Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Investigasi

Prabowo Subianto: "Kerusuhan itu Terorganisasi"

Lima tahun sudah berlalu, puluhan pertanyaan masih terus membelit dirinya. Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, yang sudah menanggalkan baju militernya, kini menerima TEMPO dengan setelan jas licin dan gaya yang lebih rileks. Kesibukannya kini beralih, dari mengomandani pasukan jadi memimpin armada bisnis Grup Nusantara. Bermarkas di Gedung Bidakara, Jakarta, ia menggarap ladang tempur yang baru: perikanan dan pertambangan. "Soalnya, uang pensiun saya tak cukup buat makan," katanya bergurau.

Lahir di Jakarta 17 Oktober 1951, karier Prabowo pernah melesat bak meteor. Di usia 46 tahun dia telah meraih pangkat bintang tiga, melampaui kawan seangkatannya lulusan Akabri 1974. Tapi kemilau itu mendadak padam. Pada 24 Agustus 1998, Dewan Kehormatan Perwira memvonis dia bertanggung jawab atas aksi Tim Mawar—regu Kopassus yang menculik aktivis mahasiswa sepanjang Januari hingga Maret 1998.

Sejak itu, banyak tudingan diarahkan kepadanya. Salah satunya, bekas Komandan Jenderal Kopassus (1996-1998) serta Panglima Kostrad (Januari-Mei 1998) itu disebut-sebut terlibat pula kerusuhan 13-15 Mei 1998 yang melalap Ibu Kota. Tapi Prabowo lalu memilih bungkam. Dia menjauhi wartawan, dan lenyap dari mata publik.

Beruntung, pada akhir April lalu wartawan TEMPO Nezar Patria dan Iwan Setiawan berhasil mewawancarainya secara khusus. Berlangsung di sebuah ruang di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Prabowo selama hampir empat jam menjawab berbagai pertanyaan seputar tuduhan yang melilitnya. Berkali-kali ia memberi catatan off the record. Tapi di malam itu, meski sesekali suaranya meninggi, ia tampak rileks. Berikut petikannya.

Pada 14 Mei 1998, ada informasi Anda menyiapkan pasukan secara khusus. Apa tujuannya?

Prabowo sudah siap dengan pasukannya? Untuk apa, menyiapkan pasukan untuk apa? Merebut kekuasaan? Kenapa saya tidak melakukan? Anda tahu, sebagai Panglima Kostrad, saya punya 34 batalion. Katakanlah saat itu saya punya dukungan 10 batalion dari Kopassus, itu sudah 44 batalion. Tambah lagi belasan batalion dari Kodam Jaya dan Siliwangi. Saat itu, mungkin ada 70 lebih batalion yang akan ikut saya, kalau hal itu saya lakukan. Tapi, coba pikir. Kok saya tidak melakukan (hal itu).

Kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh tertembak matinya mahasiswa Universitas Trisakti. Anda sudah memprediksi situasi bakal bertambah gawat?

Begini, dalam anatomi kejatuhan suatu rezim, diperlukan martir. Bung Karno jatuh setelah banyak yang menjadi martir. Rezim yang berkuasa justru akan berusaha menghindari jatuhnya martir. Begitu terjadi insiden di Trisakti, saya langsung punya firasat keadaan bakal memuncak, dan akan menjadi the end of Soeharto's regime.
Pada 14 Mei 1998, di tengah gentingnya situasi, malah ada rencana serah-terima pasukan Kostrad di Malang.

Benar Anda minta Panglima ABRI Wiranto mengundurkan acara?

Ya, saat itu saya menghubungi dia beberapa kali. Memang tidak bertemu langsung, melalui telepon ke sekretarisnya. Tapi keputusan akhir tetap saja berangkat.

Sewaktu di Malang, apakah ada pembicaraan tentang kerusuhan Jakarta?

Saya tak tahu persis. Kalau tak salah, saat itu beliau menerima telepon dari Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Feisal Tanjung. Akhirnya kunjungan ke Malang dipercepat. Seharusnya kita pulang pukul 13.00, dipercepat sampai pukul 11.00.

Setelah tiba di Jakarta, apa yang Anda lakukan?

