Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Investigasi

Peta Amuk di Kota Hantu

MEI 1998 adalah sebuah prahara yang hanya ber-akhir di statistik. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah mencatat korban yang jatuh tidak terperikan: 1.200 orang tewas terbakar, 8.500 bangunan dan kendaraan gosong jadi abu, dan 90 lebih wanita keturunan Cina diperkosa serta dilecehkan. Tapi lima tahun telah berlalu, dan tak seorang pun telah dimintai pertanggungjawabannya di muka hukum.

Padahal, hasil penyelidikan TGPF—juga Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, dan banyak lainnya—menyimpulkan: amuk massa tak terjadi begitu saja. Pola dan penyebaran kerusuhan secara gamblang menunjukkan kerusuhan itu diawali dengan aksi terorganisasi. Ditambah lagi sebuah kenyataan yang masih misterius hingga kini: Jakarta, yang mestinya dikawal 27 ribu personel tentara dan polisi, mendadak jadi kota hantu tanpa penjagaan. Seperti kena tenung, ketika itu aparat hanya terpaku menonton aksi perusakan, penjarahan, dan pembakaran yang terjadi di hadapan mata mereka.

Berikut peta rusuh di hari-hari yang merindingkan bulu roma itu.



Kala Rusuh Menyebar

12 Mei 1998


Ribuan mahasiswa menggelar mimbar bebas di Universitas Trisakti. Di luar kampus, massa menumpuk. Aparat membubarkan mimbar bebas, tembakan meletus, situasi chaos. Empat mahasiswa gugur: Hafidin Roiyan, Hery Hartanto, Hendriawan, dan Elang Mulya Lesmana.

13 Mei 1998


08.00

Massa dan mahasiswa yang akan berbelasungkawa menyemut di sekitar Trisakti. Massa juga menumpuk di Tanah Abang, Jakarta; dan Parung, Jawa Barat. Di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, massa yang dihalau aparat merusak pos polisi.

09.00-10.00

Massa di Trisakti bergerak dari Jalan K.H. Hasyim Asyari ke Jalan Kyai Tapa, perempatan Roxy Mas, Jalan K.H. Moch. Mansyur, Daan Mogot, dan Bendungan Hillir. Dari situ massa menyebar ke Jembatan Sempit Angke, Jembatan Dua, Jembatan Tiga, Jembatan Lima, dan Jembatan Besi.

16.00

Massa menyebar ke Cengkareng dan Glodok. Di wilayah Jakarta Barat dan Pusat sudah mulai terjadi perusakan dan pembakaran gedung pertokoan.

19.00

Di semua titik penumpukan massa, meletup kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran.

14 Mei 1998


08.00-10.00

Massa di Glodok kembali melakukan perusakan dan penjarahan. Sebagian bergerak ke Mangga Dua, mendekati Ancol. Di Jakarta Selatan, muncul titik kerusuhan baru di Goro, Pasar Minggu. Di Jakarta Barat, massa menyebar ke Jalan Hayam Wuruk dan Salemba, Jakarta Pusat.

11.00-13.00

Di Jakarta Selatan, massa di sekitar Goro, Pasar Minggu, mulai menjarah dan membakar pertokoan. Dari sinilah kerusuhan menyebar ke sejumlah titik, memicu kerusuhan di Pasar Cipete, Kebayoran Lama, Warung Buncit, Jalan Kebayoran Lama, Jalan Sultan Iskandar, Jalan Kyai Maja, Pasar Rumput, dan Jalan Ir. H. Juanda. Massa di Jakarta Pusat merusak bangunan di Jalan Letjen Suprapto.

Di Jakarta Timur, massa terkonsentrasi di Jalan Pemuda, dekat Kawasan Industri Pulogadung. Mereka didrop dengan truk kontainer atau berkendaraan motor dan memancing penjarahan. Kerusuhan menyebar ke pul DLLAJR dan Plaza Arion.

13.00-15.00

Di Jakarta Selatan, massa mulai membakar bangunan di Jalan Kyai Maja, Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Baru, dan Pos Pengumben. Di Jakarta Timur, massa membakar Yogya Department Store. Pembakaran di Jakarta Pusat merembet ke Cempaka Putih. Perusakan dan pembakaran di Jakarta Timur menyebar ke Pertokoan Poncol Jakarta, Matraman.

