Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Kesehatan

Afasia Sang Presiden

Kondisi kesehatan Soeharto dilaporkan terus membaik. Kemampuannya berkomunikasi pun bisa diperbaiki dengan terapi intensif.

Soeharto adalah sebuah sosok yang pernah menggentarkan Indonesia. Tapi hari-hari ini tampak betul betapa raja Orde Baru itu telah jauh terlempar dari kekuasaan. Hidup lelaki 83 tahun itu kini diwarnai kegiatan yang enteng bak murid taman kanak-kanak. Dia berlatih mengayunkan kaki, mengeja, juga menulis kata-kata sederhana.

Banyak perubahan bisa dicatat. Dua tahun yang lalu, Soeharto masih tampak tergagap-gagap. Niat makan, minum, mandi, misalnya, harus ia sampaikan dalam bahasa isyarat yang hanya bisa dimengerti keluarga dekat.

Namun, lihatlah Soeharto dua pekan lalu. Pria yang seluruh rambutnya sudah putih ini mengunjungi Tommy Soeharto, putra kesayangannya, di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, Cilacap. Dalam kunjungan tersebut terlihat bahwa Soeharto sudah sanggup mengekspresikan kalimat panjang, meskipun terbata-bata. Wajahnya cerah ketika Tommy memamerkan ikan-ikan louhan peliharaannya di kolam yang ada di kompleks lembaga pemasyarakatan. "Wah, kamu pandai rupanya membikin kolam ikan," katanya kepada Tommy.

Bagi penderita afasia—gangguan berbicara karena kerusakan jaringan saraf—bisa mengucapkan kalimat panjang tentulah sebuah kemajuan. Apalagi jenis afasia Soeharto ini cukup berat, yang disebut non-fluent mixed aphasia.

Seperti hasil pemeriksaan Tim Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), 1 September 2000, kerusakan jaringan saraf Soeharto relatif luas setelah dihantam tiga kali stroke. Sebagian jaringan otak kirinya sudah rusak permanen atau mati (infarct). Akibatnya, terjadi kekacauan tutur bahasa, kesulitan identifikasi, dan kehilangan sebagian besar ingatan. "Mutu pembicaraan Soeharto tidak dijamin sesuai dengan apa yang ingin dia sampaikan," kata Yusuf Misbach, Ketua Tim Dokter RSCM (TEMPO, 6 Mei 2000).

Atas dasar opini medis tersebut, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada September 2000 memutuskan Soeharto tidak layak menjalani proses peradilan. Keputusan ini terus memicu segunung rasa tidak puas sampai hari ini. Selain rasa keadilan yang tidak tersalur, publik penasaran dengan penampilan fisik Soeharto yang terus membaik.

Memang, sebelum kunjungan ke Nusakambangan, tercatat ada beberapa peristiwa yang menunjukkan sehatnya Soeharto. Mei tahun lalu, tokoh yang pernah menyandang sebutan Bapak Pembangunan ini menghadiri pernikahan Danty Rukmana—cucunya dari Siti Hardijanti Rukmana. Soeharto dilaporkan tegak berdiri dan bahkan asyik mengobrol dengan tamu undangan.

Laporan serupa juga muncul dari Kiai Haji Yusuf Hasyim, pemimpin Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, yang pernah mengunjungi Soeharto pada 2002. Mereka sempat berbincang berbagai soal. "Saya sempat tidak percaya bahkan terharu melihat Pak Harto begitu sehat," kata Pak Ud, panggilan akrab Yusuf Hasyim, "Sorot mata dan senyumnya tidak berbeda dengan masa ketika dia masih menjadi presiden." (TEMPO, 15 Desember 2002)

Pak Ud juga melihat ada pesawat televisi dan tumpukan surat kabar di ruangan Soeharto. Sang Jenderal Besar tampak mengikuti perkembangan politik mutakhir—hal yang juga dibenarkan oleh Juan Felix Tampubolon, pengacara Keluarga Cendana. Dua tahun lalu memang Soeharto sempat dilarang menonton televisi karena khawatir ketegangan akan mengundang stroke lagi. Tapi, pelan-pelan, siaran televisi justru menjadi bagian dari terapi Soeharto.

Segala perkembangan ini menunjukkan afasia Soeharto sama sekali bukan jenis global aphasia—jenis paling berat, permanen, dan mustahil diperbaiki. Tutur bahasa bekas pemimpin bangsa ini masih bisa dipulihkan, meskipun tak mungkin 100 persen, dengan bantuan terapi wicara yang intensif.

Memang, seperti tertulis dalam situs National Aphasia Association (NAA), Amerika Serikat, sel-sel saraf yang telah mati mustahil dihidupkan lagi. Tapi, kemampuan komunikasi bisa dibangun dengan cara melatih pasien dengan konsep-konsep bahasa yang baru seperti mendidik bocah balita.

NAA juga menyebutkan, kesulitan komunikasi tidak menjadikan pasien afasia lepas dari tanggung jawab hukum. Hanya, bila menghadapi proses peradilan, para pasien hendaknya didampingi ahli terapi wicara andal yang bertugas menerjemahkan keinginan mereka di hadapan majelis hakim.

Soeharto semakin sehat. NAA menyodorkan "jalan keluar", tapi tak jelas benar apakah ide NAA bisa diterapkan. Mungkin bola ada di tangan Kejaksaan Agung, tapi kita ragu apa yang diambil lembaga negara itu: pura-pura tak tahu, atau memperbaiki prestise dirinya.

Mardiyah Chamim dan Syaiful Amin (Cilacap)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data