Saya langsung ke Markas Kostrad menggunakan helikopter. Dari udara saya sudah melihat banyak pembakaran. Di markas, Sjafrie (Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima Daerah Militer Jaya ketika itu—Red.) sudah datang. Dia mengajak saya naik heli untuk berkeliling. Baru setelah itu saya kembali ke Markas Skogar (Staf Komando Garnisun). Saat itu sudah sore. Saya memang ada janji bertemu Achmad Tirto Sudiro (Ketua Umum ICMI—Red.), di kantor ICMI dekat Departemen Agama. Saya lihat massa sudah ramai.

Lalu?

Setelah kembali dari kantor ICMI, saya lihat kawasan Thamrin kosong. Saya dengar dari orang-orang ICMI, sebentar lagi Sarinah dibakar. Saya pikir Thamrin ini jalan protokol. Kalau terbakar, sangat memalukan. Saya cepat kembali ke Skogar dan bertemu Sjafrie. Saya katakan, "Frie, Thamrin kosong. Saya dapat info sebentar lagi Sarinah mau dibakar." Sjafrie mengatakan, "Tunggu, saya bawa pasukan ke Thamrin." Saya lihat di depan Mabes ABRI dan Dephankam banyak panser. Nongkrong saja. Kalau tak salah ada 12 buah. Saya sarankan panser-panser itu dipakai patroli, agar di Sudirman-Thamrin tidak terjadi pembakaran lagi. Sjafrie ajak saya naik panser ke Thamrin untuk melihat situasi. Sjafrie memerintahkan panser-panser itu ikut dia.

Hari itu Anda juga bertemu sejumlah tokoh di Markas Kostrad. Apa yang dibicarakan?

Sore hari, dalam perjalanan pulang ke markas, saya mendapat info ada beberapa tokoh ingin bertemu, antara lain Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djody, dan W.S. Rendra. Saya bilang tunggu. Saya kembali ke markas, mereka sudah di sana. Pertemuan itu sangat terbuka. Saya mencoba memberi penjelasan tentang situasi. Tak ada yang aneh-aneh.

Apa maksud mereka menemui Anda?

Saya kira mereka ingin tahu apakah sikap saya berbeda dengan Pangab. Tegas saya katakan, ABRI tetap kompak dan patuh pada Pangab. Saya tahu ada usaha-usaha agar TNI pecah.

Wiranto turut hadir?

Tidak. Pangab hadir saat pertemuan di Skogar pada malam hari. Itu rapat unsur keamanan. Saya turut hadir.

Apa instruksi Pangab?

Pangab menanyakan ke Pangdam Jaya sebagai Pangkoops (Panglima Komando Operasi), "Apakah Anda masih bisa mengendalikan keadaan?" Sjafrie bilang masih. Akhirnya kembali ke soal teknis, misalnya soal pembagian sektor. Marinir pegang sektor selatan, Kostrad, Kopassus pegang yang lain.

Dari pengamatan Anda, kerusuhan waktu itu spontan atau terorganisasi?

Saya dapat laporan kerusuhan itu kok agak terorganisasi.

Apa indikasinya?

Saya dengar ada kelompok yang keliling dari toko ke toko. Ada yang menyiapkan bahan bakar, dan sebagainya. Tapi juga begini. Yang paling pokok, kalau tak ada penjagaan, pasti akan ada penjarahan.

Kenapa penjagaan Jakarta seperti mendadak kosong?

Saat itu saya tak punya wewenang komando atas pasukan. Saya tak begitu mengerti mengapa bisa begitu. Yang jelas, Sjafrie memberi tahu saya polisi telah menarik pasukannya sekitar 100 kompi.

Bukankah sejak 12 Mei Sjafrie sendiri yang menjadi Pangkoops?

Saya tak tahu persis kapan alih komandonya, tanggal 12 atau 14 Mei.

Soal kelompok terorganisasi. Anda pernah membina kelompok sipil yang lalu dilatih di Cibubur. Sebut saja perguruan silat Satria Muda Indonesia (SMI). Ada informasi pada 13-14 Mei itu SMI membuka pos komando di Hotel Century Park di kamar 602.