15.00-17.00

Perusakan, penjarahan, dan pembakaran menyebar di dua lokasi. Di Jakarta Timur ada di Kramat Jati, dan di Jakarta Selatan di Jalan D.I. Panjaitan, Kebayoran Baru, dan Pancoran.

17.00-20.00

Masih terjadi pembakaran di wilayah Jakarta Timur.

15 Mei 1998


Kerusuhan berakhir dengan pembakaran pos polisi Pulomas, Jakarta Timur. Terjadi penjarahan susulan oleh para pemulung.

Sumber: TGPF dan Lembaga Penelitian Universitas Trisakti



Dilumat Amuk Massa



Korban Tewas
Laporan TRK1.217
Laporan Universitas Trisakti596
Laporan Kodam Jaya463
Laporan Polda Metro Jaya451
 
Korban Luka-Luka
Laporan TRK91
Laporan Kodam Jaya69
 
Korban Kekerasan Seksual
Laporan TGPF
Pemerkosaan53
Pemerkosaan dengan penganiayaan14
Penyerangan seksual/penganiayaan10
Pelecehan15
Total92
Catatan: Termasuk di Medan (1 pemerkosaan, 1 penyerangan seksual, 6 pelecehan) dan Surabaya (2 pemerkosaan, 4 pelecehan)
 
Laporan TRK
Pemerkosaan120
Pemerkosaan dengan penganiayaan14
Pemerkosaan dengan benda/alat8
Penyerangan seksual/penganiayaan2
Pelecehan17
Total161
Catatan: Termasuk di Surabaya (6 pemerkosaan, 3 pemerkosaan dengan jari, 3 pelecehan), Solo (1 pemerkosaan dengan penganiayaan), Palembang (2 pelecehan), dan Medan (3 pemerkosaan)
 
Korban Materiil
Bangunan pertokoan4.240
Kantor pemerintah/swasta404
Bank257
Restoran24
Hotel12
Pompa bensin22
Kendaraan1.948
Fasilitas kota516
Rumah penduduk1.026
Diskotek7
Tempat ibadah4
Total8.460
 
Di Mana Gerangan Aparat?
13 Mei 1998
Kodam Jaya4600
Marinir dan unsur lain5.764
Kepolisian13.700
Total24.064
 
14 Mei 1998
Kodam Jaya4600
Marinir dan unsur lain5.764
Kepolisian13.700
Tambahan ABRI dari daerah3.619
Total27.783
Kendaraan tempur25
 

Terorganisasi?

Penyelidikan TGPF menyimpulkan kerusuhan digerakkan oleh sejumlah orang dengan ciri-ciri dan pola aksi yang serupa.

Penggerak Kerusuhan



  • Laki-laki berbadan tegap, berambut cepak atau gondrong, bertampang preman
  • Sebagian berpenampilan rapi, memegang
    handphone atau handy talkie, sebagian lagi mengenakan seragam SMU atau mengaku mahasiswa (tanpa identitas) tapi berwajah lebih tua

  • Bukan penduduk setempat (tidak dikenal
    warga)

  • Berkendaraan pick-up, minibus, atau motor
  • Membawa bahan bakar dibungkus plastik, botol bersumbu dimasukkan tas ransel, korek api, linggis, alat tukang, atau pentungan

Pola Aksi

Menarik perhatian massa



  • Meneriakkan yel-yel dan provokasi
  • Membakar ban atau barang lain
  • Perkelahian antar-kelompok atau pelajar

  • Memancing massa yang pasif menonton untuk ikut merusak, menjarah, dan membakar
  • Melempar batu, botol, atau benda lain

  • Membongkar sarana umum: rambu lalu lintas, pagar, dll.
  • Merusak, menghancurkan barang atau bangunan

  • Membongkar paksa pintu, kaca tebal, atau rolling door

Membakar



  • Membakar sepeda motor dan mobil
  • Membakar sarana umum, rumah, toko, atau gedung perkantoran
  • Membuat bom molotov koktail, menyulut, dan melemparkannya dengan teknik melempar granat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data