soeharto, membacakan pernyataan yang mengharapkan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Perkembangan sehari itu agaknya menguras perhatian Soeharto.
Saat mengawali pembicaraan via telepon kepada Nurcholish tanggal 18 Mei itulah, Saadilah Mursyid mengatakan Soeharto ingin bertanya kepada Nurcholish keadaan yang sesungguhnya pada hari-hari itu. "Saya menceritakan apa adanya isi pertemuan itu," kata Nurcholish. Yang membuat Nurcholish terkejut adalah jawaban Soeharto, "Sudah, kalau begitu saya umumkan."
Nurcholish lalu bertanya kepada Soeharto, "Kapan?"
"Besok," jawab Soeharto. Nurcholish sama sekali tak menduga jawaban itu. "Saya kaget, kok cepat sekali. Eh, malah dia (Soeharto) yang menggugat saya. 'Lo, katanya tadi hitungannya detik'," kata Nurcholish.
Soeharto berencana mengumumkan bersama tokoh-tokoh masyarakat. Ada sembilan nama tokoh masyarakat, nama-nama itu datang dari Nurcholish Madjid dan Soeharto. Nah, 19 Mei pagi pukul 09.00 Nurcholish Madjid, Yusril Ihza Mahendra, Abdurrahman Wahid, Ahmad Bagja, K.H. Cholis Baidawi, K.H. Maruf Amin, K.H. Ali Yafie, Emha Ainun Nadjib, Malik Fajar, bertemu dengan Soeharto di Istana. Saat itu Soeharto sudah menyiapkan pengumuman. Begitu dibaca, ternyata konsep itu banyak berbeda dengan yang diomongkan sebelumnya. "Untung, saat itu saya bawa Yusril. Yusril tak termasuk undangan dan namanya sempat ditolak Pak Harto, tapi saya paksakan," tutur Nurcholish.
Dari Yusril, muncul serangkaian koreksi atas pertimbangan hukum ketatanegaraan. Namun tampaknya, pada titik itu, Soeharto belum srek benar untuk melepas "mahkotanya". Ia masih berpikir tentang satu kabinet dalam bentuk komite kabinet reformasi. "Saya bilang, kalau nanti komite reformasi dibentuk dan kabinet di-reshuffle, jangan ambil salah satu di antara kami," kata Nurcholish. Itu yang membuat Soeharto terperanjat. Soeharto rupanya dalam hati kecilnya berharap besar pada Nurcholish.
Nurcholish mengenang, Soeharto waktu itu membujuk terus, tapi ia bergeming. "Dari situ Pak Harto rupanya kecewa," tuturnya. Di tempat lain di Bappenas, pada hari yang sama, 14 menteri bidang ekonomi, keuangan, dan industri menyatakan tak bersedia duduk dalam Komite Reformasi maupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle yang akan dibentuk Soeharto. "Saya ingat betul, kami menandatangani surat itu di Gedung Badan Perencanaan Nasional, kantornya Pak Ginandjar," kata Rahardi Ramelan. Jakarta hari itu juga dibakar isu bahwa Amien Rais esok hari akan memimpin demo besar-besaran, long march dari DPR ke Monas, meminta Soeharto mundur.
Ternyata long march Amien pada 20 Mei batal. Soalnya, Amien rais mempertimbangkan kemungkinan jatuhnya korban. Tapi toh Yogyakarta hari itu berhasil menghimpun sejuta massa untuk turun ke jalan dipimpin langsung Raja Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Syahdan, ketika malam turun di Cendana, Soeharto dan keluarganya gundah-gulana. Kepada Soeharto, Yusril menyampaikan kabar tentang mundurnya 14 menteri. Saat itu, Soeharto menyergah, "Itu kan cuma rumor!"
Soeharto mengaku sudah mendengar berita itu dari Siti Hardijanti. Itulah sebabnya Soeharto meminta B.J. Habibie, saat itu menjabat wakil presiden, memanggil Pak Ginandjar dan lain-lain. Jawaban Yusril kepada Presiden saat itu adalah, "Pak, pengunduran itu betul! Para menteri sudah mundur, bukan rumor." Pak Harto bertanya, "Dari mana Anda tahu?"
Kira-kira pukul 20.30, Yusril melihat Habibie yang diutus Soeharto untuk memanggil Ginandjar dan lain-lain masuk ke rumah Pak Harto. "Wah, saya pikir, ini pasti lama. Saya keluar mau ambil baju yang saya taruh di rumah Malik Fadjar, di Jalan Pekalongan, Jakarta," kata Yusril. Namun, karena perutnya keroncongan, Yusril makan terlebih dulu. Saat ia makan, datanglah Akbar Tandjung dan Tanri Abeng, di bawah Jakarta yang menumpahkan hujan.
"Bagaimana, Ril, perkembangannya?" demikian tanya Akbar, seperti yang diutarakan Yusril.
Yusril menjawab, "Pak Harto masih menganggap kabar menteri-menteri yang mundur itu cuma isu."
"O, itu bukan isu, itu kabar benar," jawab Akbar, seperti yang dikisahkan Yusril. Akbar membuka bajunya dan mengeluarkan sebuah kopian surat pernyataan para menteri. Yusril membaca surat itu lalu membawanya ke Cendana. Di Cendana Yusril bertemu dengan Saadilah Mursyid. "Keadaan sudah begini, nih!" kata Yusril sembari menyampaikan surat itu kepada Saadilah. Surat itulah yang kemudian disampaikan Saadilah kepada Soeharto. Saat itulah Soeharto mengucapkan kalimat bersejarah itu, "Kalau sudah begini, ya sudah, saya mundur!"
Belakangan hari, Yusril baru mengetahui bahwa surat asli pengunduran diri 14 menteri itu masih bercokol di tangan ajudan Presiden dan belum diserahkan kepada Soeharto. Setelah bertemu dengan Soeharto, Yusril keluar dari ruangan dan bertanya pada ajudan, "Ada nggak surat dari Pak Ginandjar?" Ajudan menjawab, "Ada, di dalam amplop!"
Syahdan, ketika malam tiba, Yusril Ihza Mahendra, Saadilah Mursyid, Wakil Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo, Sunarto Sudarno (staf khusus Yusril), Sekretaris Militer Presiden Mayor Jenderal Jasril Yakob, melalui malam panjang itu mempersiapkan teks pengunduran diri Soeharto. Yang menulis teks adalah Bambang Kesowo, sementara yang lain ramai-ramai menambahkan. Pesan Soeharto, "Bagaimana berhentinya itu diurus, itu saja!" Maksud Soeharto, lengsernya sedemikian rupa harus konstitusional. Saadilah menghubungi Ketua Mahkamah Agung Sarwata, agar ia datang ke Istana untuk dan mengambil sumpah presiden baru.
Dan datanglah hari yang bersejarah itu. Keesokan harinya pukul 09.00 kalimat-kalimat yang masih terpatri di buku sejarah negeri ini diucapkan Soeharto di credential room Istana Negara: "Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998"….
|