|
MEI 1998 adalah sebuah prahara yang hanya ber-akhir di statistik. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah mencatat korban yang jatuh tidak terperikan: 1.200 orang tewas terbakar, 8.500 bangunan dan kendaraan gosong jadi abu, dan 90 lebih wanita keturunan Cina diperkosa serta dilecehkan. Tapi lima tahun telah berlalu, dan tak seorang pun telah dimintai pertanggungjawabannya di muka hukum.
Padahal, hasil penyelidikan TGPF—juga Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, dan banyak lainnya—menyimpulkan: amuk massa tak terjadi begitu saja. Pola dan penyebaran kerusuhan secara gamblang menunjukkan kerusuhan itu diawali dengan aksi terorganisasi. Ditambah lagi sebuah kenyataan yang masih misterius hingga kini: Jakarta, yang mestinya dikawal 27 ribu personel tentara dan polisi, mendadak jadi kota hantu tanpa penjagaan. Seperti kena tenung, ketika itu aparat hanya terpaku menonton aksi perusakan, penjarahan, dan pembakaran yang terjadi di hadapan mata mereka.
Berikut peta rusuh di hari-hari yang merindingkan bulu roma itu.
Kala Rusuh Menyebar
12 Mei 1998
Ribuan mahasiswa menggelar mimbar bebas di Universitas Trisakti. Di luar kampus, massa menumpuk. Aparat membubarkan mimbar bebas, tembakan meletus, situasi chaos. Empat mahasiswa gugur: Hafidin Roiyan, Hery Hartanto, Hendriawan, dan Elang Mulya Lesmana.
13 Mei 1998
08.00
Massa dan mahasiswa yang akan berbelasungkawa menyemut di sekitar Trisakti. Massa juga menumpuk di Tanah Abang, Jakarta; dan Parung, Jawa Barat. Di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, massa yang dihalau aparat merusak pos polisi.
09.00-10.00
Massa di Trisakti bergerak dari Jalan K.H. Hasyim Asyari ke Jalan Kyai Tapa, perempatan Roxy Mas, Jalan K.H. Moch. Mansyur, Daan Mogot, dan Bendungan Hillir. Dari situ massa menyebar ke Jembatan Sempit Angke, Jembatan Dua, Jembatan Tiga, Jembatan Lima, dan Jembatan Besi.
16.00
Massa menyebar ke Cengkareng dan Glodok. Di wilayah Jakarta Barat dan Pusat sudah mulai terjadi perusakan dan pembakaran gedung pertokoan.
19.00
Di semua titik penumpukan massa, meletup kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran.
14 Mei 1998
08.00-10.00
Massa di Glodok kembali melakukan perusakan dan penjarahan. Sebagian bergerak ke Mangga Dua, mendekati Ancol. Di Jakarta Selatan, muncul titik kerusuhan baru di Goro, Pasar Minggu. Di Jakarta Barat, massa menyebar ke Jalan Hayam Wuruk dan Salemba, Jakarta Pusat.
11.00-13.00
Di Jakarta Selatan, massa di sekitar Goro, Pasar Minggu, mulai menjarah dan membakar pertokoan. Dari sinilah kerusuhan menyebar ke sejumlah titik, memicu kerusuhan di Pasar Cipete, Kebayoran Lama, Warung Buncit, Jalan Kebayoran Lama, Jalan Sultan Iskandar, Jalan Kyai Maja, Pasar Rumput, dan Jalan Ir. H. Juanda. Massa di Jakarta Pusat merusak bangunan di Jalan Letjen Suprapto.
Di Jakarta Timur, massa terkonsentrasi di Jalan Pemuda, dekat Kawasan Industri Pulogadung. Mereka didrop dengan truk kontainer atau berkendaraan motor dan memancing penjarahan. Kerusuhan menyebar ke pul DLLAJR dan Plaza Arion.
13.00-15.00
Di Jakarta Selatan, massa mulai membakar bangunan di Jalan Kyai Maja, Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Baru, dan Pos Pengumben. Di Jakarta Timur, massa membakar Yogya Department Store. Pembakaran di Jakarta Pusat merembet ke Cempaka Putih. Perusakan dan pembakaran di Jakarta Timur menyebar ke Pertokoan Poncol Jakarta, Matraman.
