Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXXII/19 - 25 Mei 2003
   
Investigasi

Lie A. Dharmawan: "Ada yang Telah Melahirkan Bayinya"

SOSOK itu menyimpan kisah salah satu tragedi paling memilukan di negeri ini: pemerkosaan Mei 1998. Dialah Dr. Med. Lie A. Dharmawan. Tak banyak diketahui, dokter spesialis bedah toraks-jantung lulusan Freie Universitet, Jerman, ini merupakan salah satu saksi penting dari prahara itu.

Sebagai keoordinator dokter di Tim Relawan untuk Kemanusiaan, lima tahun silam ia turun ke lapangan menolong korban yang dilalap amuk massa. Lie memang menggandrungi kegiatan sosial. Dan dokter ramah kelahiran Padang, 16 April 1946, ini meyakini beberapa di antaranya merupakan korban pemerkosaan. Setelah memendamnya selama lima tahun, ia pun mengungkap kesaksiannya kepada Karaniya Dharmasaputra dan Iwan Setiawan dari TEMPO. Petikannya:

Benar Anda pernah merawat korban pemerkosaan Mei 1998?

Saya memang pernah bertemu dan merawat beberapa korban. Salah satunya seorang perempuan berusia 26 tahun. Ia terluka parah karena nekat melompat dari lantai empat sebuah rumah-toko di Jakarta untuk menyelamatkan diri. Untung, ia masih bisa diselamatkan. Tulang pinggulnya hancur, gigi depannya rontok, rahangnya juga patah. Kini dia menetap di Singapura.

Apa bukti dia telah diperkosa?

Terus terang, kalau bukti memang sulit. Soalnya, untuk membuktikannya secara medis harus dilihat adanya sperma pada kemaluan korban. Sedangkan saya baru bertemu dengan korban dua-tiga hari setelah kejadian. Jelas sperma sudah hilang. Selain itu, korban masih dalam keadaan syok berat. Tapi, berdasarkan cerita pendamping korban, dan pengamatan saya selama merawatnya, saya tahu dia sempat diperkosa sebelum melompat. Dari pengakuan saksi-saksi, sebelumnya segerombolan orang masuk ke rukonya dan mengejar dia sambil berteriak-teriak, "Perkosa, perkosa!"

Bagaimana dengan korban lain?

Saya pernah merawat satu korban lain. Umurnya 30 tahun lebih. Wajahnya cantik. Saat ditemukan, ia nyaris bugil, sedang ditarik-tarik empat lelaki di di daerah Sunter, 14 Mei sore.

Hasil pemeriksaan Anda?

Dari pemeriksaan fisik yang saya lakukan, ia mengalami luka memar akibat benda tumpul di pangkal paha, dada, dan muka. Sampai beberapa hari setelah dirawat, vaginanya masih mengalami perdarahan. Di celana dalamnya terdapat bercak darah. Kepada pendampingnya, dia sering mengeluh sakit di daerah perut bagian bawah sampai sekitar pangkal paha. Saat mengatakan itu, ia selalu menutup bagian kemaluannya dengan tangan.

Bagaimana keadaan psikisnya?

Sangat labil. Ia menangis sepanjang hari. Dari psikiater yang merawatnya, saya tahu korban punya trauma yang besar terhadap laki-laki. Tiap kali ada pria yang mendekat, ia ketakutan, atau malah jadi sangat agresif. Matanya nanar dan ia berteriak-teriak, seperti menyimpan kemarahan yang besar terhadap laki-laki. Sampai saat ini, ia masih mengalami gangguan jiwa.

Jadi, Anda yakin pemerkosaan Mei memang benar terjadi?

Semula, saat kejadian Mei pertama kali meletus, saya sama sekali tak pernah berpikir terjadi pemerkosaan. Saya pikir paling penjarahan dan pembakaran toko. Tapi, setelah saya secara diam-diam dihubungi beberapa pendamping dan keluarga korban, dan saya langsung merawat dan melihat sendiri kondisi beberapa korban, saya yakin pemerkosaan itu memang ada.

Menurut Anda, pemerkosaan itu terorganisasi atau kebetulan saja?

Saat itu saya menjadi relawan di Kalyanamitra. Saya bertemu dengan beberapa relawan yang juga mendampingi korban. Dari berbagi pengalaman dan diskusi, kami melihat ada pola yang sama. Pada umumnya korban adalah perempuan yang memiliki ciri-ciri fisik etnis Tionghoa: berkulit putih dan bermata sipit. Lokasinya selalu di kawasan tempat banyak keturunan Tionghoa tinggal, misalnya di Sunter, Kota, dan Pantai Indah Kapuk. Pelakunya pun rata-rata selalu lebih dari satu. Karena itu, kami yakin pemerkosaan Mei adalah upaya terorganisasi.

Saat menangani korban, Anda pernah menerima teror?

Selama enam bulan, malam-malam saya sering menerima telepon gelap. Nadanya mengancam, "Dokter, sekarang enak ya orang bisa ngomong semaunya. Cina seperti Anda juga bebas memaki-maki pemerintah. Hati-hati, Dok, saya punya sekian ribu preman. Nanti saya kirim cendera mata. Makanya, anak Anda masukkan saja ke Akabri supaya bisa melindungi Dokter sekeluarga."

Bagaimana keadaan para korban sekarang?

Beberapa sudah hilang kontak karena ke luar negeri, ke Australia, Singapura, Taiwan, Singapura, dan lainnya. Kebanyakan telah menggugurkan kandungannya. Kalau tidak salah ingat, dua di antaranya minta bantuan saya, lalu saya membuat rekomendasi ke dokter kandungan yang bersedia membantu. Tapi ada juga yang memilih melahirkan bayinya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data