Soal SMI itu begini. Konsep pengamanan swakarsa dan rakyat terlatih itu untuk membantu aparat keamanan. Doktrin kita Hankamrata (pertahanan dan keamanan rakyat semesta—Red.). Kita selalu berusaha melatih unsur rakyat membantu tentara. Sebagai pembina SMI, saya memanfaatkan potensi ini. Jadi, jangan di balik, pasukan ini yang menimbulkan kerusuhan. Mana buktinya?

Mereka pernah dikerahkan?

Itu kan dalam rangka Sidang Umum MPR 1998. Begitu selesai, sudah tak ada lagi.

Posko mereka selalu berkomunikasi dengan Anda?

Ha-ha-ha.... Mungkin satu-dua orang sering kontak dengan saya. Tapi, kalau posko, tidak ada itu. Saat itu kan juga banyak posko lain. Kalau SMI dituduh digunakan untuk kerusuhan, menurut saya itu sangat gila.

Apa persisnya bunyi keputusan Dewan Kehormatan Perwira yang memberhentikan Anda?

Saya dipensiun dini. Waktu itu saya diminta bertanggung jawab atas kasus penculikan yang dilakukan Tim Mawar.

Tak termasuk kasus Mei?

Tidak. Tak ada itu.

Soal surat perintah Soeharto ke Wiranto, Anda tahu isinya?

Saya tak tahu. Saya dengar memang ada hal seperti itu. Waktu itu Soeharto kan punya Ketetapan Khusus MPR yang bisa dijadikan senjata pamungkas untuk mengambil tindakan pemulihan keamanan dan sebagainya.

Benar semacam Supersemar?

Ya, kira-kira begitulah. Tapi saya sendiri tak tahu persisnya. Pak Harto tak pernah mengajak saya bicara tentang hal itu.

Komnas HAM sedang menyelidiki kembali kerusuhan Mei. Kalau dipanggil, Anda bersedia datang?

Kalau dipanggil, saya akan datang. Kenapa tidak? Sewaktu Tim Gabungan Pencari Fakta dulu, saya juga datang, kan? Mudah-mudahan pemeriksaan itu rasional dan adil. Tak ada agenda tersembunyi. Dulu tuduhan ke saya sangat kejam: saya yang membakar Ibu Kota, memerintahkan anak buah memperkosa wanita Cina di jalan.

Soal pemerkosaan, kami menemukan indikasi kuat sejumlah orang memang telah menjadi korban. Bagaimana?

Ya, harus diteliti. Tapi, kalau ada insinuasi diarahkan ke TNI, saya kira sangat kejam.

Kalau bukan TNI, lalu siapa?

Maksud saya begini. Saya tak bisa membayangkan ada seorang pejabat militer mendalangi hal seperti itu.
Ada yang meyakini dalang itu salah satunya adalah Anda sendiri.

Saya yakin kebenaran akan muncul. Di mana-mana saya masih dihormati dan diterima. Saya sudah menerima banyak tudingan. Saya pernah dituding berada di balik pengeboman gereja. Padahal, ibu saya Kristen. Keluarga saya banyak yang Kristen. Ya, saya bantah. Saya bikin konferensi pers karena sudah kelewatan.

Lalu kenapa soal kerusuhan Mei Anda tak membela diri?

Tuduhan seperti itu tak perlu saya jawab. Kalau ada orang waras percaya, saya sangat sedih. Tapi, dalam politik kan selalu begitu. Ada kambing hitam. Saya bukan membela Sjafrie, Wiranto, atau yang lain. Saya mengerti, sesuatu sudah terjadi dan lalu ditagih tanggung jawab formalnya. Padahal, bisa jadi itu bagian dari permainan yang lebih besar. Kadang kita tak sadar menjadi pion.

Anda mau bilang ada kekuasaan asing turut bermain?

Sekali lagi, ini bagian dari skenario pergantian rezim, seperti yang terjadi di Venezuela atau Irak. Politik antarbangsa memang ada konspirasi. Coba baca dokumen soal PRRI dan peristiwa 1965. Mungkin 30 tahun lagi kita bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Mei 1998.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data