15.00-17.00
Perusakan, penjarahan, dan pembakaran menyebar di dua lokasi. Di Jakarta Timur ada di Kramat Jati, dan di Jakarta Selatan di Jalan D.I. Panjaitan, Kebayoran Baru, dan Pancoran.
17.00-20.00
Masih terjadi pembakaran di wilayah Jakarta Timur.
15 Mei 1998
Kerusuhan berakhir dengan pembakaran pos polisi Pulomas, Jakarta Timur. Terjadi penjarahan susulan oleh para pemulung.
Sumber: TGPF dan Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Dilumat Amuk Massa
| Korban Tewas | | Laporan TRK | 1.217 | | Laporan Universitas Trisakti | 596 | | Laporan Kodam Jaya | 463 | | Laporan Polda Metro Jaya | 451 | | | | Korban Luka-Luka | | Laporan TRK | 91 | | Laporan Kodam Jaya | 69 | | | | Korban Kekerasan Seksual | | Laporan TGPF | | Pemerkosaan | 53 | | Pemerkosaan dengan penganiayaan | 14 | | Penyerangan seksual/penganiayaan | 10 | | Pelecehan | 15 | | Total | 92 | | Catatan: Termasuk di Medan (1 pemerkosaan, 1 penyerangan seksual, 6 pelecehan) dan Surabaya (2 pemerkosaan, 4 pelecehan) | | | | Laporan TRK | | Pemerkosaan | 120 | | Pemerkosaan dengan penganiayaan | 14 | | Pemerkosaan dengan benda/alat | 8 | | Penyerangan seksual/penganiayaan | 2 | | Pelecehan | 17 | | Total | 161 | | Catatan: Termasuk di Surabaya (6 pemerkosaan, 3 pemerkosaan dengan jari, 3 pelecehan), Solo (1 pemerkosaan dengan penganiayaan), Palembang (2 pelecehan), dan Medan (3 pemerkosaan) | | | | Korban Materiil | | Bangunan pertokoan | 4.240 | | Kantor pemerintah/swasta | 404 | | Bank | 257 | | Restoran | 24 | | Hotel | 12 | | Pompa bensin | 22 | | Kendaraan | 1.948 | | Fasilitas kota | 516 | | Rumah penduduk | 1.026 | | Diskotek | 7 | | Tempat ibadah | 4 | | Total | 8.460 | | |
| Di Mana Gerangan Aparat? | | 13 Mei 1998 | | Kodam Jaya | 4600 | | Marinir dan unsur lain | 5.764 | | Kepolisian | 13.700 | | Total | 24.064 | | | | 14 Mei 1998 | | Kodam Jaya | 4600 | | Marinir dan unsur lain | 5.764 | | Kepolisian | 13.700 | | Tambahan ABRI dari daerah | 3.619 | | Total | 27.783 | | Kendaraan tempur | 25 | | |
Terorganisasi?
Penyelidikan TGPF menyimpulkan kerusuhan digerakkan oleh sejumlah orang dengan ciri-ciri dan pola aksi yang serupa.
Penggerak Kerusuhan
- Laki-laki berbadan tegap, berambut cepak atau gondrong, bertampang preman
- Sebagian berpenampilan rapi, memegang
handphone atau handy talkie, sebagian lagi mengenakan seragam SMU atau mengaku mahasiswa (tanpa identitas) tapi berwajah lebih tua
- Bukan penduduk setempat (tidak dikenal
warga)
- Berkendaraan pick-up, minibus, atau motor
- Membawa bahan bakar dibungkus plastik, botol bersumbu dimasukkan tas ransel, korek api, linggis, alat tukang, atau pentungan
Pola Aksi
Menarik perhatian massa
- Meneriakkan yel-yel dan provokasi
- Membakar ban atau barang lain
- Perkelahian antar-kelompok atau pelajar
- Memancing massa yang pasif menonton untuk ikut merusak, menjarah, dan membakar
- Melempar batu, botol, atau benda lain
- Membongkar sarana umum: rambu lalu lintas, pagar, dll.
- Merusak, menghancurkan barang atau bangunan
- Membongkar paksa pintu, kaca tebal, atau rolling door
Membakar
- Membakar sepeda motor dan mobil
- Membakar sarana umum, rumah, toko, atau gedung perkantoran
- Membuat bom molotov koktail, menyulut, dan melemparkannya dengan teknik melempar granat
|